Badan Otonom NU

PC Fatayat NU Cilacap Bertekad Jadi Organisasi Yang Terbuka

Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Cilacap bertekad untuk menjadi organisasi yang terbuka untuk permasalahan keumatan. Hal ini disampaikan oleh ketua PC Fatayat NU Cilacap Tun Habibah pada momen Taaruf Pengurus dan Penguatan Organisasi, Ahad 14 Maret 2021.

Acara yang digelar di Masjid Nur Cokrosiwojo PCNU Cilacap ini adalah kegiatan perdana kepengurusan PC Fatayat Baru di periode kepemimpinan Tun Habibah. Kegiatan ini sengaja digelar sebagai ajang bertaaruf atau perkenalan antar pengurus yang notabene masih baru.

Hadir dalam acara ini, wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama H Paiman Sahlan dan Dewan Kehormatan Fatayat NU Cilacap, Hj Hanifah Muyassarah. Dalam sambutannya, Wakil Ketua PCNU Cilacap H Paiman Sahlan menyampaikan bahwa pengurus PC Fatayat NU yang baru harus meluruskan niat.

“Pimpinan baru perlu luruskan niat, karena segala sesuatu tergantung pada niatnya. Orang masuk di NU itu tujuannya harus liddunya dan lil-akhirah sekaligus. Tidak boleh untuk tujuan duniawi semata, atau ukhrawi semata. Haru seimbang antara duniawi dan ukhrawi,” katanya

Lebih dari itu, H Paiman Sahlan menambahkan, Fatayat NU adalah kader NU. Anggota dan pengurus Fatayat harus memegang tegu Aswaja, karena ini adalah identitas NU.

Baca Juga :

Sementara itu, Dewan Kehormatan Fatayat NU Cilacap Hj Hanifah Muyassarah menjelaskan filosofi Bunga Melati yang menjadi lambang dalam logo Fatayat. Menurutnya melati adalah bunga yang secara ekonomis harganya relative murah bila dibandingkan bunga lain sekelas mawar atau anggrek. Namun demikian justru keberadaan melati lebih mendatangkan manfaat dibandingkan bunga yang lain dikarenakan semerbak baunya yang menenangkan.

PC Fatayat NU
dewan kehormatan PC Fatayat NU Cilacap. tengah Hj Hanifah Myassarah, samping kanan Dr Zulfatun Ni’mah, kiri Ismah Mudhof

“Demikian perumpamaan Fatayat itu bagaikan bunga melati yang kehadirannya di tengah-tengah masyarakat membawa ketenangan dan ketentraman karena sikap dan peran aktifnya di tengah masyarakat. Untuk itu organisasi Fatayat harus menjadi organisasi yang terbuka bagi masalah keumatan,” tegas Hj Hanifah Muyassaroh.

Ada program yang terkait dengan kasus-kasus perempuan, misal penaanganan masalah KDRT, terhadap perempuan maupun anak; perhatian terhadap para penyandang disabilitas, serta program untuk penanganan buruh migran.

Pernyataan senada diungkapkan oleh Ketua PC Fatayat NU Cilacap Tun Habibah. Pihaknya mengaku bertekad untuk mewujudkan Fatayat menjadi organisasi yang terbuka.

“Fatayat NU Organisasi Terbuka. Terbuka dalam artian, siap untuk menjalankan program dan kegiatan dalam perencanaan dan pertanggungjawaban yang seimbang, juga dalam hal menjembatani permasalahan keumatan khususnya perempuan”, tegasnya.

Baca Juga :

Kegiatan taaruf tersebut sekaligus penguatan organisasi Fatayat oleh wakil Sekretaris PCNU Cilacap H Munawar A.M., yang menyampaikan bahwa Fatayat sudah saatnya mempetimbangkan adanya pergeseran mindset dalam berorganisasi.

Yang pertama, From Profit to Purpose. Pergeseran dari orientasi tujuan-tujuan yang bersifat profit kepada tujuan-tujuan yang bersifat penguatan perwujudan cita-cita. Target-target kuantitatif organisasi harus diseimbangkan dengan target-target kuantitatif dan sebaliknya.

Kedua, kesadaran struktural hierarkis harus disandingkan dengn kesadaran struktural-jaringan. Dalam struktur jaringan, semua anggota pengurus memiliki kesempatan akses yang sama dari pemikiran dan peran, sekaligus meminimalisir dominasi struktural.

Ketiga, from Controlling to Empowering. Kepemimpinan organisasi dengan kendali penuh, full control, hari ini tidak relevan. Sebaliknya, semakin dibutuhkan kepemimpinan yang memberdayakan, pimpinan memberikan kesempatan dan porsi yang memberdayakan kepada semua anggota

Baca Juga : Berpegang Pada Prinsip : Taushiyah Harlah Ke-62 Fatayat NU

Keempat, from Planning to Experimentation. Perencanaan kegiatan sudah selayaknya mempertimbangkan aspek eksperimentasi dan keterlibatan eksperimentatif pelakunya. Perencanaan yang tanpa sentuhan eksperimen berpotensi menjauhkan pelaku dari tanggungjawab.

Kelima, From Privacy to Transparancy. Keterbukan yang dibutuhkan organisasi adalah keseluruhan aspek baik dari sisi pegiatnya maupun dari program dan kegiatannya. Program dan kegiatan tidak tersentral pada individu, melainkan pada kepengurusan secara kolektif.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button