Pesta Kemerdekaan
Oleh: Taufik Imtikhani

NU CILACAP ONLINE – Pesta memperingati Hari Kemerdekaan ke-81, hampir telah usai. Dari RT hingga istana negara, semua bergembira, bersuka cita, bersorak sorai. Rakyat melupakan sejenak segala penderitaan, kesusahan, resah gelisah, pesimisme, dan kesulitan hidup sehari-hari. Bahkan mereka rela menyisihkan sebagian uangnya, yang bisa untuk membeli beras, minyak, dan lain-lain, demi pesta menyambut kemerdekaan.
Rakyat merayakannya tentu dengan cara dan kemampuan finansialnya masing-masing. Mereka mengadakan berbagai lomba unik, tipikal rakyat kecil, tirakatan, tumpengan, hingga mengikuti karnaval dan parade seni-budaya yang menjadi milik rakyat.
Kegiatan juga dilakukan di lingkungan warga, lorong-lorong kampung, dan jalan desa, dengan cara-cara rakyat. Hari-hari itu, kemerdekaan seolah-olah milik rakyat dengan pesta-pesta kerakyatan.
Mungkin berbeda dengan cara para bangsawan didalam merayakan hari kemerdekaan. Mereka bisa saja mengadakan resepsi di panggung-pangung istana, hotel berbintang, dan hidangan masakan ala para borjouis. Mereka tentu anti kedinginan dan kepanasan di jalan-jalan. Tapi tentu secara seremonial, kemerdekaan adalah milik kita semua. Karena semua merayakan, bahkan para penjahat negara sekalipun.
Maka jika pesta selama Agustus ini selesai, rakyat kembali ke aktifitas sehari-hari. Merasakan nikmat dan penderitaan sebagai rakyat Indonesia. Menghitung dan membayar biaya pesta, membersihkan piring, dan merinci cicilan hutangnya kembali. Baca juga Sinergi Warga Bengbulang-KKN Unugha Kompak Siapkan HUT R
Untung kita punya banyak agamawan, para penjaga moral, yang selalu bersikap apologis terhadap setiap keadaan, memberi pesan sabar dan syukur, dari panggung-panggung dakwah dan mimbar-mimbar khotbah. Rakyat dijejali dengan doktrin agama, dan selalu berpikir pada setiap keadaan sebagai takdir yang harus dijalani. Baca juga 20 Tahun Gus Dur Dilengserkan, Ini Ungkapan Allisa Wahid
Bersyukur, bahwa kita telah bebas dari penjajahan “Londo Putih” 81 tahun yang lalu. Namun sesungguhnya, era dan bentuk penjajahan hanya berbeda. Penjajahan telah mengalami metamorfose. Tidak ada rakyat yang benar-benar merdeka. Penjajahan hanya berubah bentuk, di setiap jaman, tempat, dan manusia.
Sebagai “nation” Indonesia memang telah merdeka. Dan proklamasi 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Soekarno- Hatta,, adalah bentuk declaration of independen. Sebatas pernyataan, dan simbol atas fakta politik bahwa Bangsa Indonesia itu merdeka. Pengakuan dunia internasional pada waktu itu, tentu mengukuhkan secara politik-diplomasi, bahwa sebagai sebuah nation, Indonesia benar-benar telah merdeka. Ini adalah pengakuan secara de-facto dan de-jure.
Upaya pembangunan sejak merdeka, adalah ikhtiar untuk membebaskan rakyat dari penjajahan dalam bentuk lain,, seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Penjajahan struktural dan kultural inilah yang betul-betul masih menjajah rakyat Indonesia selama 81 tahun sejak declaration of independen dibacakan oleh Soekarno.
Alih-alih bahwa proses pembebasan itu mengalami progres. Dalam beberapa aspek, justru kita seperti surut langkah ke belakang yang sangat jauh.
Nilai-nilai feodal yang menjadi ciri kehidupan jaman kerajaan, seperti kembali hidup. Gelar-gelar yang dulu terhapus, kembali dilukiskan dalam sejarah sosial kontemporer. Orang-orang kaya pun kemudian mendapatkan gelar “Sultan”. Ini tentu belum termasuk yang memang kelompok yang berasal dari sisa-sisa kejayaan kerajaan masa lalu. Atau suatu entitas lain yang memang secara sengaja memelihara dan menghidup-hidupkan pola dan nilai-nilai sebagaimana sebuah kerajaan.
Ini sebuah perkembangan yang memprihatinkan. Jika nilai-nilai semacam itu terus berkembang, artinya, nilai demokrasi terregresi, dan kemerdekaan serta kebebasan semakin terampas. Penjajahan oleh ” Bangsa sendiri” seperti istilah Presiden, sebagai penjajahan oleh Londo Ireng, benar-benar menjadi fakta yang tak terbantahkan. Hal ini menjadi mengingatkan perkataan mendiang Bung Karno, yang berkata,, bahwa perjuangan kami itu mudah, sebab melawan bangsa asing. Tapi perjuangan kalian, kata Bung Karno kepada kita, akan lebih berat, sebab akan melawan bangsa sendiri.
Penulis: Taufik Imtikhani





