UAS Jadi Inspektur Upacara Viral: Soroti Ketimpangan, Korupsi, Hingga Semangat Perjuangan 17 Agustus

NUCOM, Jakarta —- Video pidato Ustadz Abdul Somad (UAS) saat menjadi inspektur upacara viral dan dijuluki warganet sebagai “pidato inspektur upacara terbaik tahun ini”.
Dalam tausiah kebangsaannya, ia mengkritik tajam ketimpangan, korupsi, hingga mengingatkan kembali semangat perjuangan Kemerdekaan 17 Agustus.
Tampil dengan baju koko biru dan peci hitam di depan lambang Garuda Pancasila, Ustadz Abdul Somad menyampaikan pidato dengan gaya tegas namun menyentuh persoalan rakyat.
1. Tuntut Hak Dasar Rakyat
UAS menegaskan rakyat hanya meminta haknya dipenuhi.
“Bangsa ini tidak minta banyak. Mereka hanya minta haknya. Apa pun agamanya, hak dia sebagai masyarakat dia minta.”
Dia merinci; jalan yang bagus, rumah sakit yang bisa gratis atau biaya kesehatan dimurahkan, subsidi pendidikan dan beasiswa, lapangan pekerjaan, serta harga pangan yang murah.
“Orang-orang yang memakan APBN APBD mereka tidak punya kemanusiaan. Mereka tidak mengamalkan kemanusiaan yang adil dan beradab,” katanya.
2. Kritik Pemimpin, Adu Domba, dan Keputusan Tanpa Musyawarah
UAS juga menyoroti pemimpin dan wakil rakyat yang tidak menunaikan hak rakyat.
“Pemimpin-pemimpin, wakil-wakil rakyat yang tidak memberikan hak kemanusiaan, mereka adalah pengkhianat kemerdekaan,” ujarnya.
Dia mengecam pihak yang mengadu domba atas nama agama:
“Orang-orang yang mencoba mengadu domba agama bangsa ini, maka mereka sudah mengkhianati persatuan Indonesia.”
Terkait hukum, ia menyinggung proses pengambilan keputusan yang tidak sesuai konstitusi.
“Tidak boleh Mahkamah Konstitusi mengeluarkan keputusan di hari libur, di saat orang tidak masuk kantor. Dimasukkan permohonan tidak disidangkan. Dikeluarkan keputusan tanpa permusyawaratan perwakilan. Maka mereka pengkhianat Pancasila, pengkhianat kebangsaan. Mereka tidak layak untuk hidup di Indonesia.”
3. Soroti Kekayaan Alam vs Nasib Anak Bangsa
UAS mengawali dengan mengingatkan kekayaan alam Indonesia.
“Di tengah Sumatera Riau ada minyak. Di Sulawesi ada nikel. Ada emas di Papua, emas bergelimpangan,” katanya.
Namun ia menyayangkan masih banyak anak bangsa yang harus keluar negeri hanya untuk mencari makan.
“Tapi anak bangsa hari ini ke luar negeri hanya untuk mencari makan. Mereka pengkhianat keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Bahkan ia menyebut para pelaku tersebut “mesti ditangkap, digantung, ditembak, dihukum mati, karena mereka sudah mengkhianati perjuangan anak bangsa.”
4. Kobarkan Semangat Perjuangan 17 Agustus: Jangan Diam Lihat Kebatilan
Memasuki momentum 17 Agustus, UAS mengajak membangkitkan kembali semangat perjuangan.
“17 Agustus mesti momen membangkitkan kembali semangat. Jangan salahkan kalau rakyat ini bergejolak mengamuk. Karena memang karena mengamuklah kita merdeka. Karena mengamuklah kita Belanda kafir itu mati. Karena mengamuklah kita maka PKI itu tidak berani.”
Dia juga mengingatkan agar tidak diam terhadap kemungkaran.
“Jangan diam melihat kebatilan. Setan orang yang diam melihat kebatilan. Mereka adalah setan-setan bisu. Kalau ada yang lantang, mereka bukan marah. Mereka adalah orang-orang yang menegakkan amar makruf nahi mungkar.”
Pidato ditutup dengan doa, “Semoga Allah merahmati negeri kita”.
Hingga berita ini diunggah, belum diketahui secara resmi lokasi dan instansi pelaksana upacara tersebut. Namun potongan pidato UAS ini telah mendapat jutaan views dan memicu diskusi luas tentang keadilan sosial dan kepemimpinan di Indonesia. (IHA)





