Badan Otonom NUDokumentasi

Harlah Fatayat NU ke 71, Sambutan Ketua PC Fatayat NU Cilacap

Harlah Fatayat NU ke 71 mengambil tema Adaptasi Tantangan Masa Kini Untuk Ketahanan Perempuan, berikut ini sambutan Ketua PC Fatayat NU Cilacap, Tun Habibah, selengkapnya sebagai berikut:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

PCNU Cilacap yang Terhormat, Dewan Pembina PC Fatayat NU Cilacap, Dewan Kehormatan PC Fatayat NU Cilacap dan Pengurus Banom NU PC Muslimat NU Cilacap, PC GP ANSOR Cilacap dan PC IPNU IPPNU Cilacap dan Pengurus dan Bidang Pimpinan Cabang, Anak Cabang, Ranting dan Anak Ranting Fatayat NU serta anggota Fatayat NU di seluruh Cilacap yang Saya cintai dan Saya banggakan, dan hadirin rahimakumullah,

Alhamdulillah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya sehingga kita bisa menapaki dan melanjutkan perjuangan di Fatayat NU yang kita cintai ini, dan tahun 2021 ini telah memasuki Masa Khidmat yang ke-71 tahun. Semoga semua ikhtiar, perjuangan, pengorbanan dan keihlasan kita mengabdi untuk agama dan bangsa serta untuk melayani ummat ini mendapat limpahan pahala dari Allah SWT dan semoga tercatat sebagai amal jariyah. Amin Ya Robbal alamin.

Selanjutnya sholawat serta salam kita sanjungkan keharibaan Rosulullah Muhammad SAW, sang penerang jalan kehidupan ke arah yang benar sehingga kita terhindar dari kegelapan. Semoga kita semua akan mendapat syafa’at beliau di hari akhir nanti. Amiiin. Warga Muslimat NU yang Saya hormati.

Allah SWT Berfirman dalam Surah Attaubah ayat 41

اِنْفِرُوۡا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوۡا بِاَمۡوَالِكُمۡ وَاَنۡفُسِكُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ‌ ؕ ذٰ لِكُمۡ خَيۡرٌ لَّـكُمۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Sahabat Fatayat NU yang Saya banggakan dan saya sayangi. Pada Harlah Fatayat NU ke 71 ini, kita mengambil tema Adaptasi Tantangan Masa Kini Untuk Ketahanan Perempuan. Tema ini cukup singkat namun memiliki arti dan harapan yang sangat dalam. Makna ADAPTASI bukan hanya mampu menyesuaikan diri terhadap sesuatu, namun mampu mengatasi tekanan untuk tetap memberi sesuatu yang terbaik, dengan setia dengan tulus ikhlas, pada jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) kita yang bermanhaj Aswaja, Ahlussunah wal jamaah.

Sebagaimana slogan Kita Fatayat NU siap berkhidmat, Kata hidmat ini adalah ajaran para ulama dan para guru kita. Kidmat ini adalah kultur keseharian yang Insya Allah sudah terpupuk lama dan menjadi ‘menara air’ bagi benak, fikiran dan gerak langkah pimpinan, pengurus serta anggota Fatayat NU.

Bahwa dalam berkontribusi itu kita berjalan dengan lurus dan tulus ikhlas disertai doa – doa kepada Allah SWT agar dalam setiap langkah segala tujuan selalu dalam ridlo Allah SWT. Bisa dikatakan bahwa kata hidmat ini adalah ‘tagline’ perjuangan Fatayat Nahdlatul Ulama dan kultur kerja Fatayat Nahdlatul Ulama baik di jam’iyah, di kalangan masyarakat professional maupun sampai merasuk ke lingkungan rumah tangga.

Kata Khidmat adalah ruh cinta kita terhadap anak, keluarga, organisasi, kepada bangsa dan negara serta agama. Dalam Harlah Fatayat NU ke 71”. Saya mengajak kita semua untuk menjadikan Tema Adaptasi Tantangan Masa Kini Untuk Ketahanan Perempuan ini sebagai falsafah perjuangan kita di Fatayat NU.

Anggota Fatayat NU yang Saya hormati.

Selanjutnya kalimat Tantangan Masa Kini Untuk Ketahanan Perempuan bisa kita maknai dengan situasi dimana para pemimpin dan rakyat Indonesia dapat melakukan yang terbaik untuk negara dan bangsa. Dengan cara apa? Dengan kemandirian dan kebebasan untuk menentukan diri sendiri serta ikhtiar menentukan hal hal penting dari Umat dan untuk Umat.

Di era emansipasi seperti sekarang, perempuan acapkali masih ada yang dianggap sebagai kelompok kelas kedua (subordinat) sehingga mereka tidak memperoleh persamaan hak dengan laki-laki. Perempuan dinilai hanya becus dalam melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan urusan rumah tangga.

Perempuan bisa menjadi aktor strategis di dalam pembangunan. Tidak hanya pembangunan di desa-desa, tetapi juga pembangunan secara nasional yang dapat mengubah kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera.

Seiring berjalannya waktu, perempuan mulai bangkit dan berhasil membuktikan bahwasanya keberadaan mereka layak untuk diperhitungkan. Kecerdasan serta kepiawaian perempuan-perempuan Indonesia, khususnya, tidak bisa lagi dianggap remeh karena telah turut berkontribusi terhadap pembangunan.

Salah satu contoh, peran perempuan di dalam upaya meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Di sektor perikanan, data Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) 2015 menyebutkan, perempuan mengerjakan 70% pekerjaan produksi perikanan dengan waktu kerja hingga 17 jam.

Mulai dari menyiapkan bahan bakar, perbaikan alat menangkap ikan, memasak bahan makanan untuk nelayan laki-laki. Setelah ikan tiba di dermaga, perempuan kemudian berperan sebagai penjual atau pengupas kerang. Mereka juga ahli dalam mengolah ikan menjadi makanan siap saji, seperti tekwan, sambal, ataupun kerupuk sehingga harga jual harga jual produk ikan menjadi naik.

Demikian juga keterlibatan perempuan pada bidang-bidang lain, termasuk politik dan pemerintahan. Di era kepemimpinan Presiden KH Abdurrahman Wahid, perempuan kian diberdayakan dengan ditetapkannya peraturan mengenai kuota 30% untuk keterwakilan perempuan dalam politik.

Meskipun, dalam praktiknya, tidak semua perempuan yang berkecimpung di bidang politik memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan-keputusan strategis. Namun setidaknya, mereka mampu merepresentasikan kehadiran serta menyuarakan aspirasi perempuan di level kebijakan pemerintah.

Dalam sebuah forum Trading Development and Gender Equality yang berlangsung di sela Asian Development Bank Annual Meeting 2019 di Nadi, Fiji, Sabtu (4/5) lalu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Menteri PPN/ Bappenas) menyebutkan kaum perempuan adalah aset, potensi, dan investasi penting bagi Indonesia yang dapat berkontribusi secara signifikan sesuai kapabilitas dan kemampuannya.

Lebih mengerucut, dalam konteks pembangunan, pengarusutamaan gender, dan pemberdayaan perempuan begitu erat kaitannya dengan memperbaiki kualitas generasi penerus bangsa. Mengingat, perempuan adalah pendidik pertama di dalam keluarga.

Dalam kaitan ini Fatayat NU akan terus bertekad untuk mengangkat derajatnya, berkontribusi, menguatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia yang lebih sejahtera. Fatayat NU akan melanjutkan kiprahnya melalui bidang dakwah dan litbang, bidang ekonomi, bidang pendidikan, bidang sosial, budaya, lingkungan hidup.

Fatayat NU akan terus menguatkan lembaga Fatayat NU, dan akan tetap mendukung terwujudnya bangsa yang kuat dengan mengedepankan kerukunan dan kesatuan. Dalam konteks kemasyarakatan maka Fatayat NU akan selalu terdepan dalam membangun ekonomi perempuan dan ketahanan dalam menjaga marwah jam’iyah NU.

Sahabat Fatayat NU yang Saya banggakan dan saya sayangi,

Dalam kesempatan Harlah Fatayat NU ke 71 ini pula Saya ingin sampaikan beberapa hal penting yang berkaitan dengan situasi terkini, dengan tetap mensyukuri nikmat apa saja yang telah Allah berikan kepada kita semua.

Pertama, kita masih bergulat dengan situasi Pandemi covid-19. Pemerintah dan masyarakat akan terus berusaha untuk menekan angka ketertularan dan menekan angka kematian sambil mendorong masyarakat untuk tetap menjaga, tetap disiplin dan patuh terhadap protokol kesehatan. Bersama masyarakat pemerintah terus berusaha untuk menguatkan institusi kesehatan.

Di bidang penguatan kebangsaan Fatayat NU akan tetap terdepan dalam bidang penguatan solidaritas sosial. Ini adalah nilai atau sikap hidup dan perilaku yang memiliki rasa kebersamaan dalam mengatasi masalah, rasa kebersamaan dalam menanggung beban orang lain atau kelompok lain, dengan bentuk kemauan untuk berkorban waktu, memberikan sumbangan tenaga, pemikiran, biaya dan pengorbanan lain untuk mengatasi masalah bersama secara ikhlas tanpa pamrih.

Kedua, Saya mohon agar kita tetap bersemangat untuk berkerja dan berkhidmat. Oleh sebab itu melalui pidato peringatan Harlah Fatayat ke-71 ini kita harus tetap menguatkan jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) kita sambil menguatkan program strategis menuju NU satu abad di tahun 2026, dan menyiapkan memasuki abad kedua.

Fatayat NU sudah memiliki renstra yang telah kita susun bersama. Saya tahu hal – hal yang strategis kita tetap berkhidmat sesuai dengan rencana strategis tersebut dan akan mempertimbangkan hal – hal dinamis yang berkembang dalam masyarakat. Oleh sebab itu, kita harus tetap solid dan terus – menerus menyempurnakan gerakan berorganisasi kita.

Pada kesempatan ini pula ijinkan Saya untuk menyampaikan hal khusus yang Saya anggap penting untuk penguatan ideologi Aswaja yang akan memperkuat kerlangsungan jam’iyah sekaligus kekuatan Indonesia di mata ummat Islam dunia dengan ajaran Islam Washathiyah.

Saya berharap agar Lembaga Pendidikan Fatayat NU, daiyah – daiyah dan dosen serta guru – guru Fatayat NU menguatkan hal ini. Penguatan pendidikan aswaja, tetap istiqomah mensyiarkan perilaku Aswaja ini melalui dakwah baik langsung maupun melalui media sosial yang lebih menyentuh anak – anak muda.

Syiarkan Aswaja Al Nahdhiyah ke dalam dan ke masyarakat luas. Karena Saya yakin ini adalah keunggulan jam’iyah kita tercinta. Salah satu program penting Fatayat NU adalah menjaga akhlak anak anak dari berbagai pengaruh, oleh sebab itu kami mohon para ning Nyai pengasuh pondok pesantren menuliskan buku – buku saku Aswaja Al Nahdliyah agar kader dan anak anak kita dapat memiliki perilaku dan cara berfikir Aswaja.

Buatlah buku – buku Aswaja dan bahan ajar yang menarik sehingga secara mudah dan bisa dijadikan pegangan hidup dan kehidupannya. Kita harus pastikan anak – anak kita memiliki cara ibadah, cara fikir dan cara hidup ala Aswaja An-Nahdhiyah.

Di bulan penuh rahmah dan barokah. Bulan puasa yang agung ini. Puasa Ramadhan sangat erat hubungannya dengan kepedulian sosial. Nabi Muhammad SAW dalam masa hidup beliau meningkatkan amalan shalat malamnya di bulan suci ini sekaligus memberi teladan untuk berbagi.

Secara esensial puasa adalah mengendalikan diri. Esensinya adalah kemauan berbagi, terbinanya rasa kepedulian sosial, salah satunya memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan. Saya melihat, muncul kesukacitaan masyarakat untuk membantu dan memperhatikan mereka yang membutuhkan pertolongan serasa meningkat di berbagai kalangan.

Orang – orang kaya menyisihkan sebagaian hartanya untuk mereka yang membutuhkan. Tampak jelas nyata bahwa masyarakat Indonesia yang berpunya ikut meningkatkan kepedulian sosial. Fatayat NU dalam hal ini akan menguatkan program kepedulian sosial.

Dalam situasi kebangsaan yang sekarang ini jelas Fatayat NU di semua jajaran mohon untuk tetap menekankan pentingnya memperkuat persatuan dan kesatuan dalam rangka meneguhkan dan merawat kebhinnekaan dalam persatuan. Para ulama dan pimpinan pondok pesantren selalu menekankan pentingnya Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah dan Ukhuwah Insaniyah.

Ajaran Islam juga mewajibkan kita untuk selalu meningkatkan filantropisme yaitu semangat atau kesadaran mendekati Sang Pencipta dengan jalan memberi, mencintai orang papa dan membantu sesama, berhubungan kuat dengan pesan moral untuk berbahagia dalam membantu sesama atau happy to help others untuk meningkatkan rasa yang berkaitan dengan kata giving, loving and caring; memberi, mencintai dan peduli.

Semoga Allah SWT memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada kita semua. Semoga Fatayat NU Cilacap dan seluruh pimpinan serta para anggota selalu mendapat bimbingan dan ma’unah Allah SWT. Aamiin.

DIRGAHAYU FATAYAT NU YANG KE-71

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriq
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

CILACAP, 24 APRIL 2021
PC FATAYAT NU CILACAP
Ketua

 

Tun Habibah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

10 − ten =

Back to top button