Lesbumi, Kebudayaan, dan Jalan Perjuangan

NUCOM — Di tengah deru zaman yang makin bising oleh angka, algoritma, dan ambisi material, bangsa ini sesungguhnya sedang mencari sesuatu yang lebih hening, bermakna. Inilah Catatan Muktamar Kebudayaan di Jombang untuk Indonesia Jilid II: Lesbumi, Kebudayaan, dan Jalan Perjuangan.

Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi PBNU 12–14 Juni 2026 di Jombang, dengan tajuk “Kembali ke Akar”, hadir bukan sebagai seremoni biasa. Ia adalah pengingat bahwa peradaban besar tidak pernah dibangun hanya oleh mesin dan pasar, tetapi oleh rasa, nilai, dan cerita yang dirawat turun-temurun.

Opini ini lahir dari kegairahan yang oleh penulis: Embie C. Noer saksikan langsung di Tambakberas, Jombang: para kiai, seniman, budayawan, dan anak muda dari berbagai penjuru datang bukan untuk berdebat kosong, melainkan untuk meneguhkan satu keyakinan—bahwa kebudayaan adalah jalan perjuangan. Jalan yang halus, tetapi dalam. Jalan yang tidak berisik, tetapi menuntun.

Lewat tulisan ini, Embie C. Noer mencoba merangkum “Catatan dari Jombang untuk Indonesia Jilid II”. Sebuah ajakan agar Lesbumi tidak berhenti pada wacana, melainkan melangkah menjadi pusat karya, ruang rasa, dan gerakan nyata. Karena jika Indonesia ingin maju secara jiwa, maka kebudayaan harus kembali ditempatkan sebagai fondasi, bukan hiasan.

Selamat membaca.

Lesbumi, Kebudayaan, dan Jalan Perjuangan. Catatan dari Jombang untuk Indonesia Jilid II

Oleh: Embi C Noer, Pegiat Budaya, Seni, dan Film

Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi PBNU 12–14 Juni 2026 bertajuk “Kembali ke Akar” yang digelar di Universitas KH A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, dapat disimpulkan dengan satu kata: kegairahan. Lesbumi, Kebudayaan, dan Jalan Perjuangan. Dari Wacana ke Peradaban Nyata. Berikut Catatan dari Jombang untuk Indonesia Jilid II.

Kegairahan di sini bukan sekadar keramaian peserta, melainkan gelora para peserta dari berbagai daerah yang datang membawa harapan: semoga kebudayaan tetap punya tempat dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Muktamar Kebudayaan Lesbumi 2026 di Jombang menjelma ruang temu antara kebanggaan pada nilai tradisi dan semangat untuk merengkuh masa depan kebudayaan yang lebih maju, di tengah kondisi kebangsaan yang semakin kompleks.

Dalam setiap sesi diskusi, peserta seolah saling mengingatkan bahwa perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) tak pernah kering dari cita-cita dan harapan untuk memajukan kebudayaan.

Sebagaimana dawuh para pendiri NU, “Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik” (al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah), para peserta muktamar tampak sadar meletakkan setiap pandangan dan nilai yang baik agar tetap bersumber pada ajaran dan nilai-nilai Agama Islam. Ini prinsip menjaga fondasi kebudayaan agar tidak tercerabut dari akar utamanya.

Kebudayaan, Jalan Kemaslahatan

Forum muktamar menegaskan satu kesadaran: kebudayaan dan seni bukan pelengkap perjuangan. Kebudayaan dan seni adalah bagian dari jalan perjuangan menuju kemaslahatan umat dan bangsa. Ini sejalan dengan yang dirintis para tokoh NU: berjuang menegaskan bahwa “Islam datang bukan untuk menghapus budaya, tetapi untuk memuliakannya.”

Kini dunia bergejolak akibat tekanan ekonomi, disrupsi teknologi, hingga perubahan sosial. Namun krisis yang jarang disadari adalah krisis rasa. Rasa sebagai penuntun gerak peradaban. Ketika rasa melemah atau hilang, jalan untuk diterimanya kebenaran pun tertutup.

Dalam situasi seperti ini, seni sangat berperan. Sebagaimana sering disampaikan para ulama: “agama tanpa kebudayaan akan kering, dan kebudayaan tanpa agama akan kehilangan arah.”

Budayawan Lesbumi: Penjaga Nilai di Tengah Zaman

Bagaimana seharusnya budayawan Lesbumi hari ini? Mereka adalah jembatan antara nilai dan realitas. Penjaga tradisi sekaligus pembaca zaman, seniman yang peka pada penderitaan sosial, dan penggerak yang hadir di tengah generasi muda.

Kita di NU sering diingatkan para senior: manusia modern cerdas dan melek informasi, tetapi miskin makna. Tugas kebudayaan adalah mengembalikan makna itu ke ruang kehidupan.

Generasi muda hari ini tidak cukup diajak dengan narasi normatif. Mereka menuntut pengalaman dan rasa, karena ingin menemukan sendiri keindahan kebenaran yang kini sering terhutan menjadi pembenaran.

Karena itu, seni budaya kini bekerja bukan sebagai penceramah, melainkan penuntun pengalaman batin.

Indonesia Jilid II: Dari Wacana ke Peradaban Nyata

Jika kita bicara Indonesia Jilid II – fase baru yang lebih maju secara teknologi dan ekonomi – maka pertanyaan mendasarnya: apakah kita siap maju secara kebudayaan?

Lesbumi memikul tanggung jawab sejarah untuk menjawabnya. Diskusi saja tidak cukup. Merumuskan gagasan saja tidak cukup.

Lesbumi harus menjadi: pusat produksi karya budaya, ruang edukasi budaya publik, dan gerakan budaya nyata yang hadir di tengah masyarakat.

Sebagaimana semangat KH Abdul Wahab Hasbullah yang menjadikan budaya sebagai sarana dakwah yang hidup dan membumi, Lesbumi hari ini perlu menghidupkan kembali pendekatan itu dalam bentuk yang lebih kontekstual.

Tonggak Baru: Lesbumi sebagai Penjelasan Hidup

Saya mengusulkan satu hal sederhana namun mendasar: Lesbumi perlu menghadirkan sesuatu yang nyata – karya monumental sebagai penanda gerakan yang menjadi tonggak.

Sebuah simbol operasional bahwa kebudayaan bukan hanya dibicarakan, tetapi menghidupkan.

Lesbumi harus menjadi penjelasan hidup tentang kebudayaan dan seni kepada masyarakat. Bukan sekadar konsep, melainkan pengalaman nyata: film yang menggugah kesadaran, pertunjukan yang menyentuh rasa, ruang kreatif yang membuka partisipasi publik, dan gerakan yang mengajak generasi muda mencintai kebenaran melalui keindahan.

Menghidupkan Rasa, Menjaga Kebenaran

Lesbumi harus kembali pada kesadaran mendasar: manusia hidup tidak hanya dengan akal, tetapi juga dengan rasa.

Kebudayaan adalah cara merawat rasa.

Jika Lesbumi mampu menghidupkan rasa di tengah masyarakat, kebenaran tidak perlu diteriakkan, karena ia sudah dicintai.

Sebagaimana jalan para pendiri NU: perjuangan tidak selalu keras. Perjuangan bisa hadir dengan halus – melalui budaya, seni, keindahan. Dari situlah kita berharap Indonesia Jilid II tidak hanya maju secara materi, tetapi juga matang jiwanya.

Orientasi dan Strategi Kebudayaan Lesbumi ke Depan

Kebudayaan hari ini berada di persimpangan. Satu sisi dihantam arus globalisasi, digitalisasi, industrialisasi yang cepat. Sisi lain dituntut menjadi penopang identitas, nilai, dan arah kehidupan masyarakat. Di titik ini, kehadiran Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) makin penting – sebagai penjaga tradisi sekaligus penggerak peradaban. Lalu ke mana arah Lesbumi ke depan?

Orientasi Kebudayaan: Dari Pelestarian ke Transformasi

Kebudayaan sering dipahami sebatas pelestarian: tradisi dijaga, kesenian dirawat, warisan dipertahankan. Dalam konteks kini, orientasi sekadar pelestarian perlu diperluas.

Lesbumi terlalu sempit jika hanya menjadi lembaga pelestari. Lesbumi harus bertransformasi menjadi kekuatan kreatif yang mampu: menciptakan bentuk kebudayaan baru, mengolah tradisi agar relevan dengan konteks kekinian, dan menjadikan kebudayaan sebagai solusi persoalan sosial. Kebudayaan bukan hanya memori masa lalu, tetapi energi masa depan.

Dalam perspektif ini, kebudayaan adalah “apa yang diwariskan” sekaligus “apa yang diciptakan untuk menjawab zaman”.

Strategi Kebudayaan: Dari Wacana ke Karya

Tantangan utama gerakan kebudayaan adalah berhenti pada wacana. Diskusi berkembang, gagasan bertumbuh, tetapi tidak selalu berujung karya nyata.

Maka strategi utama Lesbumi ke depan harus bertumpu pada produksi karya. Karya adalah bahasa kebudayaan paling efektif: tidak menggurui, tetapi mengajak; tidak memaksa, tetapi menyentuh.

Lesbumi harus mendorong lahirnya karya seni kreatif bagi generasi muda: film yang mengangkat nilai kemanusiaan dan keislaman, musik yang menyentuh rasa generasi muda, pertunjukan yang menghidupkan kebermaknaan, serta karya digital yang menjangkau ruang-ruang baru. Dengan begitu, kebudayaan tidak hanya dibicarakan, tetapi dilakukan dan dialami.

Generasi Muda: Subjek, Bukan Objek

Strategi kebudayaan tidak akan berhasil tanpa pelibatan aktif generasi muda. Generasi muda jangan hanya jadi objek pembinaan. Mereka adalah subjek utama produksi kebudayaan masa depan.

Beri ruang bagi generasi muda untuk bereksperimen, berkreasi, bahkan salah. Dari situlah lahir inovasi kebudayaan.

Jika kebudayaan ingin hidup, ia harus tumbuh di tangan generasi muda.

Lesbumi harus mengubah pendekatan: dari instruktif menjadi partisipatif, dari pembinaan menjadi kolaborasi, dari wacana menjadi pengalaman peristiwa.

Kebudayaan sebagai Jalan Kebenaran

Peran penting kebudayaan adalah menjembatani manusia dengan kebenaran. Namun kebenaran tidak selalu bisa disampaikan langsung. Ia butuh medium halus yang menyentuh rasa. Seni berperan strategis di sini. Seni mengabarkan kebenaran dengan bahasa keindahan. Dan keindahan adalah pintu masuk penerimaan nilai.

Ke depan, Lesbumi perlu menempatkan seni sebagai medium dakwah kultural – upaya membangun kesadaran manusia secara utuh.

Ekosistem Kebudayaan: Dari Kegiatan ke Gerakan

Selanjutnya, Lesbumi harus membangun ekosistem. Kebudayaan butuh kesinambungan, tidak bisa hidup dari kegiatan sporadis.

Karena itu Lesbumi perlu mengembangkan ruang kreatif berkelanjutan, jaringan komunitas lintas daerah, platform distribusi karya, serta kolaborasi dengan pendidikan, pemerintah, dan pemangku kepentingan dunia kreatif lainnya. Dengan begitu, Lesbumi tidak hanya hadir dalam event, tetapi menjadi gerakan dalam keseharian masyarakat.

Menuju Indonesia Jilid II

Indonesia ke depan memasuki fase baru – Indonesia Jilid II. Fase ini ditandai kemajuan teknologi yang pesat, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan sosial super cepat.

Kita sadar: kemajuan tanpa kebudayaan – proses karsa, rasa, karya – akan melahirkan kekosongan makna. Inilah peran strategis Lesbumi: memastikan kemajuan bangsa tetap berakar pada nilai, rasa, dan kemanusiaan.

Lesbumi harus hadir sebagai penjaga arah, penggerak rasa, dan pencipta makna.

Orientasi dan strategi kebudayaan Lesbumi ke depan harus berpijak pada satu kesadaran: kebudayaan adalah jalan peradaban. Kebudayaan bukan pelengkap, tetapi fondasi. Bukan hiasan, tetapi penentu arah.

Jika Lesbumi berhasil bergerak dari pelestarian ke transformasi, dari wacana ke karya, dari kegiatan ke gerakan. Maka Lesbumi tidak lagi sekadar penjaga kebudayaan, tetapi aktif membentuk masa depan kebudayaan Indonesia. Inilah peran sejati Lesbumi: menghidupkan rasa, menjaga kebenaran, menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Peran ini selaras dengan esensi Pembukaan UUD 1945, dokumen kebudayaan penting yang oleh Ketua Lesbumi PBNU KH M. Jadul Maula disebut “naskah teks Pembukaan UUD 1945 itu suci”.

“… Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya… untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”

Jakarta, 17/06/2026.

Penulis Embi C Noer, Pegiat Budaya, Seni, dan Film. Tinggal di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button