Munas-Konbes NU 2026 Berlangsung di Ploso Kediri, Ditutup di Bangkalan

NUCOM, KEDIRI – Nahdlatul Ulama memilih ke pangkuan pesantren. Munas dan Konbes NU 2026 resmi berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri Sabtu-Senin (20-22/6/2026). Dan untuk penegasan arah sejarah, penutupan diagendakan di Bangkalan, Madura, Selasa (23/6/2026), tanah yang diyakini sebagai simbol lahirnya ruh NU.
Konferensi Pers Munas-Konbes
Hal itu dijelaskan dalam Konferensi Pers yang digelar di Ploso, Kediri Sabtu (21/6/2026) siang. Hadir selaku panitia, KH Amin Said Husni, H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul), KH Ahmad Said Asrori, dan Prof. Dr. H. Muhammad Nuh.
Dijelaskan perubahan skema pembukaan-penutupan ini bukan sekadar teknis. Ini mengingatkan bahwa organisasi terbesar ini akarnya tetap di pesantren. Dibuka di Pesantren Ploso tempat kader ditempa, ditutup di tempat ruh perjuangan pertama kali menyala, di Bangkalan.
Konferensi Pers juga mengemukakan 5 Isu Kunci dalam Inti pembahasannya yang membumi, antara lain;
- Munas-Konbes NU ini menjadi “gladi bersih”. NU ingin forum yang hangat, dialogis, jauh dari polarisasi.
- Semua usulan dari wilayah, cabang, dan banom didengar. Tapi tegas: usulan yang berpotensi memicu SARA negatif tidak akan diterima. Garis komando Aswaja tetap.
- Menyoal Tambang dan Sumber Daya: NU tidak diam. Isu tambang, keadilan ekologi, dan pengelolaan SDA dibahas dengan kacamata kemaslahatan umat.
- Layanan Dasar: Fokus ke solusi nyata – penguatan pendidikan pesantren, layanan kesehatan berbasis LKNU, dan ekonomi umat lewat koperasi serta BUMNU.
- Mekanisme Peninjauan Fatwa: NU merapikan mekanisme agar fatwa tetap relevan menjawab zaman, tapi tak pernah lepas dari manhaj muassis.
NU Tak Lepas dari Pesantren, Bangkalan Simbol Ruh
Kenapa dibuka di Ploso? Karena NU tak lepas dari pesantren. Al-Falah Ploso adalah rumah besar tempat ribuan santri ditempa adab dan ilmu. Kenapa ditutup di Bangkalan? Karena Bangkalan adalah simbol lahirnya ruh NU. Di sanalah napas perjuangan para muassis pertama kali berkobar.
Panitia lokal menyebut ini momentum penting untuk memperkuat kembali hubungan historis NU-pesantren.
“Harapannya, ruh perjuangan NU sebagaimana dicita-citakan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari bisa kembali terasa,” ujar panitia.
1.500 Hadir, 600 Sidang, 30 Ribu Jamaah Haul
Ketua Panitia Lokal Munas-Konbes NU 2026, Agus Bahauddin alias Gus Baha, memastikan persiapan sudah 99%. “Secara teknis maupun nonteknis semuanya sudah kita bereskan, tinggal eksekusi pembukaan malam ini,” katanya.
Pembukaan Munas-Konbes NU ditarget 1.500 undangan: pengurus PBNU, pejabat pemerintah, tokoh nasional, kiai sepuh. Sementara peserta sidang 500-600 orang: anggota pleno PBNU, perwakilan 38 PWNU, komisi, dan forum keilmuan NU. Para kiai Bahtsul Masail juga diundang khusus.
Keamanan dijaga Banser, Ansor, Pagar Nusa, dan Polri. Kesehatan disiapkan LKNU pusat-wilayah-cabang bersama Dinkes Jatim. Semua detail dipikirkan, karena tamu yang datang bukan orang biasa.
Munas-Konbes ini beriringan dengan Haul Akbar Al-Falah Ploso. Sehari setelah Munas-Konbes selesai, Ploso akan disesaki 20-30 ribu jamaah dari seluruh Indonesia. Terbuka untuk umum. Dari forum tertutup para ulama, lalu dibuka untuk umat. Itulah NU.
Mengembalikan Ruh NU ke Pesantren
Makna Pesantren Ploso lebih dalam dari sekadar lokasi. Dengan Munas-Konbes kembali ke pesantren, berharap mengembalikan ruh NU yang sejati.
Dawuh Pengasuh Ploso KH Nurul Huda Djazuli: “Pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar. Keduanya tak bisa dipisahkan.”
Adapun semua keputusan Munas-Konbes NU diharapkan berpihak ke kiai, berpijak pada asas Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Karena NU hari ini menghadapi tantangan zaman, tapi kompasnya tidak boleh berubah: khidmah, wasathiyah, dan cinta NKRI.
Dari Ploso akan membuka dengan doa dan musyawarah. Di Bangkalan kita menutup dengan ruh dan tekad. Satu pesan: NU kembali ke rumah. Dan rumah itu bernama pesantren.
Semoga NU “Kembali Ke Akar” kembali ruh yang semestinya sebagaimana diharapkan para pendiri. (IHA)
Baca juga : LESBUMI Terbitkan “Maklumat Tambakberas 2026”: Seruan “Kembali ke Akar”





