Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026, Pra Pembuka Lewat Bantingan, Bantengan, dan Semangat Trilogi

NUCOM, JOMBANG – Halaman Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas Jombang, Jumat 12/6/2026, tiba-tiba bergemuruh. Bukan oleh pidato panjang, tapi oleh hentakan kaki, raungan macan, dan sorak penonton “bantengan”, acara dihelat sebagai acara pra pembukaan Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026.

Tema “Kembali ke Akar” langsung hidup sejak gong Seni pertunjukan Bantengan pertama dipukul. Pulang ke jati diri. Pulang ke Mbah Kiai Wahab Hasbullah, pendiri Lesbumi. Pulang ke ruh NU.

 “Bantingan” Jadi Kunci Pembuka, Bukan Kesempurnaan

Ki Wasis selaku panitia lokal buka sambutan dengan gaya khas Jombang: rendah hati, blak-blakan, tapi nendang.

“Kami selaku panitia pelaksana berusaha semampunya. Kalau ada kekurangan, segi apapun, gak cocok, gak selera, nggih mohon maaf,” ujarnya di depan ratusan peserta.

Lalu ia membongkar “dapur” bahwa acara terselenggara dengan satu kunci yakni bantingan. Bahasa Jombang untuk memaknai gotong royong.

“Muktamar ini bukan kerja panitia, tapi kerja sama. Sama-sama kerja. Ada bantingan dari Bupati berupa konsumsi 3 hari. Ada donatur, sapa sing duwe duit bantingan. Terutama keluarga besar Unwaha, pendiri Lesbumi. ‘Kembali ke akar’ berarti balik nang nggone Mbahne, Mbah ideologis,” tegas Ki Wasis.

Ia juga matur nuwun ke Ponpes Bahrul Ulum, Bu Nyai, Ponpes Tebuireng, dan semua pihak yang “ngangkat bantingan bareng-bareng”.

Seni Bantengan Kediri: Warisan Lesbumi untuk Ngimbangi Lekra

Setelah sambutan, arena Panggung Muktamar Kebudayaan langsung “setrum”. Lesbumi PCNU Kediri turun bawa bantengan lengkap dengan pameran pusaka.

Ketua Lesbumi Kediri, Abu Muslih menceritakan sejarahnya,

“Dulu bantengan didirikan untuk mengimbangi Lekra. Latihan pencak di langgar, masjid, pesantren, diteruskan setruman-setruman. Nah di antaranya setruman bantengan ini.” ungkapnya

Sore itu bantengan jadi dua hal sekaligus: tuntunan dan tontonan. Ada macan kuning “ndlempak” sujud, ada banteng merah-hitam “nglumpukno”, ada pawang yang atur ritme. Semua di bawah adab. Itu deklarasi Lesbumi: budaya NU lahir untuk menjaga, bukan menghancurkan.

Abu Muslih menutup: “InsyaAllah dengan merawat bantengan, kita menguri-uri peninggalan Lesbumi pendahulu kita. Mohon maaf jika penampilannya kurang berkenan.”

Trilogi Kebudayaan: Agama, Ilmu, Seni

Puncaknya pada sambutan Ketua Lesbumi PBNU, KH M. Jadul Maula. Beliau bedah makna “muktamar” dan “kebudayaan” langsung di depan arena.

“Muktamar itu rembugan. Satu masyarakat, satu bangsa, satu umat selalu berusaha berubah ke arah lebih baik. Semangat berubah itu namanya kebudayaan. Tapi berubah ada caranya, ada metodenya, ada tata tertibnya, ada wasilahnya. Itu kebudayaan,” ucapnya.

Lalu beliau tunjuk bantengan yang baru saja tampil

“Ada semangat keagamaan: baca sholawat, mustika, adat, susila. Ada ilmu pengetahuan: cara meramu, merangkai, musik, tari. Ada seni. Ini kesatuan: agama, ilmu pengetahuan, dan seni. Untuk berubah ada politiknya bagaimana, ekonominya bagaimana. Kita berusaha menegakkan kebaikan, menegakkan kebenaran.”

Doa Pra Pembukaan Acara

 “Bismillahirrahmanirrahim. Rabbiyassir wala tuassir… Rabbanaghfir lana wali walidaina…Al Fatihah.”

Begitu selesai berdoa, arena Muktamar selanjutnya pertunjujan kesenian Bantengan digelar lagi. Pameran pusaka pun dipajang. Bantengan terus menghidupkan halaman Unwaha. “Kembali ke Akar” bukan lagi slogan di spanduk. Hari ini, ia sudah turun ke tanah, ke gotong royong, ke adab, ke bantengan. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button