Rasyid Muhamad Abdulloh dan Pergulatan Batin “Banser Cilik”

NU CILACAP ONLINE – Rasyid Muhamad Abdulloh tampak berada di barisan peserta Diklatsar Banser Satkoryon Binangun Cilacap beberapa waktu yang lalu. Usianya baru 8 tahun, masih usia anak-anak. Tetapi “Banser Cilik” itu semangatnya terbilang luar biasa untuk mengenal dunia pendidikan kebanseran.

Anak ke 3 dari pasangan Hadi Mustofa – Marfu’ah itu ingin menjadi Banser, sehingga memutuskan untuk menjadi “peserta diklatsar” Banser. Hadi Mustofa merupakan Kepala Satuan Kordinasi Cabang Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkorcab Banser) X.26 Cilacap.

Menurut Hadi Mustofa, semangat Rasyid Muhamad Abdulloh di luar dugaannya. Ia mengikuti sejumlah sesi Diklatsar baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sementara sebagai Ayah, Hadi Mustofa selalu mengawal dan memantau.

“Usianya kan memang belum memungkinkan untuk mengikuti Diklatsar Banser. Sebagai orang tua, Saya sebatas mengenalkan dunia kebanseran. Karena dunia kebanseran itu pula yang saya jalani selama ini,” ungkapnya.

Keikutsertaan Rasyid Muhamad Abdulloh dalam Diklatsar Banser bermodalkan semangat dan pengalaman. Ya semangat khas anak-anak yang setiap hari bergumul dengan Ayahnya yang seorang Banser. Akan tetapi, ada pengalaman yang membuatnya bersemangat.

“Banser Cilik”

Sebagai anak, ia selalu dekat dengan Ayah. Baik saat mengenakan baju seragam Banser maupun saat berpakaian harian. Ia sering mengikuti silaturahmi acara kebanseran yang diikuti Ayahnya. Dalam beberapa kesempatan, juga menanyakan keberadaan Ayahnya dalam banyak giat kebanseran.

Rupanya, pergumulan itu membuat tekad dan semangat Rasyid Muhamad Abdulloh menyala-nyala untuk menjadi seorang “Banser Cilik”. Hadi Mustofa sendiri tidak menampik, tidak mengelak akan adanya fenomena “Banser Cilik”.

“Mungkin sudah menjadi kecenderungan umum ya, bahwa seorang Anak sangat berpotensi meniru kebiasaan ayahnya. Itu juga sangat kami rasakan dalam diri Rasyid Muhamad Abdulloh,” ungkap Hadi Mustofa.

Hadi Mustofa juga tidak mengelak, cara anaknya meniru ayahnya sampai hal yang spesifik seperti seragam baju. Rasyid Muhamad Abdulloh sudah terbiasa mengenakan seragam Banser ala dirinya. Sejumlah koleksi gambar dirinya juga berseragam ala Banser.

Bahkan Hadi Mustofa, yang biasa dengan sapaan Ndan Tofa, membenarkan, para anak dari anggota Banser di lingkungan Satkorcab Kabupaten Cilacap sudah terbiasa meniru ayahnya. Mengidentifikasi diri sebagai “Banser Kecil”. Ini tentu kebiasaan baik yang patut dipertahankan.

“Anak masih usia belia punya semangat luar biasa untuk mengenal NU melalui Banser. Semoga kelak bisa menjadi penerus perjuangan dan pergerakan orang tua,” harap Ndan Tofa saat dikonfirmasi NU Cilacap Online.

Rasyid Muhamad Abdulloh

Pergulatan Batin

Di balik keikutsertaan Rasyid Muhamad Abdulloh dalam Diklatsar Banser, Hadi Mustofa mengakui bahwa selaku orang tua merasa bangga melihat kesemangatan dan kemantapan anaknya.

“Di momen pendadaran fisik calon peserta Diklatsar, sudah lebih dari setengah halang rintang dilaluinya. Karena seusia dia belum saatnya menerima gemblengan fisik ala orang dewasa. Tapi karena semangatnya, dia tidak mau keluar dari barisanya,” ungkap Hadi Mustofa.

Pergulatan batin “Banser Cilik” Rasyid Muhamad Abdulloh pun hadir sekaligus mengujinya. sampai akhirnya dalam satu sesi Diklatsar harus keluar barisan. Pada saat pelatih intruksikan semua peserta Diklatsar untuk guling kanan kiri, dia mengalami benturan dengan peserta lain dan merasa agak sakit. Tevakuasi dan tim basada membawanya keluar dari barisan utk ditangani.

Isak dan tetesan air matanya membuat Hadi Mustofa terenyuh, sekaligus bangga atas kesemangatanya. Usai mendapatkan penanganan secukupnya, Rasyid Muhamad Abdulloh pun minta diantarkan untuk pulang.

Pergulatan batin Rasyid Muhamad Abdulloh belum usai. Serasa belum menerima kenyataan kalau dirinya harus keluar dari barisan peserta Diklatsar Banser. Sementara pagi harinya, ia menghubungi Ayahnya untuk dijemput dan mau bergabung lagi melanjutkan mengikuti Diklatsar.

“Saya memutuskan untuk tidak menjemputnya. Biar tetap di rumah bersama Ibunya. Tapi di sore hari, menjelang maghrib, kembali menghubungi, dan masih mau bergabung melanjutkan Diklatsar Banser sampai selesai,” terang Hadi Mustofa.

Tunggu Saat yang Tepat

Pergulatan batin pun menggelayuti Hadi Mustofa. Ia menyadari betapa kuat keinginan anaknya, di satu sisi. Di sisi lain, ada hal-hal dalam Diklatsar Banser yang memang belum saatnya diikuti dan dilakukan oleh anak-anak seusia anaknya.

“Ada sesi-sesi tertentu dalam Diklatsar Banser yang bukan ranah anak-anak. Dan tidak mungkin dipaksakan, meskpiun anak merasa dirinya kuat dan mampu menjalaninya, tapi memang belum saatnya,” tegas Hadi Mustofa.

Atas alasan tersebut, Kasatkorcab Banser Cilacap itu tidak menjemput anaknya. Lalu memilih melanjutkan memimpin pelaksanaan Diklatsar Banser Satkoryon Binangun Cilacap.

“Ya, seperti saya duga sebelumnya, puncak pergulatan batin anak saya ada di rasa kecewanya. Kecewa tidak bisa mengikuti Diklatsar sampai selesai. Dengan sedikit marah,” ucap Hadi Mustofa.

Menurut Hadi Mustofa, ada saat yang tepat untuk para “Banser Cilik” mengikuti seluruh rangkaian acara dan sesi Diklatsar. Ndan Tofa juga berharap, fenomena “Banser Cilik” tetap harus disambut dengan gembira dan bangga.

“Tunggu saat yang tepat untuk mengikuti Diklatsar secara paripurna. Para “Banser Cilik” hari ini adalah calon penerus Banser di kemudian hari. Kita harus memberi ruang kepada mereka meski sebatas mengenakan atribut kebanseran,” pungkas Hadi Mustofa.

One Comment

  1. Luar biasa.memang kalo kita liat Banser itu aneh .kadang tidak bisa cukup di liat dari mata telanjang.dan tidak bisa di sepelekan.menjadi Banser bukan hanya di lihat dari sehat fisik.harus punya mental dan dorongan niat perjuangan yg kuat juga atas doa2 para kyai.intinya nggandul sarunge kyai.men ulih berkah dunia ahirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button