Mengapa NU Lambat Maju? Part 1

NU CILACAP ONLINE – Mengapa NU Lambat Maju? NU punya prinsip, “المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح. Suatu kaidah al ushul al fiqh, yang mencerminkan sikap akomodatif dan fleksibel NU dalam berbagai tempat dan waktu.

Kaidah itu diambil tentu dalam rangka mengimplementasikan islam rahmatan lil ‘alamin. Islam dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin, jika islam mampu akomodatif, adaptif, dan fleksibel. Islam dapat menjadi rahmat bagi seluruh alam, maka semestinya nilai-nilai islam bersifat, sholih lii kulli zaman wal makan.

Setiap muslim meyakini, bahwa satu satunya agama yang Alloh turunkan, hanyalah islam. Sejak Nabi Adam, ilaa yaumil qiyamah, tidak ada agama lain selain islam. Sebagaimana firman Alloh,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Agama-agama yang sekarang ada, bagi setiap muslim, diyakini bukan agama yang datang dari Alloh. Andaipun ia datang dari Alloh, maka itu dituduh sudah banyak penyelewengan.

Karena datang dari Alloh, maka islam mempunyai keunggulan dibanding agama lain. Setiap muslim meyakini prinsip, al islamu ya’lu wa laa yu’la ‘ alaihi. Islam itu tinggi, dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggiannya.

Dalam konteks itulah, prinsip al mukhafadlotu ‘ ala qodhimishsholih wal akhdu bii jadiidil ashlah, dipedomani oleh NU.

Namun prinsip ini belum sepenuhnya dijalankan oleh NU. Bahkan hanya sebagian kecil prinsip-prinsip ini di jalankan oleh NU.

Misal, mempertahankan yang lama yang baik, ternyata justru banyak nilai-nilai buruk yang dalam kehidupan organisasi, justru dipertahankan hingga sekarang. Baca juga 9 Kaidah Berorganisasi dari Rais Syuriyah KH Suada Adzkiya

Ketika NU Harus Menjadi Jam’iyyah

Mari kita bahas persoalan NU, sebagai organisasi yang hidup di jaman sekarang. Dan tidak bisa sepenuhnya dikatakan bahwa NU sebagai Pesantren Besar, yang sebagian nilai-nilai organisasinya, mencerminkan nilai-nilai pesantren. Baca juga Doa Upacara Hari Santri Nasional 2025

Pesantren adalah warisan sejarah masa lalu, dan mereka pun sebagian sudah berkembang, tapi tetap mencerminkan wajah tradisionalistik, atau tepatnya, neo-patrimonialism. Baca juga In Memoriam KH Azizi Hasbullah, Sang Macan Lirboyo

Sebagai organisasi besar, bukan lokal, NU tidak boleh bertumpu pada figur-figur kharismatik. Semua harus tunduk kepada konstitusi organisasi, visi dan misi bersama, bukan perorangan.

Ketika organisasi terbentuk, pengurus sudah tersusun, program sudah disepakati, baik dalam forum musyawarah ranting sampai muktamar, maka di situ sudah tidak ada ruang demokrasi, diskusi, atau berdebat. Ruang demokrasi itu ada saat musyawarah atau muktamar, konferensi.

Setelah forum pemilu selesai, maka yamg ada adalah implementasi program, yang bertumpu kepada garis-garis besar organisasi. Semua pihak harus tegak lurus garis komando kepada ketua di semua level organisasi.

Komitmen ini yang kurang dari NU. Ketika program dijalankan, masih selalu banyak pertentangan karena like and dislike kepada ketua pelaksana program organisasi.

Fakta ini muncul kadang disebabkan sikap feodal patron- client dan pertarungan pengaruh secara internal. Suasana ini juga menimbulkan klik-klik dalam organisasi.

Klik ini bisa dikatakan kelompok-kelompok informal, yang mengganggu jalannya organisasi. Sumber lain kadang muncul, akibat banyak pengurus mencari kehidupan di organisasi.

Ini problem yang harus dipecahkan. NU harus menjadi tempat perjuangan. Setiap pejuang organisasi, harus membawa bekal, bukan mencari bekal.

Saya pinjam apa yang disampaikan KH. A Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau berkata, hidup hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.

Hal itulah yang hari ini kita saksiksn. Muhammadiyah berkembang pesat. Pengurus dan anggotanya teguh dan kuat dalam komitmen terhadap organisasi. Mereka “lebur ” dalam organisasi, sehingga ketika dalam organisasi, tidak mengenal A, B, C, D. Yang mereka kenal adalah Muhammadiyah dengan segala program dan tujuannya.

Hal ini seharusnya bisa diterapkan di NU, sehingga di NU tidak ada person yang mengandalkan kharisma nasab, tidak ada genk, tidak ada klik, tidak ada faksi-faksi, yang memecah organisasi.

Ilusi Peradaban Sang Ketua Umum

Anehnya, di masa ketika politik dan ekonomi adalah suatu bidang yang dominan saat ini, berpengaruh luas bagi kehidupan umat manusia, Gus Yahya masih bicara tentang ‘ “peradaban ” yang abstrak. Mau dibawa ke mana NU?

Gagasan peradaban merupakan hal yang terlalu besar bagi NU. Butuh perangkat yang lebih tajam daripada sekedar ide dan pikiran.

Pembangunan ekonomi merupakan program-program konkret bagi masyarakat Indonesia, wabilkhusus warga NU. Masyarakat kita adalah masyarakat agraris, suatu basic ekonomi pedesaan. Orang NU rata-rata hidupnya di desa.

Bentuk ekonomi agraris ini sedang menghadapi tantangan, yaitu urbanisasi tenaga kerja muda ke kota-kota, sebagai wilayah pusat ekonomi pull factor.

Ekonomi pertanian, perikanan, perkebunan, inilah yang harus digarap NU. Karena ada faktor proximity. Termasuk membangun lumbung pangan di desa-desa, koperasi, UMKM.

Pembangunan ekonomi ini akan membentuk ‘peradabannya’ tersendiri dan mampu menjadi fondasi yang kokoh, daripada suatu peradaban yang hanya dibangun atas fondasi gagasan dan ide-ide belaka.

NU harus mengerti tentang pergeseran nilai. Bahwa sekarang, ekonomi itu lebih penting dari segala-galanya. Termasuk untuk memjaga nilai-nilai keimanan dan ke-NU-an. Seperti kata sebuah hadist,

كَادَ اْلفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

Artinya: “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran.”

Penulis: Toufik Imtihani
Editor: Naeli Rokhmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button