Innalillahi, Pengasuh Pesantren Tegalsari, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, KH Asyhari Abta Wafat

YOGYAKARTA, NUCOM — Kamis pagi itu, 24 September 2026, langit Sleman terasa lebih sendu. Pukul 04.01 WIB, di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, seorang ulama kharismatik san juga Pengasuh Pondok Pesantren Tegalsari KH Asyhari Abta, wafat. Beliau menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang, setelah beberapa waktu menanggung sakit. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Telah kembali ke hadirat Allah Yang Maha Agung, KH Asyhari Abdullah Tamrin — yang akrab disapa KH Asyhari Abta — Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY, Pengasuh Pondok Pesantren Tegalsari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, dalam usia 74 tahun.
“Sampun kapundhut wangsul wonten ngarsanipun Gusti Allah kang Maha Agung. Kanthi tentrem jalaran gerah sakwetawi swedal,” demikian kabar duka yang beredar.
Jenazah almarhum akan dimakamkan pada hari ini, Kamis (24/9/2026) pukul 15.30 WIB di kompleks Pondok Pesantren Tegalsari, Gang Taqorub, Tegalsari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
Dalam kepedihan, keluarga menyampaikan pesan dengan bahasa yang paling halus, bahasa Jawa yang penuh rendah hati:
“Nglenggono hambok bilih nikolo sugengipun almarhum hanggadahi kalepatan dhumateng panjenengan sedaya, kapareng kulo sakulawargo ingkang nyuwunaken pangapunten.”
Jika semasa hidup ada salah yang disengaja maupun tidak, mohon dimaafkan.
Duka itu ditinggalkan untuk keluarga besar: Nyai Siti Muthri’ah Asyhari, Ataka Badrud Duja, Vita Widyasari, Aqim Dinana, Hari Nurcahyo, Fauqi Midad Ni’am, serta keluarga besar H. Sa’idu dan H. Abdullah Thamrin.
Ulama yang Mengajar Lewat Kaki yang Berjalan
Bagi Nahdlatul Ulama, kepergian KH Asyhari Abta adalah kehilangan tiang. Berdasarkan SK PBNU Nomor http://05.A.II.04/03/2022, beliau tercatat sebagai Mustasyar PWNU DIY periode 2022-2027. Sebelumnya, beliau pernah menjadi Rais Syuriah PWNU DIY selama dua periode, 2006-2011 dan 2012-2016, serta Rais Syuriah PCNU Bantul selama dua periode.
Jabatan itu hanya nama. Yang lebih dikenang adalah langkahnya.
Salah satu muridnya, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Bantul, KH Hilmy Muhammad, bersaksi: sejak muda, Kiai Asyhari adalah dai yang tak lelah. Ia berkeliling ke pelosok-pelosok desa. Bukan dengan mobil mewah, tapi dengan semangat Korps Dakwah Mahasiswa (Kodama) yang ia pimpin di seputaran Bantul.
“Banyak sekali majelis yang beliau inisiasi dan beliau ampu,” kata Gus Hilmy.
Ceramahnya tidak pernah membuat jamaah mengantuk. Renyah, ringan, tapi tidak pernah kehilangan bobot. Materinya selalu soal akhlak, soal ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Dan di sela-selanya, ia sering mengutip pelajaran dari gurunya, Allahuyarham Simbah KH Ali Maksum.
Itulah Kiai Asyhari. Seorang yang mengajarkan agama bukan dengan meninggi, tapi dengan merendah, mendatangi warga satu per satu.
Ulama wafat, membawa serta seluruh ilmunya. Hari ini, Tegalsari kehilangan pengasuhnya. DIY kehilangan mustasyarnya. Kita kehilangan seorang bapak yang ceramahnya selalu membuat hati menjadi ringan.
Selamat jalan, Kiai. Tugas dakwah di pelosok-pelosok itu telah selesai. Kini giliran kami yang melanjutkan.
Allahummaghfir lahu warhamhu.
Lahu Alfatihah..





