Khutbah Jumat, Allah Swt Memuliakan Orang-orang yang Bertakwa

NUCOM — Orang yang bertakwa dijanjikan berbagai kemuliaan hidup dalam dunia maupun akhirat. Berikut ini redaksi ketengahkan Khutbah Jumat, Allah Memuliakan Orang-orang yang Bertakwa.
Berdasarkan ajaran Islam, takwa adalah perisai sekaligus jalan mencapai kedudukan tinggi di sisi Allah SWT.
Al-Qur’an menyebutkan bahwa “sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13). Ini menegaskan bahwa takwa adalah satu-satunya tolok ukur kemuliaan yang hakiki, melampaui nasab, harta, maupun jabatan.
Sebagai perisai, takwa menjaga hati dari penyakit duniawi, dan sebagai jalan, yang menjanjikan jalan keluar, serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi pelakunya.
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah, Sesungguhnya Allah tidak akan mengabaikan kebaikan dan ketakwaan hamba-hamba-Nya. Dia tidak akan gagal memenuhi janji-janji-Nya, termasuk janji-janji-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, baik di dunia maupun di akhirat.
Berbagai kemuliaan (kemuliaan) orang yang takut kepada Allah SWT di dunia dan akhirat sangatlah banyak. Takwa adalah kunci keselamatan di dunia dan akhirat.
Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali telah menyebutkan beberapa bentuk kemuliaan yang telah Allah siapkan bagi orang-orang saleh yang bertakwa.
Pertama, orang saleh akan diringankan dan dimudahkan oleh Allah ketika ia menghadapi sakaratul maut.
Sementara itu, menurut salah satu riwayat, rasa sakit saat kematian seperti dicabutnya duri dari dalam tubuh secara tiba-tiba.
Kedua, orang yang saleh dan bertakwa akan diselamatkan dari pertanyaan dan cobaan di kubur.
Berbeda dengan orang-orang kafir. Orang-orang saleh seperti orang-orang yang diajari dan dibimbing dalam menjawab pertanyaan para malaikat Munkar dan Nakir.
Sebagaimana dalam beberapa riwayat, pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi siapa Tuhan yang disembah, agama yang mereka anut, para rasul yang mereka ikuti, kitab yang menjadi pedoman, dan siapa saudara-saudari mereka di dunia ini.
Hal ini juga tidak terlepas dari janji Allah, yaitu;
يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ
“Allah akan menguatkan orang-orang yang beriman dengan kalimat yang teguh di dunia dan di akhirat,” (QS. Ibrahim, ayat 27).
Jamaah shalat Jumat dimuliakan oleh Allah, Ketiga, orang-orang yang bertakwa akan diberi kabar gembira, kesenangan, dan keamanan oleh Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:
اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya, “Janganlah kamu takut, jangan pula bersedih, tetapi bergembiralah di surga yang telah Allah janjikan kepadamu,” (QS. Fussilat ayat 30).
Ini berarti bahwa orang-orang yang saleh tidak akan takut akan apa yang akan terjadi di akhirat.
Keempat, orang yang bertakwa akan diberi tempat di kuburnya, diberi cahaya yang terang, dan ditempatkan di salah satu taman Surga Allah hingga Hari Kiamat.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setelah seorang hamba menjawab pertanyaan orang yang tidak beriman dengan lancar, maka akan dikatakan, “Kalau begitu, berikanlah kepadanya sebuah taman Surga.” (HR. Abu Dawud).
Kelima, orang-orang yang bertakwa akan diselamatkan dari kekacauan Hari Kiamat, dibangkitkan dan dikumpulkan pada Hari Kiamat dalam keadaan kemuliaan yang agung dan istimewa, wajah mereka bersinar, sambil mengenakan mahkota, siap untuk datang dan pergi bersama Tuhan mereka, sebagaimana dikatakan:
وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ
Artinya, “Wajah orang-orang beriman pada Hari itu akan berseri-seri. Mereka akan melihat Tuhan mereka,” (QS. al-Qiyamah ayat 22-23).
Keenam, orang-orang saleh akan diberikan catatan amal mereka dari depan atau dari sebelah kanan.
Sementara itu, orang-orang celaka akan diberikan catatan amal mereka dari belakang atau dari sebelah kiri. Oleh karena itu, marilah kita lebih sering membaca doa ini saat berwudhu:
اللَّهُمَّ أَعْطِنِي كِتَابِي بِيَمِينِي وَحَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا
Artinya, “Ya Allah, berilah aku buku catatan amal di tangan kananku, dan perhitungan yang mudah bagiku.”
Ketujuh, orang-orang yang bertakwa akan diberi kemudahan dalam perhitungan amal mereka, dan sebagian dari mereka akan dibebaskan dari perhitungan. Di antara hal-hal yang akan dihitung adalah harta benda.
Diriwayatkan bahwa Nabi Isa, sebagai nabi termiskin, masuk Surga lima ratus tahun sebelum Nabi Sulaiman, sebagai nabi terkaya. Nabi Sulaiman masuk Surga lebih lambat karena ia lambat dalam perhitungan amalnya.
Kedelapan, timbangan amal orang-orang yang bertakwa akan diberatkan, dan sebagian dari mereka akan dibebaskan dari timbangan amal.
Kesembilan, orang-orang saleh akan dibawa ke danau Nabi dan diberi waktu untuk meminum airnya, di mana siapa pun yang meminum air danau Nabi tidak akan pernah merasa haus lagi sampai mereka masuk Surga.
Kesepuluh, mereka diselamatkan dan terlindungi ketika mereka menyeberangi jembatan As-Shiroth.
Perlu dicatat bahwa jembatan As-Shiroth adalah jembatan yang menghubungkan surga dan neraka. Siapa pun yang menyeberanginya akan jatuh ke neraka, menurut perbuatan mereka.
Orang-orang pada waktu itu yang menyeberangi jembatan siroth ini secepat kilat, ada yang secepat berlari, ada yang selambat berjalan, dan ada yang selambat berjalan. Meskipun demikian, bagi mereka yang terluka, ketajaman jembatan itu seperti ujung pedang.
Kesebelas, orang-orang yang bertakwa akan diberi syafaat para nabi dan rasul. Sebagaimana diketahui, syafaat terbesar disebut syafā‘atul udhma Nabi Muhammad SAW, yang juga merupakan syafaat pembuka. Setelah itu, hanya hamba-hamba lain yang dapat memberi syafaat.
Keduabelas, orang-orang yang bertakwa akan diberi pahala yang besar, kemudian dimasukkan ke surga kebahagiaan abadi, dan mencari keridhaan Allah, bahkan dapat bertemu langsung dengan-Nya, yang merupakan nikmat yang tak tertandingi, dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. (Imam Ghozali, Minhajul ‘Abidin, 104-105).
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bertakwa yang menerima berbagai macam kemuliaan dari Allah, di dunia dan akhirat. Amin, Tuhan semesta alam.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah Kadua
اَلْحَمْـدُ للهِ رَبِّ الْعَـالَمِيْـنَ، وَبِـهِ نَسْتَعِيْـنُ عَلَى اُمُـوْرِ الدُّنْـيَا وَالدِّيـنِ، وَالصَّـلاَةُ وَالسَّـلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْـبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْـنَ، وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْـبِهِ اَجْمَعِيْـنَ. اَشْهَـدُ اَنْ لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْـنُ، وَاَشْهَـدُ اَنَّ مُحَمَّـدًا عَبْـدُهُ وَرَسُـوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْـدِ اْلاَمِيْـنُ، اَللّـهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّـدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْـحَابِـهِ اَجْمَعِيْـنَ . اَمَّابَعْـدُ: فَـيَااَيُّـهَا النَّـاسُ اتَّقُـوْ اللهَ حَقَّ تُقَـاتِـه وَلاَتَمُـوْتُـنَّ اِلاَّ وَاَنْـتُمْ مُسْـلِمُـوْنَ. اَللّـهُمَّ اغْـفِرْ لِلْمُسْلِمِيْـنَ وَالْمُسْـلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْـنَ وَالْمُؤْمِنَـاتِ اَلْاَحْياءِ مِنْـهُمْ وَاْلاَمْـوَاتِ، رَبَّنَاأَنْزِلْنَا مُنْزَلاً مُبَارَكاً وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ. رَبَّنَا ٱفۡتَحۡ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَ قَوۡمِنَا بِٱلۡحَقِّ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡفَٰتِحِينَ ، رَبَّـنَا اَتِـنَا فِى الدُّنْـيَا حَسَنَـةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَـةً وَقِنَاعَـذَابَ الـنَّارِ. وَالْحَمْـدُ للهِ رَبِّ الْعَـالَمِيْـن





