Jejak Ulama

Ulama Pewaris Nabi Dalam Hal Iman, Ilmu, Amal dan Akhlak

Ulama adalah pewaris Nabi dalam hal iman, ilmu, amal dan akhlak. Nabi melakukan tabligh dan ta’lim kepada umat. Begitu pula ulama. Nabi adalah pembela dan pengayom umat (murobbi). Begitu pula ulama.

Siapa itu Ulama? Siapa seseorang yang tepat, patut, layak dan menyandang gelar Ulama. Seseorang yang mendapatkan gelar ulama yang didampingi sifat khauf (takut Allah) serta mengagungkan-Nya. Atau ulama itu adalah yang tahu kedudukan Allah.  “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Surat Fathir: 28)

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar berpendapat: Maksud Ulama dalam ayat ‘innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama’ yang artinya sungguh yang takut kepada Allah, di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.

Maksud ayat itu adalah batasan antara ulama dan pakar ilmu. Sehingga sangat mungkin ada seseorang yang disebut ulama oleh masyarakat tapi bukan ulama hakikatnya. Karena tidak memiliki sifat takut kepada Allah.

Ada orang yang memiliki gelar akademik cukup banyak atau pakar ilmu tapi tidak bisa dikatakan ulama. Dalam kehidupan sehari-hari, ulama adalah orang yang memiliki ilmu luas dan memiliki ketakwaan pada Allah.

Sifat dan perangai Takut Ini membatasi bahwa ulama itu adalah orang yang takut kepada Allah. Jika tidak memiliki sifat ini maka tidak bisa dikatakan ulama. Ulama asal katanya sama dengan ilmu. Ada orang yang gelar akademiknya banyak tapi tidak bisa dikatakan ulama, bisanya dikatakan ulama secara majaz.

Syekh Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari tentang maksud kata yakhsyallaha. Pendapat tersebut bahwa yakhsyallaha itu adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang menyinari hati dan membuka sesuatu yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Ilmu bermanfaat itu menghasilkan buah dan kemanfaatan. Imam Ibnu Askandari menerjemahkan yakhsaallah adalah ilmu yang bermanfaat. Sifat ilmu ini tetap dan tidak berubah.

Sekali lagi, Ulama adalah pewaris Nabi dalam hal iman, ilmu, amal dan akhlak, Nabi melakukan tabligh dan ta’lim kepada umat, Nabi adalah pembela pengayom umat (murobbi).

Ulama, Ahli Dzikir

Penyematan gelar ulama tidak dapat dilakukan secara srampangan, semena-mena, tanpa ajar dan dasar, apalagi hanya untuk kepentingan politik praktis. Nabi Muhammad SAW menyebutkan, al-‘ulama waratsatul anbiya’, ulama merupakan pewaris para Nabi. Warisan Nabi tidak hanya ilmu agama, tetapi juga keistimewaan dan akhlak mulia terhadap sesama makhluk Allah di muka bumi.

Seperti dikutip Fatoni Ahmad (2018), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam bukunya Secercah Tinta (2014) menjelaskan tentang siapakah ahli dzikir itu. Ia menyatakan bahwa ahli dzikir adalah para wali dan para ulama yang dalam hatinya terdapat rasa takut (khasyyah) kepada Allah SWT. Dalam QS Al-Anbiya ayat 7 disebutkan bahwa ahli dzikir ialah orang-orang berilmu. Namun, perlu dipahami bahwa ahli dzikir bukan sekadar orang yang pintar. Itu artinya semua orang pintar bukan berarti ahli dzikir. Dengan kata lain, semua orang pintar tidak bisa dikatakan sebagai ulama.

Istilah ulama sendiri merujuk kepada seseorang yang mumpuni dalam bidang ilmu agama, berakhlak baik, menjadi teladan hidup bagi masyarakat, dan sifat-sifat mulia lainnya. Ulama senantiasa mengisi sendi-sendi kehidupan dengan laku positif yang berdampak kebaikan secara luas.

Keberadaan ulama, termasuk Ulama-Ulama Nahdlatul Ulama (NU), mendatangkan rahmat, bukan laknat. Dakwahnya juga merangkul, bukan memukul, mengajak bukan mengejek. Habib Luthfi dalam buku yang sama menyebutkan hadits Riwayat Ad-Dailami dari Anas r.a, Rasulullah SAW bersabda: ittabi’ul ulama’a fainnahum suruuhud dunyaa wamashaa biihul akhirah. “Ikutilah para ulama karena sesungguhnya mereka adalah pelita-pelita dunia dan lampu-lampu akhirat.” (HR Ad-Dailami)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eight + six =

Back to top button