Khutbah Jumat: Spirit Kemerdekaan Menguatkan Tauhid, Meneguhkan Tawakal Kepada Allah SWT

NU Cilacap Online – Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan. Setiap tahun kita menyaksikan bendera Merah Putih berkibar di setiap penjuru negeri. Berbagai perlombaan digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan.
Khutbah Jumat pada kesempatan ini mengetengahkan judul: Spirit Kemerdekaan menguatkan Tauhid, Meneguhkan Tawakal Kepada Allah SWT”. Naskah khutbah ditulis oleh KH Muhammad Muslim Ketua LD PCNU Kabupaten Lasem.
Download Naskah Khutbah Jumat Bahasa Indonesia
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيمَانِ، وَأَكْرَمَنَا بِالْإِسْلَامِ، وَفَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلٰهًا وَاحِدًا أَحَدًا، فَرْدًا صَمَدًا، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, baik ketika berada di hadapan manusia maupun ketika sendirian. Sebab ketakwaan adalah bekal terbaik menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan. Setiap tahun kita menyaksikan bendera Merah Putih berkibar di setiap penjuru negeri. Berbagai perlombaan digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan.
Namun, sebagai seorang mukmin, marilah kita bertanya kepada diri sendiri.
Apakah jiwa kita benar-benar telah merdeka?
Dalam pandangan para ulama tasawuf, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika hati telah bebas dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah.
Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili رحمه الله pernah berpesan:
“الْحُرِّيَّةُ الْحَقِيقِيَّةُ أَنْ تَكُونَ حُرًّا مِنْ كُلِّ مَا سِوَى اللَّهِ.”
Artinya: “Kemerdekaan yang sejati ialah ketika engkau terbebas dari segala sesuatu selain Allah.”
Jama’ah shalat Jumat rahimakumullah
Penjajah boleh saja telah meninggalkan negeri ini puluhan tahun yang lalu. Akan tetapi, masih banyak manusia yang hatinya tetap terjajah. Ada yang diperbudak oleh jabatan, harta, pujian, ketenaran, bahkan oleh ketergantungan kepada sesama manusia.
Sering kali kita enggan melangkah sebelum ada bantuan. Kita menunggu uluran tangan orang lain. Kita berkata, “Kalau ada modal saya akan bergerak.” Atau, “Kalau ada yang mendukung, saya baru mulai.”
Padahal Allah telah menganugerahkan kepada setiap insan potensi yang berbeda-beda.
Dalam Al-Hikam, Syekh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari mengingatkan:
إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ
Artinya: “Keinginanmu meninggalkan sebab-sebab usaha, padahal Allah menempatkanmu pada medan ikhtiar, merupakan bagian dari hawa nafsu yang tersembunyi.”
Maksudnya, seorang mukmin harus bekerja, berusaha, berkarya, dan berjuang sesuai kemampuan yang Allah berikan, tetapi hatinya tetap bergantung hanya kepada Allah.
Inilah yang disebut para ulama sebagai الاعتماد على الله (al-i’timad ‘alallāh), yaitu bersandar sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Allah SWT berfirman:
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
Artinya: “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah: 8)
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Para ulama, santri, dan pejuang kemerdekaan dahulu tidak memiliki persenjataan yang lengkap. Mereka hanya membawa bambu runcing, namun hati mereka dipenuhi keyakinan kepada Allah.
Bambu runcing tidak akan mampu mengalahkan senjata modern jika hanya mengandalkan kekuatan manusia. Akan tetapi, ketika hati mereka dipenuhi tauhid dan tawakal, Allah menurunkan pertolongan-Nya.
Karena itu, mengisi kemerdekaan hari ini bukan hanya dengan mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga dengan menjadi pribadi yang bermanfaat.
Jika kita seorang petani, bertanilah dengan niat memberi manfaat bagi umat. Jika kita seorang guru, didiklah generasi bangsa dengan penuh keikhlasan.
Jika kita seorang pedagang, berdaganglah dengan jujur dan amanah. Jika kita seorang pelajar atau santri, belajarlah dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk jihad menuntut ilmu.
Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Jangan menunggu menjadi terkenal untuk berdakwah.
Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik. Gunakanlah apa yang Allah titipkan kepada kita hari ini.
Sebab kelak Allah tidak akan bertanya tentang apa yang dimiliki orang lain. Allah akan bertanya tentang amanah yang telah diberikan kepada diri kita.
Semoga Allah memerdekakan hati kita dari ketergantungan kepada makhluk, menjadikan kita hamba yang hanya berharap kepada-Nya, dan mengaruniakan kekuatan untuk terus berkarya bagi agama, bangsa, dan negara Indonesia.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِۙاِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، رَخَاءً سَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Download Khutbah Jumat bahasa Jawa
Editor bahasa: Khayaturrohman





