Muhadharah Ammah Tebuireng: Teguhkan Solidaritas NU-Palestina

Jombang, NUCOM — Pondok Pesantren Tebuireng kembali menjadi panggung sejarah. Pada Ahad, (27/9/2026) kemarin, Pesantren yang didirikan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pada 1899 itu menjadi ruang perjumpaan istimewa antara Nahdlatul Ulama, duta bangsa, dan penjaga Al-Aqsa. Kegiatan yang bertajuk Muhadharh Ammah tersebut menjadi forum teguhkan hubungan solidaritas NU-Palestina.
Muhadharah Ammah di Tebuireng
Acara Muhadharah Ammah atau Ceramah Umum tersebut menghadirkan tiga tamu kehormatan Palestina yakni Duta Besar Palestina untuk RI H.E. Abdulfattah A.K. Al-Sattari, Imam Besar Masjid Al-Aqsa H.E. Sheikh Mohammad A.M. Hussein, dan Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan H.E. Dr. Mahmoud S.A. Al-Habbash.
Mereka disambut langsung oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).
Rangkaian acara diawali pertemuan hangat di Ndalem Kasepuhan, ziarah ke Maqbaroh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, lalu sarasehan dan dialog keilmuan yang mempertemukan nurani Indonesia dan Palestina.

Solidaritas Lebih Tua dari Kemerdekaan
Gus Kikin menegaskan, hubungan Indonesia-Palestina bukan hubungan diplomasi baru. Ia berakar dari doa dan perjuangan para ulama.
“Solidaritas untuk Palestina bukan hal baru bagi Tebuireng dan Nahdlatul Ulama. Hadratussyaikh telah meneladankannya sejak awal perjuangan,” ujar Gus Kikin.
Gus Kikin mengutarakan, KH Hasyim Asy’ari telah menyuarakan dukungan untuk kemerdekaan Palestina sejak 1938, jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan setelah Syekh Nawawi Al-Bantani wafat, Mbah Hasyim bersama sahabat-sahabatnya dari Mesir, Malaysia, dan Palestina berkumpul di depan Multazam, Makkah, untuk berikrar memerdekakan negeri masing-masing.
Tradisi Baca Qunut Nazilah dalam Shalat
Jejak itu hidup hingga hari ini. Di Masjid Tebuireng, Qunut Nazilah untuk keselamatan dan kemerdekaan Palestina masih dibaca setiap shalat berjamaah — tradisi spiritual yang dipelopori langsung oleh Mbah Hasyim.
“Indonesia merdeka 1945 atas perjuangan panjang KH. Hasyim Asy’ari. Karena itu kita memiliki hubungan yang sangat panjang dengan Palestina,” kata Gus Kikin.
Tebuireng Jembatan Peradaban
Kehadiran Imam Besar Al-Aqsa memberi dimensi lain. Al-Aqsa bukan hanya kiblat pertama, tapi juga denyut identitas bangsa Palestina.
Gus Kikin melihat momentum ini sebagai panggilan moral. Indonesia dengan 280 juta penduduk muslim — 140 juta di antaranya warga NU yang tahun ini genap berusia 100 tahun — memiliki tanggung jawab strategis untuk mengambil peran di panggung internasional.
“Tebuireng hari ini bukan hanya pesantren. Ada 14 lembaga pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi: Universitas Hasyim Asy’ari dan Ma’had Aly yang fokus pada hadis,” jelasnya.
Kerjasama Pendidikan dan Kebudayaan
Karena itu, ia mendorong kerja sama nyata, dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan pertukaran keilmuan antara pesantren Indonesia dan Palestina.
“Ini kesempatan untuk berkenalan dengan saudara-saudara kita di Palestina. Silakan dimanfaatkan untuk berdialog, bertanya, dan mengambil pengalaman yang bisa diterapkan di Pesantren Tebuireng,” pungkas Gus Kikin yang baru saja terpilih sebagai Ketum PBNU pada 31 Agustus lalu.
Muhadhoroh Ammah di Tebuireng bukanlah sekadar seremoni sambutan tamu. Ia adalah pengingat: bahwa doa Qunut Nazilah yang dilantunkan santri di Jombang, getarannya sampai ke pelataran Al-Aqsa di Yerusalem.***(IHA)





