Esai Opini Wawasan

NU Care LAZISNU Cilacap, Mendayung di Antara Badai

Tipologi masyarakat Indonesia adalah tipologi masyarakat pedesaan. Sebab 70-80 persen rakyat Indonesia hidup di pedesaan. Kulturnya pun kultur rural, desa, yang secara politik, kurang partisipatif, secara pendidikan terbelakang, dan secara ekonomi, miskin (Denish Cavanagh, 1980).

Namun masyarakat desa mempunyai kohesifitas yang lebih baik. Desa adalah masyarakat yang menurut Ferdinand Tonies, adalah masyarakat paguyuban. Di desa, ikatan sosial dan kekeluargaan sangat kuat. Ini potensi yang penting untuk menggerakkan masyarakat desa menjadi lebih maju.

Dengan social engeenering tertentu, yang tepat, kemajuan itu bisa diperoleh tanpa menghilangkan sifat-sifat budaya paguyuban yang positif. Ini agar tidak terjadi seperti masyarakan perkotaan saat ini yang hedonis.

Warga NU merupakan masyarakat yang hidup di pedesaan. Dengan demikian, atribusi apapun yang ada pada masyarakat desa, adalah cermin yang sesungguhnya dari warga NU.

Maka diperlukan instrumen yang bisa menggerakkan warga NU, khususnya, dan warga desa pada umumnya. Starting point-nya ada di bidang ekonomi. Sebab, jika bidang ini bisa tergarap dengan baik, maka bidang-bidang lainnya akan menjadi rintisan yang terukur.

NU, mempunyai apa yang kita kenal dengan Lembaga Amil, Zakat, Infaq dan Sedekah yang dikenal dengan LazisNU. Lembaga ini dapat menfasilitasi pengumpulan dana berupa zakat, infaq dan lain-lain dari masyarakat, yang peruntukkannya dapat digunakan sebagai empowerment umat, sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah, atau berbagai kontrak kesepakatan berbagai pihak dengan NU Care LAZISNU. Ini penting, agar dana dapat disalurkan dengan niat, cara, standar, tujuan dan program yang jelas.

NU Care LAZISNU Cilacap dalam satu tahun terakhir ini, mampu berkembang dengan baik. Dana melalui koin NU terkumpul secara signifikan di tahun 2020 NU Care NU CARE LAZISNU Cilacap bisa mengumpulkan 6,8 M. Bahkan dalam dua bulan terakhir ini, Januari-Pebruari 2021, terkumpul lebih dari 2,3 milyar rupiah. Suatu capaian sejarah yang belum pernah terjadi. Namun tentu ke depan masih bisa ditingkatkan.

Apa yang dicapai oleh LazizNU, tentu bukan dengan cara yang mudah. Kultur warga NU yang bersifat feodalistik-patron client dan patrimonialism, tentu merupakan kendala yang besar. Namun rancang bangun strategi, pola komunikasi, dan kerja keras, soliditas, persuasi, penanaman kepercayaan, oleh team NU Care LAZISNU menjadi kunci sukses program pengumpulan dana dari warga NU. Pun juga dukungan para kyai, tokoh2 NU, generasi muda NU, serta payung hukum dari PC NU Cilacap, tak bisa diabaikan.

Setelah dana terkumpul dengan besar, tentu ini menjadi magnet tersendiri bagi beberapa avountir organisasi/politik. NU Care LAZISNU dapat menjadi sumber finansial yang potensial. Maka, NU Care LAZISNU harus mampu merancang suatu program yang strategis serta realistis, dan memperhitungkan skala proyeksi dan prioritas.

Kepercayaan umat harus dijaga dengan baik. Penyaluran dana harus efektif dan efesien, serta berdasarkan akuntabilitas organisasi. Administrasi dan laporan keuangan, kegiatan program, wajib tertata dengan rapi.

Setiap kegiatan, harus ada tolak ukur dan parameternya yang jelas. Target capaian harus dapat dihitung seawal mungkin, agar kegiatan tidak asal jalan dan mengabaikan setiap sasaran dan tujuan. Orientasi kegiatan harus berorientasi keumatan, agar NU Care LAZISNU bisa membayar setiap kepercayaan umat.

Bukti kegiatan harus nyata, agar ke depan, NU Care LAZISNU dapat menjadi suatu lembaga yang bisa mengangkat harkat dan martabat warga NU ke arah kesejahteraan yang diidam-idamkan oleh prinsip-prinsip syariat. NU Care LAZISNU dapat menggerakkan sektor-sektor ekonomi mikro dan menengah, serta membangun struktur ekonomi yang seimbang, serta dapat menjadi pionir gerakkan sosial-ekonomi warga NU yang berbasis syariah.

Dan itu semua tidaklah mudah. Namun dengan kerja terukur dan niat yang baik, cita-cita itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai.

~Artikel NU Care LAZISNU Cilacap, Mendayung di Antara Badai, ditulis olehTaufik Imtikhani (Pojok. Cilacap, 09-03-21)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

4 × 3 =

Back to top button