Antologi NU

Sejarah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, LDNU

Sejarah LDNU, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama. Seperti apa sejarah lembaga NU yang memiliki tugas mengembangkan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah itu?

Seluruh lembaga dan badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) berfungsi untuk dakwah Islam dan khidmah kepada umat. Dalam sejarah, NU sendiri bertujuan untuk hal tersebut karena didirikan oleh para ulama pesantren yang menghabiskan usianya dalam berdakwah. Demikian pernah dinyatakan oleh Almarhum KH Ghozali Masroeri, salah seorang tokoh sepuh NU yang pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Berdasarkan AD/ART NU yang mendapat pengesahan dari Hindia Belanda pada 1930, secara tersurat, tujuan NU berdiri adalah: Adapoen maksoed perkoempoelan ini jaitoe: ”memegang dengan tegoeh pada salah satoe dari madzhabnja Imam ampat, jaitoe Imam Moehammad bin Idris Asj-Sjafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Aboehanifah An-Noe’man, atau Imam Ahmad bin Hambal, dan mengerdjakan apa sadja jang mendjadikan kemaslahatan Agama Islam.

Berdasarkan pendapat Kiai Ghozali di awal, dengan demikian, dakwah NU adalah mengupayakan segenap perangkatnya untuk tujuan Islam Ahlussunah wal Jamaah. Namun, secara kelembagaan, NU merasa perlu untuk membentuk lembaga sendiri di bidang tersebut, maka terbentuklah lembaga yang kini disebut Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama atau LDNU.

Baca Juga : LAZISNU-PCLDNU Cilacap Bersinergi Gelar Pendidikan Dai LDNU

Tugas LDNU adalah melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan agama Islam yang menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah. Sementara menurut Ensiklopedia NU, lembaga tersebut di antara tugasnya adalah mengkoordinasikan para dai dan daiyah dalam menjalankan dakwah kepada masyarakat baik secara tulisan maupun lisan hingga ke masyarakat terpencil.

Sejak Kapan LDNU Berdiri?

Lalu sejak kapan LDNU tersebut eksis? Di dalam Ensiklopedia NU, tidak disebutkan tanggal dan tahun kapan LDNU tersebut dibentuk. Ensiklopedia itu hanya menyebutkan beberapa kiai yang pernah menjadi Ketua LDNU, yaitu KH Saifuddin Zuhri, KH Ahmad Ghozali, KH Syukron Makmun, KH Nuril Huda, KH Zakky Mubarok. Selanjutnya, KH Manarul Hidayat, KH Maman Imanulhaq Faqih, dan KH Agus Salim.

Berdasarkan data ensiklopedia tersebut, dengan menyebut paling awal KH Saifuddin Zuhri, berarti aktivitas atau cikal bakal sejarah Lembaga Dakwah NU tersebut telah dimulai pada akhir masa penjajahan Belanda atau antara tahun 1930 hingga 1940-an. Bisa jadi pula beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.

KH Saifudin Zuhri Tokok Peletak Dasar Sejarah Lembaga Dakwah NU
KH Saifuddin Zuhri (Duduk Berdasi), Menteri Agama kurun 1961-1964, Ulama asal Banyumas Jawa Tengah, Penulis Buku Guruku Orang-orang dari Pesantren (Foto: Dok. Kemenag DIY)

Berdasarkan buku Guruku Orang-orang dari Pesantren, cikal-bakal Lembaga Dakwah NU, bisa dipastikan dimulai pada beberapa tahun NU berdiri. Di dalam buku tersebut, KH Saifuddin Zuhri, Ulama asal Banyumas Jawa Tengah tersebut mengatakan:  Kami tergabung dalam ikatan mubaligh, namanya Nashihin, yaitu setelah di kampungku berdiri Nahdlatul Ulama. Tiap malam Selasa para mubaligh dibagi untuk mengunjungi beberapa desa. Kiai Khalimi tidak ketinggalan. Kami membuat kelompok, masing-masing 2 atau 3 orang mubaligh.

Tokoh lain yang merupakan “produk” dari didikan dakwah NU adalah KH Zainul Arifin, panglima Hizbullah kelahiran Barus, Sumatera Utara. Namun, ia memulai dari pengkaderan dakwah melalui salah satu badan otonom NU, yaitu Gerakan Pemuda Ansor (dulu disebut Ansor Nahdlatoel Oelama, ANO). Kemudian di samping kemampuannya sendiri, ia menjadi seorang yang dikenal sebagai aktivis NU, berdakwah untuk daerah Batavia dan Jawa Barat. Kelak ia kemudian menjadi Wakil Perdana Menteri pada masa pemerintahan Soekarno.

Berdasarkan Guruku Orang-orang dari Pesantren, lembaga dakwah NU pada mulanya disebut Nashihin, para penasihat atau orang-orang yang memberikan nasihat agama. Maksudnya adalah para dai yang dikenal sekarang. Hal yang terkait nashihin tersebut, pernah dibentuk pada muktamar NU ketiga di Surabaya pada 1928.

Pada muktamar tersebut, untuk mempercepat dan memperkuat dakwah Ahlussunah wal Jamaah, para kiai memutuskan untuk membentuk Majelis Khamis atau Komisi Lima. Komisi yang dipimpin Kiai Shaleh Banyuwangi tersebut beranggota Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi Kudus dan Kiai Muharram Kediri.

Berdasarkan buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya Choirul Anam, majelis itu memutuskan membentuk Lajnatun Nashihin, semacam komisi propaganda untuk menyiarkan NU ke berbagai daerah. Anggota Lajnatun Nashihin ini terdiri dari sembilan orang KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, KH Raden Asnawi, KH Ma’shum, KH Mas Alwi, KH Musta’in, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abdul Halim Leuwimunding dan KH Abdullah Ubaid.

Sementara M. Rikza Chamami, mengutip pendapat KH Maimoen Zubair yang menyatakan demikian: “Jam’iyyah Nashihin ini adalah sebuah organisasi yang ada kaitannya dengan masalah pengajian. Dahulu namanya nasehat. Kalau sekarang namanya diganti menjadi pengajian”. Bahkan, embrio Jam’iyyatun Nashihin sudah ada sebelum NU berdiri. Ia kemudian mengutip pendapatnya Amirul Ulum (2014) yang menyebutkan, di Jawa Tengah, sesepuh Jam’iyyatun Nashihin adalah KHR Asnawi Kudus, KH Ma’shum Ahmad dan KH Khalil Masyhuri dibantu dengan ulama muda, KH Zubair Dahlan (ayah KH Maimun Zubair).

Pada tahun 1991, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam satu artikelnya mengatakan, pada tahun 2010, NU mengalami transformasi keempat, yaitu teknologi informasi. Apa yang dikatakan Gus Dur tersebut, tepat adanya. Sejak tahun itulah media sosial merebak. Dan sebagaimana yang dikatakan Gus Dur pula, jangan sampai NU gagal seperti transformasi ekonomi yang digalakannya pada transformasi ketiga.

Jika dikaitkan dengan pendapat Gus Dur tersebut, Lembaga Dakwah NU, mau tidak mau harus memanfaatkan teknologi informasi. Dakwah melalui video yang disebarkan melalui media sosial menjadi keniscayaan. Namun demikian, dakwah konvensional pun tetap berjalan.

Di tingkatan pusat, Lembaga Dakwah PBNU rutin mengadakan pengkaderan dai. Tiap bulan lembaga tersebut mengadakan pengajian umum di halaman PBNU yang dimulai dengan tahlil, istighotsah, shalawat, dan ceramah umum. (Abdullah Alawi)

Demikian sekelumit Sejarah Lembaga Dakwah NU. Semoga bisa menambah referensi tentang ke-NU-an untuk kita semua, termasuk aktifis LDNU Cilacap, para Ulama, Kyai, Santri, Pengurus NU lembaga dan Badan Otonom NU.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

twelve + four =

Back to top button