Pondok Pesantren

Lebaran di Masa Pandemi, Catatan Sunyi Santri

Lebaran di Masa Pandemi, Catatan Sunyi Santri, Lebaran identik dengan berkumpul dan silaturrahmi antarsesama, keluarga, sahabat, teman, handaitolan, kolega, dan menikmati hidangan ketupat lebaran bersama-sama.

Siratan kebahagian bagi orang dewasa dan bocah terpancar. Orang dewasa suka ria menghias rumah, masjid-mushalla, gapura desa, bahkan kendaraan kesayangannya dengan ornamen-ornamen khas lebaran. Sementara bagi bocah, lebaran itu bepergian, makan enak, mendapat sangu (angpao), plesir, bermain dengan teman sebaya di tempat wisata, mendapat duit, dan lain-lain. Bulan lebaran, bulan membuat dan meninggalkan sesuatu kenangan yang indah.

Namun sebab pandemi perayaan Lebaran tahun ini telah direnggut kenestapaan. Banyak yang merasakan Lebaran terasa begitu hambar nan sepi.  Omah-omah pada sepi, ora ana sing ngambah krana jarang ana seng sowan. Bahkan tidak sedikit yang melakukan gerakan tutup pintu, memberlakukan PSBM (Pembatasan Sosial Berskala Mikro) hal ini maklumat ulil amri yakni pemerintah.

Sebagaimana diketahui bersama sejak awal pandemi di tahun 2020, pemerintah mengeluarkan sebuah maklumat yang berisisi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan tahun ini PSBM (Pembatasan Sosial Berskala Mikro yang konon demi menekan persebaran pagebluk yang tak kasat mata ini. Corona telah berhasil mengubah pola hidup manusia, mudik, juga telah berhasil merenggut kebahagiaannya.

Seperti tahun sebelumnya, tahun ini kita rayakan lebaran Idul Fitri di tengah segala keterbatasannya bahkan tradisi mudikpun dilarang. Sejak awal pemerintah sudah mengeluarkan “fatwa” melarang mudik dan mengurangi kegiatan yang menimbulkan kerumuman massa. Bahkan presiden Joko Widodo seolah mengajarkan pada kita warganya tentang halal bihalal, silaturahim—sungkem dan berjabat tangan—dilaksanakan dengan cara virtual: seperti video viralnya yang diunggah via medsos. Terlihat presiden Jokowi dan Ibu negara Iriana sungkeman halal bihalal pada wakil presiden KH Ma’ruf Amin dan Ibu wapres.

Barangkali Idul Fitri tahun ini terasa begitu sepi dan berat, terutama bagi orang-orang di perantauan yang mana muasal mereka orang-orang dari desa. Mereka rindu sebab ingin dan mestinya menziarahi tanah kelahirannya. Pun Bagi bayi-bayi yang lahir di tahun ini. Ia tak bisa “debut” mendapat sangu dari sanak famili.

Namun tidak dipungkiri tidak sedikit orang ingin mengulang perayaan lebaran sebagaimana tahun sebelum pandemi.
Lebaran tahun ini memang lebaran yang tak mengesankan tapi mudah-mudahan menjadikan pelajaran yang penuh makna. Perayaan lebaran tidak sehangat dan semeriah dulu, tahun-tahun sebelum-sebelumnya, tahun yang tak mengenal Corona covod19.

Tersebab oleh Corona, jadwal silaturahim dan sowan kepada tetangga diurungkan. Bahkan ke guru-guru dan kiai-kiai, tak banyak yang berani lakukan. Hal demikian untuk melindungi dan menjaga kiai-kiai dan guru-guru yang disayangi.

Tradisi Pisowanan

Pisowanan merupakan istilah yang biasa digunakan santri untuk menyebut kegiatan santri menghadap kiai atau alim ulama dan guru. Biasanya santri berkunjung kepada kiai dengan harapan mendapatkan petunjuk atas hal ihwal permasalahan yang dihadapi, mengharap solusi, pencerahan, doa dari kiai, guru atau sekedar bertatap muka silaturahim saja.

Perihal pisowanan atau silaturahim itu sudah mentradisi yang sungguh telah dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa bersilaturahim dapat menjadikan umur dan rezeki bertambah panjang.

Sowan dapat dilakukan oleh santri secara individu atau bersama-sama yakni dengan Tradisi Sungkeman, atau giat halal bihalal.

Seorang kiai, guru akan menerima para tamu dengan ramah, lapang dada dan musti diaturi menikmati hidangan yang telah disiap suguhkan, makanan kekhasan sang kiai.

Di momen Badha, Lebaran, Syawal atau Idul Fitri, mereka yang sowan tidak hanya para santri atau murid saja. Semua warga, berbagai kalangan bahkan dari luar pun sowan ke rumah kiai atau guru. Mereka datang dengan harapan mendapatkan berkah dari kealiman sang kiai atau guru. Disamping itu juga harap ingin mendengar wejangan, nasihat dan bahkan petunjuk. Oleh kalangan Nahdliyin, istilah ini disebutkan sebagai tabarukan, yang bermakna mengharap berkah dari kiai atau guru yang diberkati atau mustajabah karena kezuhudan dan kealimannya.

Bagi masyarakat luas, terutama bagi orang muslim Nusantara bagaimana giat tradisi Halal Bihalal, mereka sudah fahim maksud dan tujuannya apalagi bagi kalangan yang notabene masyarakat pesantren, tradisi tersebut, sowan-pisowanan sudah melekat.

Tradisi sowan tersebut ada sejak lama, turun temurun, dan sudah membumi, berlangsung hingga sekarang. Bagi santri maupun masyarakat, bisa mencium tangan kiai atau guru merupakan suatu keberkahan. Setelah mencium tangan kiai, guru dan ber-muwajjahah dengannya, hati dan pikiran menjadi tentrem, adem, tenang, dan damai. Seolah permasalahan di depan pasti akan teratasi. Semua itu berkat tabarukkan, doa orang alim, ulama kiai, guru, orang tua kita semua.

Baca Artikel Terkait:

Namun hal itu berbeda di bulan Syawal tahun-tahun selama wabah pandemi ini. Sowan ke rumah kiai tak bisa seleluasa seperti yang biasa dilakukan tahun-tahun sebelumnya.

Seperti diketahui Ramadhan tahun ini tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh Masjid-Mushalla oleh karena adanya pemberlakuan PSBM (pembatasan sosial berskala mikro). Masjid-Mushalla yang biasa ramai, dengan beragam giat semarak ramadhan, seperti pengajian kilat ramadhan, kumandang lantunan ayat suci dengan tadarus alqur’an, sholawat nabi dan kegiatan pengajian posonan, nujulul qur’an dan lainnya tiba-tiba hilang dari biasanya. Semua orang merasa kehilangan saat-saat itu. Saat-saat bulan penuh berkah itu.

Bukan hanya Masjid-Mushalla, Dunia pesantren pun merasakan betul dampaknya. Nyaris dirasakan oleh semua pesantren di Nusantara ini, mayoritas santri dipulangkan sebelum Ramadhan. Bahkan tidak sedikit pondok pesantren terpaksa memulangkan santrinya karena keterbatasan sarana dan prasarana yang memadai untuk menerapkan protokol kesehatan.

Jelas ini menjadi kesedihan jamak seluruh pesantren. Lebaran di Masa Pandemi tahun ini seolah dirajam perih. Lebaran yang mestinya gayeng direnggut kenestapaan. Dina Riyaya yang lumrah diisi dengan bersimpuh di pangkuan kiai, guru pun orangtua telah memenjara kerinduan bersama.

Halal Bi Halal kepada sanak kerabat dan handaitolan, Sungkem kepada kiai dan guru-guru, akhirnya cukup ditebus dengan isak tangis lewat pesan-pesan sedih dan via video call saja.

Alangkah nyata tetangga bilang bahwa Pagebluk, Pandemi Corona merusak tatanan tradisi, juga menyiksa batin manusia.

Pagebluk Corona telah membatasi ruang gerak serta interaksi sosial kita. Semoga, di balik situasi kondisi sunyi yang sepi ini, sejatinya tersimpan situasi batin yang ramai mengagungkan nama-nama-Nya, Illahi Rabbi ya Malikul Mulki dzaljajali walikrom..

Kita jaga, tetap merawat semangat silaturahmi dengan sesama dan semua. Terutama para guru dan kiai kita. Semoga Allah SWT melapangkan dada kita. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan keselamatan dunia akhirat. Amien

Kontributor M. Choirurahim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

three × two =

Back to top button