Pengurus Ranting NU

Pengurus Ranting NU adalah istilah dalam struktur organisasi NU, disingkat dengan PRNU. Ranting NU berkedudukan di Desa / Kelurahan, memiliki bagan struktur, mekanisme musyawarah dan program serta kegiatan.

SK Ranting NU, diterbitkan oleh Pengurus Cabang NU disertai rekomendasi dari Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) setempat.

Ranting NU memiliki jenjang periodisasi yang disebut dengan Masa Khidmah. Masa Khidmah Pengurus Ranting NU adalah 5 (lima) tahun. Selama 5 (lima) tahun itulah, pengurus ranting NU melaksanakan program dan kegiatan-kegiatannya.

Mekanisme permusyawaratan Ranting NU tertinggi disebut dengan Musyawarah Ranting, dan setingkat di bawahnya disebut Musyawarah Kerja Ranting. Keduanya berbeda dari segi maksud dan tujuan pelaksanaannya.

Musyawarah Ranting adalah forum permusyawaratan tertinggi untuk tingkat Ranting. Musyawarah Ranting NU membicarakan dan menetapkan sekurang-kurangnya 6 (enam) aspek berikut ini:

  1. Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama yang disampaikan secara tertulis
  2. Pokok-Pokok Program Kerja 5 (lima) tahun merujuk kepada Pokok-Pokok Program Kerja Pengurus Cabang dan Majelis Wakil Cabang.
  3. Hukum atas masalah keagamaan dan kemasyarakatan.
  4. Rekomendasi Organisasi
  5. Ahlul Halli Wal Aqdi
  6. Memilih Ketua Pengurus Ranting

Musyawarah Ranting dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama sekali dalam 5 (lima) tahun. Dihadiri oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama dan Pengurus Anak Ranting NU. Musyawarah Ranting sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Anak Ranting di daerahnya.

Sementara itu, Musyawarah Kerja Ranting merupakan forum permusyawaratan tertinggi setelah Musyawarah Ranting yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Ranting.

Tugas Musyawarah Kerja Ranting membicarakan pelaksanaan keputusan-keputusan Musyawarah Ranting dan mengkaji perkembangan organisasi serta peranannya di tengah masyarakat.

Musyawarah Kerja Ranting dihadiri oleh anggota Pengurus  Ranting Pleno dan utusan Pengurus Anak Ranting, dan diadakan sekurang-kurangnya 4 (empat) kali dalam masa jabatan pengurus Ranting. Dalam Musyawarah Kerja Ranting, tidak dapat melakukan pemilihan Pengurus.

Struktur organisasi Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) terdiri atas: Pengurus Ranting Harian Syuriyah, Pengurus Ranting Lengkap Syuriyah, Pengurus Ranting Harian Tanfidziyah, Pengurus Ranting Lengkap Tanfidziyah dan Pengurus Ranting Pleno.

Pengurus Harian Syuriyah terdiri dari Rais, beberapa Wakil Rais, Katib dan beberapa Wakil Katib. Pengurus Lengkap Syuriyah terdiri dari Pengurus Harian Syuriyah dan A’wan. Sementara itu, Pengurus Harian Tanfidziyah terdiri dari Ketua, beberapa Wakil Ketua, Sekretaris, beberapa Wakil Sekretaris, Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara.

Pengurus Ranting Pleno itu sendiri terdiri dari pengurus Lengkap Syuriyah, pengurus Harian Tanfidziyah dan Ketua Badan Otonom tingkat ranting NU

Pengurus Ranting NU menyampaikan laporan perkembangan organisasi secara berkala kepada: Pengurus Cabang NU dan Pengurus Majelis Wakil Cabang NU dan kepada Musyawarah Kerja Ranting dan Rapat Pleno. Laporan tersebut biasanya disebut sebagai Laporan Pertanggungjawaban.

Di Kabupaten Cilacap, tidak kurang dari 284 Ranting NU yang tersebar di seluruh wilayah MWCNU di Cilacap

About admin

Admin Utama Situs Islam Aswaja: menghadirkan aktivitas Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap --juga Organisasi di tingkat bawahnya, termasuk Lembaga dan Badan Otonom NU-- secara Online. Salam Perjuangan untuk Pengkhidmatan yang Berkelanjutan. Terima kasih atas kunjungan Anda semuanya. Dan silahkan datang kembali.

Check Also

Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) Dipakai dalam Pemilihan Rais Aam

Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) Dipakai dalam Pemilihan Rais Aam

Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) atau musyawarah mufakat akan dipakai dalam pemilihan Rais Aam dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published.