Feature & Figur

Mengenang Nyai Hj Nafisah Sahal Mahfudz, Mustasyar PBNU

Warga NU kembali berduka, Mustayar  PBNU Nyai Nafisah Sahal Mahfudz tutup usia, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Beliau menghembuskan nafas terkahir di Rumah Sakit Islam (RSI) Pati pada Kamis petang (10/11/2022) dikarenakan sakit. Kepergian beliau meninggalkan banyak kenangan bagi para santri dan muhibbin.

Nyai Nafisah Sahal istri mendiang KH Mohammad Sahal Mahfudz ulama kharismatik asal Pati. Beliau sekaligus Rais Aam PBNU masa khidmat 2014-2019.

Kepergian Nyai Nafisah Sahal menjadi duka keluarga besar Nahdlatul Ulama mengingat beliau adalah seorang ulama perempuan yang telah dikukuhkan menjadi Mustasyar PBNU periode 2022-2027. Posisi tersebut membawa dirinya pada 11 ulama perempuan yang mewarnai kepengurusan PBNU.

Nyai Nafisah terlahir dari pasangan KH Abdul Fattah Hasyim dan Nyai Hj Musyarofah Bisri. Ayahandanya adalah pendiri Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Sementara sang ibu merupakan pendiri Pesantren Putri Al-Fathimiyyah, Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Riwayat Pendidikan

Nyai Nafisah Sahal memulai proses belajar melalui sang nenek, Nyai Hj Chodidjah, istri dari KH Bisri Syansuri. Di Denanyar, Jombang, kakek dan neneknya merupakan pendiri madrasah perempuan pertama di Jawa Timur.

Dilansir dari NU Online, Nyai Nafisah diasuh oleh kakek dan neneknya pada usia empat hingga delapan tahun. Usai neneknya wafat, Nyai Nafisah kembali ke Tambakberas dan dididik langsung oleh kedua orang tuanya. Di sana, Nyai Nafisah melanjutkan pendidikannya di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Bahrul Ulum. Beliau hidup dalam keluarga pecinta ilmu dan pejuang pendidikan. Pada masanya perempuan belum banyak mengenyam pendidikan tinggi.

Baca juga

Nyai Nafisah berkesempatan menempuh pendidikan tinggi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat itu, sekitar tahun 1965, kampus yang kini berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga tersebut belum lama didirikan.

“Karenanya, maklum jika nomor induk mahasiswa beliau saat itu adalah 933. Dua tahun mengenyam bangku kuliah, beliau dinikahkan dengan Kiai Sahal Mahfudz yang sebenarnya masih terhitung saudara dari garis mbah kakungnya, Kiai Bisri Syansuri,” terang Ning Tutik.

Nyai Nafisah sangat beruntung karena menikah dengan Kiai Sahal Mahfudz yang memberikan kesempatan untuk melanjutkan kuliah hingga tuntas. Kiai Sahal pun terus membersamai. Kedua pasangan ini saling mendukung dan menguatkan dalam membangun rumah tangga, mendidik anak bangsa, serta berkiprah di masyarakat.

Saat kuliah Nyai Nafisah sempat diajar oleh Prof Hasbi Ash-Shiddieqy dan KH Ali Maksum Krapyak. Ning Tutik menceritakan satu hal yang sangat berkesan, saat Nyai Nafisah diajar oleh Kiai Ali Maksum pada mata kuliah tafsir, tepatnya ketika tiba ujian semester.

Kiprah Di Bidang Pendidikan, Politik, Keagamaan

Nyai Nafisah Sahal memiliki kiprah di berbagai bidang perjuangan. Baik dalam bidang pendidikan, politik, maupun organisasi sosial keagamaan. Di ranah politik, Nyai Nafisah pernah tercatat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

Di ranah pendidikan, Nyai Nafisah adalah pendiri Pesantren Putri Al-Badi’iyyah, Lembaga Pendidikan Terpadu Sekolah An-Nismah, Guru di Perguruan Islam Mathali’ul Falah, dan Penggagas Himpunan Siswa Mathali’ul Falah Putri (Hismawati).

Sedangkan di ranah organisasi sosial kemasyarakatan, Nyai Nafisah tercatat pernah menjadi ketua Pengurus Cabang Muslimat NU Kabupaten Pati, Ketua Pengurus Wilayah Muslimat NU Jawa Tengah, Dewan Pakar Pengurus Pusat Muslimat NU, dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Tercatat Tiga Ulama Perempuan

Di era kepemimpinan KH Said Aqil Siroj, Nyai Nafisah juga tercatat sebagai salah satu dari tiga ulama perempuan yang berada dalam jajaran Mustasyar PBNU, bersama Nyai Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Prof (almh) Huzaeman Tahido Yanggo.

“Aku wis tuwo, Tik. Kok iso isih mlebu Mustasyar NU (Saya sudah tua, Tik. Kok bisa masih masuk Mustasyar NU),” kata Nyai Nafisah kepada Ning Tutik pasca pengumuman kepengurusan PBNU.

“Dikersaaken ngoten buk.. menawi mawon damel menyemangati ingkang muda-muda (diharapkan begitu, Bu. Kalau saja buat memberi semangat yang muda-muda,” jawab Ning Tutik sembari menyebutkan nama Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Istri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur itu merupakan teman sekelas Nyai Nafisah semenjak kelas 5 MI di Tambakberas, Jombang, hingga kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Nyai Nafisah meninggal sekitar pukul 18.00 Wib di Rumas Sakit Islam (RSI) Pati setelah sebelumnya sempat dirawat di RS Telogoreho Semarang. Jenazah almarhumah dikebimikan hari ini, Jumat (11/11/2022) di komplek Pesantrel Maslakhul Ali, Kajen, Pati.

Almarhumah Nyai Nafisah dikenal sebagai pribadi pejuang yang ulet di lingkungan NU.  Khususnya di pesantren bersama mendiang suaminya yakni KH MA Sahal Mahfudz dalam mengasuh dan mendidik santri-santri di Pesantren Maslakhul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati.

Atas wafatnya Nyai Hj Nafisah Sahal Mahfudz, Keluarga redaksi NU Cilacap Official Media (NUCOM) mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya. Semoga segala amal baik beliau diterima di sisi Allah dan ditempatkan di syurgaNya, amiin. Lahaa Alfatihah…

(Redaksi Nucom)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button