Esai Opini Wawasan

Muktamar Lampung, Sparing Partner Satu Guru

Dua nama kandidat Ketum PBNU mengerucut dua nama, Kiai Said Aqil Siradj dan Kiai Yahya Cholil Staquf. Ini jika tidak ada ” kuda putih” yang menyalip di antara keduanya. Okelah, kuda putih itu kita abaikan. Kita fokus kepada Kiai SAS dan Kiai YCS ( maaf, saya singkat ).

Tidak tepat kalau ada yang mengatakan bahwa arena Muktamar NU sebagai rivalitas Beliau berdua. Juga bukan sebagai kompetisi. Ini bukan arena tinju, juga bukan pertandingan kalah dan menang. Bukan pula sebuah open turnamen.

Sulit mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan arena Muktamar bagi Beliau berdua. Namun ada diksi yang lebih halus, walau tidak tepat sama sekali. Saya menggambarkan keduanya, sebagai sparing partner dalam dua atau tiga dimensi sekaligus. Fastabiqul khaerat, ukhuwah nahdliyah dan ukhuwah islamiyyah.

Ada pameo jawa mengatakan, tunggal guru aja ngganggu. Ini sebuah hal yang tepat untuk Beliau berdua.

Kiai SAS dan Kiai YCS adalah tunggal guru keduanya mempunyai sanad dari para masyayikh ponpes Lirboyo. Kiai SAS pernah menjadi santri di sana. Sementara ayah dari Kiai YCS, yaitu Kiai Cholil Bisri pun pernah menjadi santri Lirboyo.

Artikel Terkait

SAS dan YCS Murid Kiai Ali Maksum

Yang lebih jelas adalah, bahwa kedua Kiai ini, pernah menjadi murid Kiai Ali Maksum, Krapyak. Kiai Ali Maksum adakah Rais Syuriyah NU pada Muktamar Situbondo, 1984. Bersama Gus Dur, Beliau adalah pelopor kembalinya NU kepada Khittah 1926. Bersama Gus Dur pula, Beliau menjadi katalisator bersatunya NU kubu Cipete, Kiai Idham Chalid, dan kubu Situbondo, Kiai As’ad dan kawan kawan

Simpul dari semua simpul itu ada pada figur Gus Dur. Gus Dur dan Kiai Ali Maksum ibarat dua sisi sekeping mata uang. Kiai Ali Maksum adalah figur yang sangat paham dengan Gus Dur.

Kiai SAS dan Kiai YCS adalah sama-sama murid Gus Dur. Walau dengan bidang keilmuan yang sedikit berbeda, tapi dalam banyak hal, dari Gus Dur”” mereka memiliki warisan yang sama.

Kiai SAS mempunyai basic akademis yang moncer. Dari Gus Dur beliau diwarisi ilmu ahwal, ilmu memahami kehidupan. Sedang Kiai YCS, disamping mempetoleh ilmu ahwal, Beliau mewarisi ilmu politik dan pemerintahan dari Gus Dur.

Walau mungkin dari sisi akademis, kalah sedikit dari Kiai SAS. Tapi saya yakin, ilmu agamanya tidak jauh berbeda. Kiai SAS dalam filsafat Islam atau tasawwuf, sedang Kiai YCS dalam bidang yang lain, mungkin ushul fiqh atau yang lain.

Jadi, ini sparing partner antar murid Gus Dur, yang bersanad ke Kiai Ali Maksum, dengan porosnya Lirboyo. Margin di antara keduanya sangat tipis.

Siapapun yang terpilih nanti adalah yang terbaik sesuai dengan kebutuhan jaman. Siapapun yang terpilih, tidak ada yang kalah. Kemenangan sesungguhnya ada pada Muktamirin. Kemenangan sesungguhnya adalah kemenangan generasi Gusdurian, yang dapat disumbangkan untuk NU, negara, dan perdamaian dunia.

Akhirnya, dari saya, NU pinggiran, atau NU yang dipinggir atau terpinggirkan, saya ucapkan “Selamat bermuktamar. Aamiin.

Kontributor : Toufik Imtihani
Editor : Achmad Nur Wahidin

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button