Antologi NU

Musran NU Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama

Musran NU adalah singkatan dari Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama (NU) sedangkan Ranting sendiri adalah struktur organisasi NU di tingkat Desa atau Kelurahan dengan ketentuan yang sudah ditetapkan.

Istilah Ranting tidak hanya dikenal di lingkungan organisasi NU. Beberapa organisasi juga menggunakan nama Ranting untuk menyebut struktur organisasinya seperti organisasi gerakan Pramuka, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), hingga Partai Politik seperti PKB dan PDIP. Permusyawratan mereka juga menggunakan istilah Musran, Musyawarah Ranting.

Apa Itu Musran NU ?

Apa yang dimaksud Musran NU? Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama adalah forum permusyawaratan tertinggi di struktur organisasi Pengurus Ranting NU yang memiliki tugas dan wewenang untuk; memilih Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Ranting NU, melaksanakan persidangan guna membahas dan menetapkan program kerja, menetapkan Tim Formatur untuk penyusunan struktur Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU).

Berapa tahun sekali Musran NU dilaksanakan? Musran NU Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali sesuai dengan masa khidmat (periode, red.) kepengurusan. Musran juga dilaksanakan atas alasan telah habisnya masa khidmat Pengurus Ranting NU.

Siapa saja peserta Musran NU? Musran NU Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama diikuti oleh peserta dari Pengurus Ranting NU setempat dan diikuti oleh Pengurus Anak Ranting NU (jika sudah terbentuk). Jika belum terbentuk, maka Musran diikuti hanya oleh Pengurus Ranting dan oleh Undangan yang ditetapkan Panitia Musran?

Apa Tugas Panitia Musran NU? Panitia Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama bertugas menyiapkan seluruh kebutuhan (dan kegiatan) yang berhubungan dengan pelaksanaan Musyawarah; dari perlengkapan tempat penyelenggaraan hingga urusan akomodasi bagi peserta. Panitia Musran NU ditetapkan oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama setempat dan bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kepanitiaan.

Ketentuan Musran NU

Pasal 45 Anggaran Rumah Tangga NU mengatur tentang Ketentuan Musran NU Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama, di mana Pemilihan dan penetapan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama sebagai berikut:

  1. Rais dipilih secara langsung melalui Musyawarah mufakat dengan sistem ahlul halli wal ‘aqdi.
  2. Ahlul halli wal ‘aqdi terdiri dari 5 orang ulama yang dipilih secara langsung oleh Musyawarah Ranting.
  3. Kriteria ulama yang dipilih menjadi ahlul halli wal ’aqdi adalah sebagai berikut: beraqidah ahlu’ssunnah wa al-jama’ah al-nahdiyah, bersikap adil, ‘alim, memiliki integritas moral, tawadlu’, berpengaruh dan memiliki pengetahuan untuk memilih pemimpin yang munadzdzim dan muharrik serta wara’ dan zuhud.

Ketua dipilih secara langsung melalui Musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Musyawarah Ranting dengan terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya secara lisan atau tertulis dan mendapat persetujuan dari Rais terpilih.

Rais dan Ketua terpilih bertugas melengkapi susunan Pengurus Harian Syuriyah dan Tanfidziyah dengan dibantu oleh beberapa anggota mede formatur yang dipilih dari dan oleh peserta Musyawarah.

Musran Forum Tertinggi

Sementara itu, ketentuan Musran NU juga di atur dalam Pasal 83, di mana; Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama adalah forum permusyawaratan tertinggi untuk tingkat Ranting; dan Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama membicarakan dan menetapkan:

  1. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) yang disampaikan secara tertulis
  2. Pokok-Pokok Program Kerja 5 (lima) tahun merujuk kepada Poko-Pokok Program Kerja Pengurus Cabang dan Majelis Wakil Cabang.
  3. Hukum atas masalah keagamaan dan kemasyarakatan.
  4. Rekomendasi Organisasi
  5. Ahlul Halli Wal Aqdi
  6. Memilih Ketua Pengurus Ranting NU

Peserta Musran NU

Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama sekali dalam 5 (lima) tahun. Peserta Musyawarah Ranting terdiri dari:

1.Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama; baik unsur Syuriyah maupun unsur Tanfidziyah. Pimpinan Ranting Badan Otonom NU dapat menjadi peserta Musran NU sebagai Peserta Peninjau.

2.Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama (PARNU); yang berada di wilayah khidmat pengurus ranting NU setempat..

Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Pengurus Anak Ranting NU di daerahnya.

Demikian penjelasan singkat tentang istilah Musran NU (Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama); sebuah istilah ke-NU-an yang harus jadi pedoman oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button