Paradoks Pawai Budaya di Hari Kemerdekaan

Dari Etalase Pembangunan Jadi Panggung Kritik Rakyat

NU CILACAP ONLINE – Pawai budaya sejatinya menyimpan paradoks unik. Dari sekadar ajang unjuk keberhasilan pembangunan nasional, kini berkembang menjadi panggung rakyat untuk menyuarakan kritik dan satire terhadap dampak pembangunan itu sendiri.

Pada setiap momen peringatan hari kemerdekaan, ada suatu event yang pasti tidak pernah dilalui oleh seluruh rakyat Indonesia. Khusus untuk masyarakat jawa, ada yang disebut malam tirakatan, yang diselenggarakan pada setiap tanggal 16 Agustus malam. Ba’da sholat isya. Malam tirakatan ini berisi sambutan2 tokoh formil dan informil di masyarakat. Ada juga pentas seni, pembacaan sejarah perjuangan bangsa, mengheningkan cipta, doa bersama dan tentu saja tumpengan serta makan bersama seluruh warga.

Tradisi lainnya yang tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat, dalam merayakan hari kemerdekaan adalah tradisi karnaval. Pawai karnaval. Pawai ini biasanya diselenggarakan oleh pemerintah, di semua level, dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat.

Pada awalnya, karnaval ini disebut pawai pembangunan. Yaitu suatu kegiatan parade yang menempuh jarak beberapa kilometer, untuk memamerkan capaian hasil-hasil pembangunan selama merdeka.

Dalam perkembangannya, pawai pembangunan berubah sebagai pawai seni, pertunjukan dan hiburan. Walaupun sisi-sisi pembangunannya tetap ada.

Pawai seni budaya ini sebagai ajang ekspresi rakyat, berupa karya seni, satire, atau kritik terhadap pembangunan itu sendiri. Jadi, di satu event yang bernama karnaval, terhadap suatu paradoks. Yaitu, yang pada awalnya adalan media untuk memamerkan hasil karya pembangunan yang dicapai selama indonesia merdeka, pada akhirnya justru di dalamnya juga ada kritik terhadap pembangunan itu sendiri. Baca juga Momen HUT RI, Fatayat NU Karangpucung Siap Ramaikan

Salah satu kritik yang saya amati, dalam beberapa tahun terakhir ini adalah masalah korupsi. Dalam karnaval itu, masyarakat membuat ” Patung Tikus ” berdasi yang diarak sepanjang rute karnaval.

Tikus adalah gambaran seorang koruptor. Tikus adalah hewan yang pekerjaannya menggerogoti apa saja yang ia jumpai. Tikus juga merupakan hama tanaman, termasuk padi.

Koruptor diilustrasikan sebagai tikus yang menggerogoti perekonomian negara. Daya rusak korupsi itu sangat masif, sebab biasanya terjadi secara sistematis.

Tikus juga merupakan hewan yang berkembang biak secara cepat. Artinya pula, semakin banyak orang-orang yang berpotensi melakukan korupsi. Hal ini terbukti dalam 5 tahun terakhir. Banyak pejabat daerah atau pusat, bahkan desa, ditangkap penegak hukum atas dugaan korupsi, bahkan penegak hukum itu sendiri ikut-ikutan korupsi. Ini artinya, lumbung padi kita sudah dikuasai oleh tikus. Jika lumbung dibakar, mungkin mayoritas tikus ikut mati. Tapi tetap ada yang bisa lari. Namun yang pasti, ketika lumbung dibakar, semua lumbung dan padi, jadi arang.

Unsur pembangunan, tentu masih ada. Terutama peserta dari unsur pemerintah, dinas terkait sesuai dengan bidangya masing-masih.

Masyarakat secara berkelompok lebih dominan menampilkan kreasi seni dan budaya, seperti musik dan tari-tarian, peragaan busana, dan tampilan-tampilan hiburan yang menggambarkan situasi gembira dalam menyambut Hari Kemerdekaan.

Namun secara umum, dari tahun ke tahun, karnaval terus seperti itu. Dan akan terus seperti itu. Seolah pakemnya tidak berubah dan tidak perlu berubah. Yang dipentingkan adalah unsur hiburan sebagai tontonan tahunan bagi rakyat untuk menghilangkan rasa jenuh sejenak.

Jika sisi pembangunan karnaval dapat didekati secara ilmiah, maka apa yang ditampilkan dalam karnaval itu adalah pawai pembangunan yang menerangkan kepada masyarakat, inilah capaian pembangunan selama kemerdekaan, maka bagi masyarakat, karnaval adalah pawai seni-budaya, yang secara entitas, dapat dilihat sebagai tiruan terhadap realitas yang benar-benar terjadi, termasuk karya seni-budaya mereka yang menjadi satire dan otokritik terhadap program pembangunan yang belum sepenuhnya menyentuh kesejahteraan rakyat.

Penulis: Taufik Imtikhani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button