Harapan PCNU Cilacap pada Nahkoda Baru PBNU 2026-2031: Prioritaskan Kemaslahatan Umat

NUCOM, Cilacap — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap menaruh harapan besar kepada nahkoda baru kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 agar memprioritaskan program kerja yang maslahat dan berdampak langsung pada kebutuhan masyarakat yakni Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi umat.
Harapan Jam’iyah NU Cilacap
Dari ujung selatan Jawa Tengah, Nahdlatul Ulama punya rumah besar bernama PCNU Cilacap. Dari sanalah, harapan itu dilantunkan. Harapan agar PBNU periode 2026–2031 tidak hanya menjadi simbol, tapi menjadi tangan yang benar-benar menyentuh kebutuhan umat.
Ketua PCNU Cilacap, H. Paiman Sahlan, menyampaikan pesan itu dengan nada tenang dan dalam. Sabtu (5/9/2026), dia berharap kepemimpinan baru di bawah KH Miftakhul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum, membawa arah baru: kerja yang menyentuh, nyata, dan dirasakan sampai ke pelosok.
Tiga Pintu Kemaslahatan: Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi
Bagi Haji Paiman, ada tiga pintu utama yang harus segera diketuk PBNU baru.
1. Pendidikan: Meratakan Mutu, Bukan Hanya Menambah Gedung
“Misalnya di bidang pendidikan, kita punya sekolah. Tapi pertanyaannya: apakah semua sudah berkualitas dan setara?” ujarnya.
Dia menyoroti disparitas yang masih terjadi. Ada madrasah dan sekolah NU yang sudah maju, tapi banyak juga yang tertinggal.
PCNU Cilacap berharap PBNU baru hadir sebagai penggerak pemerataan. Memperkuat sarana, meningkatkan mutu guru, dan memastikan anak-anak nahdliyin di desa punya akses pendidikan yang sama baiknya dengan di kota.
2. Kesehatan: Layanan kesehatan Hadir Sampai ke Lapisan Bawah
Di bidang kesehatan, Haji Paiman mengharapkan ada tata kelola bidang kesehatan yang dibangun oleh PBNU sehingga klinik dan Rumah sakit yang dibangun oleh NU profesional sehingga menjangkau warga NU di lapisan bawah
“Di beberapa daerah, rumah sakit milik NU masih minim sekali dibandingkan ormas lain. Padahal kebutuhan umat terutama warga Nahdliyin, betapa besar,” katanya.
Dia mendorong percepatan layanan kesehatan termasuk pembangunan rumah sakit NU . Bukan sekadar rumah sakit, tapi simbol khidmah. Tempat warga kecil bisa berobat dengan layak, tanpa rasa takut karena biaya.
3. Ekonomi: Kemandirian Lewat Badan Usaha Milik NU
Nahdlatul Ulama harus kuat secara finansial agar tidak bergantung. Itu pesan ketiga.
Haji Paiman mengusulkan pembentukan Badan Usaha Milik NU (BUMNU) dan kepemilikan saham atas nama jam’iyah, bukan perorangan.
“Sehingga keuntungannya kembali kepada jam’iyah. Dimanfaatkan untuk umat, bukan untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.
Digitalisasi dan Gerak Bersama dari Pusat ke Ranting
Selain tiga bidang utama, Ketua PCNU Cilacap Haji Paiman Sahlan juga menitipkan dua sektor penting yang jadi PR hingga kini.
Pertama, Digitalisasi.
NU dengan membangun dan memperkuat ekosistem digital di seluruh lini organisasi. Dari administrasi, pendidikan, hingga model dakwahnya. Agar NU tidak tertinggal zaman, tapi justru menjadi panutan digitalisasi yang maslahat di era 5.0, era pesatnya teknologi digital.
Kedua, Sinergi Semua Tingkatan.
Program keumatan ini tidak boleh berhenti di Jakarta. Harus dijalankan terintegrasi dari PBNU, PWNU, hingga PCNU hingga Ke Ranting di seluruh Indonesia bahkan dunia.
“Kita bangga dan bahagia Muktamar telah selesai. Rais Aam dan Ketum baru sudah terpilih. Sekarang saatnya kita bergerak bersama,” pungkasnya.
Baca juga: PCNU Cilacap Luncurkan Ebook Profil 2025: Berakar Pada Tradisi, Berkhidmah Untuk Umat
Muktamar 35 Telah Menetapkan Nahkoda Baru
Sebelumnya, Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026, telah menetapkan nahkoda baru.
Melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), KH Miftakhul Akhyar dipercaya sebagai Rais Aam, dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Kini tongkat estafet ada di tangan mereka. Dan dari Cilacap, dari madrasah-madrasah kecil, dari poliklinik, dari warung-warung warga nahdliyin, doa dan harapan-harapqn itu melangit.
Ya Allah, jadikan kepemimpinan baru ini sebagai wasilah kemaslahatan umat. Amiin.
Karena NU yang besar bukan diukur dari gedungnya. Tapi dari seberapa banyak air matanya terhapus, dan seberapa banyak perutnya terisi.***(IHA)
Baca juga: Dari Bilik Suara ke Musyawarah Kiai Sepuh, Muktamar NU Ke-35 Teguhkan Tradisi Khidmah





