Jagad Bumi Gojang-ganjing, Lesbumi Majenang Gelar Wayang Kulit, Ruwatan Bencana

KARANGPUCUNG, NU Cilacap Online – Serangkaian bencana yang belakangan terjadi di jagad bumi Indonesia, mulai dari bencara longsor dan banjir di Cilacap, Banjarnegara, Sumatra Utara hingga Aceh hal itu mendorong Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Majenang menggelar tradisi ruwatan bencana pada Kamis malam atau malam Jumat, 27 November 2025.
Ruwatan bencana diwujudkan melalui pagelaran wayang kulit atau wayang ruwat di lapangan Candi Wulan Dusun Ciampel, Desa Tayem Timur, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap.
Baca juga: Lesbumi NU Majenang Gelar Pertunjukan Seni Budaya Wayang Kulit, Ruwatan Bencana
Ketua Lesbumi Majenang, Imam Hamidi Antassalam (Gus IHA) mengungkapkan ruwatan bencana menjadi tradisi adat budaya masyarakat Majenang Raya khususnya yang memuat beragam nilai, baik nilai edukasi, nilai sosial, maupun spiritual.
Melalui ruwatan bencana, masyarakat dapat mengungkapkan rasa syukur, permohonan, dan pengharapan kepada kekuatan yang lebih tinggi, Tuhan Semesta Alam.
Ruwatan bencana juga menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana yang dilakukan secara turun-temurun untuk melindungi wilayahnya.
Baca juga: Ketua NU Cilacap Berikan Apresiasi, Himbauan Shalat Ghaib Korban Bencana Longsor
Disampaikan Gus IHA, kegiatan itu tergerak dari serangkaian bencana yang belakangan melanda jagad bumi Indonesia. Sebut saja. tanah longsor Cibeunying, Majenang, bencana banjir di sejumlah wilayah desa di Kecamatan Wanareja kemudian Banjarnegara, Sumatra Utara hingga Aceh.
“Dari bencana ke bencana, dari kejadian ke kejadian, kemudian mendorong kami untuk menggelar tradisi ruwatan bencana, dalam rangka meruwat jagad dari bencana,” tuturnya.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an, santunan anak yatim piatu beserta ortu lansia dan jompo, lalu tawasul doa bersama, berikut permohonan selamat kepada Yang Maha Kuasa. Itu dilakukan melalui pendekatan budaya, dan pendekatan spritual melalui iringan dzikir, seruan istighfar hingga lantunan shalawat.
Kemudian beranjak ke puncak acara berupa pementasan wayang ruwat. Sebuah simbol upaya membersihkan diri dari mara bahaya.
“Ruwatan bencana mengingatkan kita akan kekuatan alam dan semesta yang lebih besar dari diri kita,” tambahnya.
Ia pun berharap, kegiatan tersebut dapat membawa ketenteraman, keberkahan, serta terhindar dari petaka dan bahaya.
Menurutnya terkait keributan konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) antara Pengurus Syuriyah dan Pengurus Tanfidziyah yang bikin gaduh dan gonjang-ganjing warga Nahdiyin seluruh dunia itu juga perlu diruwat.
Baca juga: Syuriyah PBNU: Gus Yahya Tidak Lagi Ketua Umum Sejak 26 November 2025
Baca juga: Ketua PBNU: Syuriyah Tak Bisa Copot Gus Yahya
Adapun pementasan wayang menghadirkan Ki Sikin Hadi Warsono (67) dalang ruwat asal Cinyawang, Patimuan, Cilacap.
Dalam ruwatan berupa pentas wayang, Ki Dalang Sikin menampilkan lakon Ruwat Ditya Karungkala – Ngilangna Dur Angkara dengan menghadirkan tokoh Bima sebagai simbol kekuatan penumpas angkara murka.
Sebagaimana dituturkan Ki Dalang Sikin Hadi Warsono, ruwatan bencana dengan media pentas wayang kulit tidak hanya tontonan, tetapi tuntunan sebagai sarana mendorong dan meningkatkan kesadaran perihal pentingnya umat manusia menjaga bumi dari potensi bencana.
Di sisi lain, ruwatan bencana tahun ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat luas.
Ribuan warga dari wilayah Kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu hingga Karangpucung, atau sering dikenal Dawamancung, memadati lapangan tempat acara berlangsung.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari refleksi Hari Santri Nasional 2025, sekaligus turut menyemarakkan Hari Jadi ke-30 Desa Tayem Timur.
Kepala Desa Tayem Timur, Darsono Badilah mengungkapkan kebahagiaannya atas tingginya antusias warga.
Ia berharap Tayem Timur selalu dijaga dari bencana dan diberikan segala kebaikan dan kemajuan ke depannya.
Acara turut dihadiri Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng, Camat Karangpucung Asep Kuncoro, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cilacap Ahmad Fathoni dan pihak terkait.
Anggota DPRD Cilacap dari Karangpucung, H Ahmad dan Nike Yunita juga tampak hadir dan menyaksikan acara tersebut.
Baca juga: LESBUMI, Modernisasi Tak Harus Tinggalkan Tradisi
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng, Sarif Abdillah memberikan apresiasi terselenggaranya ruwatan tersebut.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana memperkuat kebersamaan dan ikatan sosial masyarakat, serta dijauhkan dari potensi bencana.
Sarif Abdillah menegaskan, Pemprov Jateng akan terus berkomitmen dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya, agar tercipta kehidupan masyarakat yang senantiasa harmonis.
Pagelaran seni budaya wayang kulit dalam rangka ruwatan bencana yang diselenggarakan oleh Lesbumi Majenang bisa kembali disimak melalui channel LesbumiTV Majenang. (IHA).





