Feature & Figur

11 Perempuan Yang Masuk Struktur PBNU 2022-2027

Ada 11 perempuan yang masuk dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2022-2027, siapa saja mereka?

Perempuan di PBNU

Perempuan hadir di jajaran Harian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2022-2027. Ini terbososan Gus Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU.

Ketika mengumumkan susunan PBNU 2022-2027, Gus Yahya terang menyinggung bahwa selain kepengurusan bernuansa Nusantara (mengakomodir elemen NU se Nusantaar), juga memperttimbangkan sisi gender dengan mengakomodir perempuan di jajaran PBNU.

Para perempuan NU terpilih tersebut, mereka tidak hanya ada di jajaran Musytasyar, tapi juga di jajaran A’wan Syuriyah PBNU; juga ada di jajaran Tanfidziyah dalam hal ini di unsur Ketua dan Sekretaris.

Berikut ini profil singkat 11 perempuan NU yang masuk jajaran PBNU;

1.Ny Hj Nafisah Sahal Mahfudz

Nyai Hj Nafisah Sahal (Mustasyar PBNU), adalah istri Rais Am PBNU Dr KH MA Sahal Mahfudh, dari pernikahannya itulah dikaruniai seorang anak yang bernama Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin). Nyai Nafisah Sahal  juga seorang aktifis Muslimat NU serta sebagai pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Badi’iyah.

Beliau juga pernah menjadi politisi perempuan yaitu sebagai anggota DPRD pada tahun 1977-1982 dan anggota DPD tahun 2004-2009. Kini setelah ditinggal Kiai Sahal Mahfudh, Nyai Nafisah bertekad melanjutkan perjuangan sang suami tercinta.

2.Ny Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid

Dr. Dra. Hj. Shinta Nuriyah Wahid, M.Hum (Mustasyar PBNU) adalah istri dari Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia ke empat dari tahun 1999 hingga tahun 2001. Sinta lahir di Kabupaten Jombang pada tahun 1948 sebagai putri sulung dari 18 bersaudara.

Sinta Nuriah masuk daftar 100 orang tokoh paling berpengaruh di Dunia versi Majalah Time, dalam kategori tokoh pejuang perempuan dan kaum minoritas (2018). Dirinya juga Memperoleh penghargaan Internasional, sebagai 11 Perempuan Paling Berpengaruh versi Harian New York Times (2017).

3. Ny Hj Mahfudzoh Ali Ubaid

Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid (Mustasyar PBNU) lahir pada 12 Maret 1944 di Jombang. Beliau merupakan putri pertama dari empat bersaudara, dari pasangan KH Wahab Chasbullah dan Siti Rahma. Adik-adik beliau diantaranya: Nyai Hisbiyah Rohim, Nyai Munjidah Wahab, KH. Muhammad Hasib Wahab dan KH. M. Roqib Wahab.

Pengalaman organisasi Nyai Mahfudloh menjabat ketua umum Fatayat NU 1976. Saat itu beliau belum pernah memimpin sidang. Akhirnya beliau bersedia memimpin sidang dan sidang berjalan dengan baik, selanjutnya beliau terpilih menjadi ketua Fatayat NU wilayah DKI Jakarta.  Beliau juga Menjabat sebagai Wakil Ketua Dept. Dakwah DPP PPP.

Di organisasi Muslimat NU, dirinya menjabat sebagai Ketua I Pucuk Pimpinan Muslimat NU. Di PBNU, beliau A’wan PBNU 2015-2020. Pada periode 2022-2027 ini Nyai Mahfudloh masuk di jajaran musytasyar NU bersama dengan Nyai Sinta Nuriah dan Nyai Nafisah Sahal Mahfudl.

4. Ny Hj Nafisah Ali Maksum

Ny Hj Nafisah Ali Maksum (A’wan PBNU), merupakan putri keempat dari KH Ali Maksum dan Nyai Hj. Hasyimah Munawwir Krapyak.  Beliau  lahir di Bantul, 18 Agustus 1954. Saat ini beliau menjadi pengasuh di Bait Tahfidz An-Nafisah Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.

Beliau mengaji dan menghafal Al-Qur’an di Pesantren Krapyak sejak kecil, dan melanjutkan pendidikan keagamaanya di Pesantren Al-Hidayat Lasem. Selain Al-Qur’an, beliau juga memperdalam kitab-kitab kuning di Pondok Pesantren Kempek Cirebon

5. Ny Hj Badriyah Fayumi

Nyai Badriyah Fayumi (A’wan PBNU) adalah putri KH. Ahmad Fayumi Munji. Sementara KH. Ahmad Fayumi Munji sendiri adalah ulama besar, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Pati, sekaligus penganut tarekat Syathariyah dan tarekat Syadziliyah. Karenanya, spirit keislaman tercermin kuat dalam gagasan Nyai Badriyah Fayumi ini. Salah satunya, spirit feminisme Barat yang liberal tampak sangat Islami.

6. Ny Hj Ida Fatimah Zaenal

Nyai Hj. Ida Fatimah Zaenal., M.Si (A’wan PBNU). Biasa dipanggil dengan Bu Ida lahir pada 4 Agustus 1952 di Kanggotan, Bantul, Yogyakarta. Beliau merupakan putri dari pasangan KH. Abdurrohman sosok Kiai yang aktif di Mabarot, dengan Ibu, Hj. Aisyah, sosok Nyai yang aktif di Muslimat NU.

Nyai Hj. Ida Fatimah Zaenal., M.Si melepas masa lajangnya dengan dinikahi KH. Zainal Abidin Munawwir, putra ke-9 KH. Munawwir dengan Ny. Hj. Khadijah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 2 putra dan 1 putri, yaitu Muhammad Munawwir (Gus Mamad), Khoiruzzad (Gus Izad) dan Khumairo’ (Ning Elok).

Baca Juga

7. Hj DR Faizah Ali Sibromalisi

DR. Faizah Ali Sibromalisi, MA (A’wan PBNU). Ia merupakan satu-satunya perempuan yang menjadi anggota Lajnah Pentashih Al-Quran Kementrian Agama. Menyelesaikan seluruh studi jenjang sarjana, magister, dan doktor di Universitas Al-Azhar Kairo dalam bidang Ilmu Tafsir. Saat ini, beliau merupakan dosen tetap pengampu mata kuliah tafsir di IIQ dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dewan Pakar di Pusat Studi Al-Quran (PSQ).

Di tengah kesibukanya yang padat menghadiri berbagai seminar, sarasehan, workshop, dosen tamu di berbagai universitas luar negri, menjadi dewan hakim, pembimbing pada ajang MTQ baik Nasional maupun Internasional, beliau juga mendirikan dan mengasuh mahasantri di pondok pesantren pribadinya Darus Sa’adah.

8. Ny Hj Khofifah Indar Parawansa

Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. (Ketua PBNU) adalah Gubernur Jawa Timur yang menjabat sejak 13 Februari 2019. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Sosial Indonesia ke-27 yang menjabat sejak tanggal 27 Oktober 2014 hingga 17 Januari 2018. Dia aktif di organissi Muslimat NU, organisasi sayap perempuan Nahdlatul Ulama (NU). Khofifah Indar Parawansa yang menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU hingga empat periode (sejak 2000 hingga 2021) atau 20 tahun.

Khofifah Indar Parawansa masuk dalam daftar 500 tokoh Muslim berpengaruh di dunia tahun 2022; sebagaimana unggahan Khofifah Indar Parawansa di akun media sosial Instagram pribadinya pada Minggu, 31 Oktober 2021. Namun, Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah menyangka dapat masuk dalam daftar tersebut. Dalam daftar 500 Muslim berpengaruh di dunia itu, dia disejajarkan dengan sejumlah tokoh politik Muslim dunia.

9. Hj Alissa Qotrunnada Wahid

Nyai Hj Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid (Alissa Wahid) adalah anak sulung pasangan Gus Dur-Sinta Nuriyah. Alissa Wahid lahir di Kompleks Pesantren Denanyar Jombang, 25 Juni 1973. Dia lulusan SMA Negeri 8 Jakarta. Dia juga merupakan jebolan Magister Psikologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Alissa Wahid yang menjabat Ketua PBNU, telah memberikan sumbangsihnya di sektor sosial, khususnya tentang multikulturalisme, demokrasi serta hak asasi manusia; juga gerakan Muslim moderat di Indonesia.

Sementara itu, Alissa Wahid di akun Instagramnya tertulis sebagai penjahit Gusdurian, humanitarian, psikolog keluarga, serta memimpikan bangsa yang adil dalam keluhuran peradaban. Alissa Wahid turut hadir saat Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf membacakan susunan lengkap pengurus PBNU, di kantor PBNU.

10. Ai Rahmayanti

Ai Rahmayanti S.Sos M.Ag adalah satu satunya perempuan yang menduduki struktur Wakil Sekretaris Jenderal PBNU. Ai adalah pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU)  Ketua Departement Gender dan Budaya.  Ia merupakan alumni Pasca Sarjana Ilmu Dakwah UIN Bandung.

11. Nyai Hj Masriyah Amva

Masriyah Amva, biasa dipanggil Nyai Masriyah, adalah pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy di Cirebon, Jawa Barat. Beliau dikenal ramah serta sangat dikagumi oleh para santrinya, karena melakukan banyak terobosan. Ia adalah ulama perempuan inspiratif, namun tentu saja ia menghadapi banyak tantangan.

Nyai Masriyah Amva menjabat sebagai A’wan PBNU. Sebagai seorang ulama perempuan yang berteguh pada interpretasi ajaran Islam yang berkesetaraan gender, Nyai Masriyah bukanlah sosok yang suka memaparkan banyak teori. Ia lebih banyak mencontohkan dalam perbuatan sehari-hari atau lewat obrolan santai bersama santri dan guru.

Selama 13 tahun, ulama perempuan Masriyah Amva bekerja sebagai pemimpin pondok pesantren. Ketika ada hal-hal yang membuatnya gundah, Masriyah menemukan ketenangan dalam bentuk menulis puisi. Hingga saat ini tercatat cukup banyak buku puisi karya Nyai Masriyah, termasuk Ketika Aku Gila CintaCara Mudah Menggapai Impian, dan Matematika Allah.

Demikian profil singkat 11 perempuan NU yang masuk jajaran struktur PBNU Masa Khidmat 2022-2027.

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eighteen − thirteen =

Back to top button