Jejak Ulama

500 Lebih Ulama & Kiai Pesantren Meninggal Dunia Sejak Pandemi

Sebanyak 500 lebih kiai dan ulama meninggal dunia selama pandemi COVID-19, demikian ungkap Wakil Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Abdul Ghaffar Rozin, dilansir dari situs MUI, pada Senin (5/7/2021).

Pria yang akrab disapa Gus Rozin itu mengatakan kasus COVID-19 banyak menerpa pimpinan pesantren di Madura, Kudus, Pati, Demak, hingga Jepara. Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini juga mengaku memiliki data bahwa terjadi peningkatan jumlah ulama yang menderita COVID-19.

“Peningkatan penularan yang sangat signifikan terhadap para Ulama, Kiai dan pengasuh pesantren terutama di seluruh wilayah Madura dan wilayah lain seperti Jawa Tengah wilayah utara seperti Pati, Kudus, Demak, Jepara, dan daerah lainnya secara merata,” kata Gus Rozin.

Dia mengatakan pesantren sebenarnya memiliki tingkat kesadaran tinggi terkait bahaya COVID-19. Namun kasus COVID-19 mulai meningkat setelah libur Lebaran. Kondisi itu diperparah oleh kemunculan varian baru Corona sehingga hal itu menjadi salah satu faktor dalam meningkatnya kasus COVID-19 di lingkungan pondok pesantren.

Berdasarkan data dari RMI PBNU hingga Minggu, 4 Juli 2021, sebanyak 541 kiai, Senin, 5 Juli 2021 menjadi 584, dan Selasa, 6 Juli Menjadi 595 yang wafat di tengah pandemi COVID-19.

Gus Rozin mengimbau pondok pesantren yang pendidikannya berada di dalam kompleks agar memperketat protokol kesehatan. Selain itu, dia mengimbau agar tidak memulangkan santri dan membatasi keluar masuk tamu. Pesantren juga diminta menyiapkan ruang isolasi dan standarnya.

Sedangkan bagi pendidikan santrinya di luar kompleks, apalagi yang aktivitas sekolahnya bercampur dengan siswa dari luar, dia mengimbau agar pembelajaran dilakukan secara online.

Dia juga berpesan kepada para jemaah, alumni dan wali santri agar menghindari mengundang kiai untuk hadir dalam acara yang dapat mengundang banyak orang. Menurutnya, mereka cukup meminta doa restu saja kepada sang kiai.

Terakhir, dia mengimbau kepada masyarakat untuk selalu ikhtiar. Gus Rozin mengatakan ikhtiar merupakan hal yang wajib sebagai bagian dari mewujudkan maqashid syariah, yakni hifdhun nafs (menjaga jiwa), bahwa salah satu wujud paling nyata dalam ibadah kita pada Allah adalah menjaga jiwa sesama manusia.

“Patuhilah protokol kesehatan dan arahan pemerintah karena tidak bertentangan dengan syariah.,” tutur dia.

Baru-baru ini, tegasnya, ada 595 ulama meninggal dunia sejak Februari 2020 hingga awal Juli tahun 2021.

“Itu data sejak Maret tahun 2020 lalu,” ungkapnya kepada NUCOM via aplikasi pintarnya, Selasa Siang (6/7/2021).

Gus Rozin mengatakan 595 ulama wafat itu tercatat hingga Selasa (6/7/2021). Meski demikian, dia enggan menyebut penyebab meninggalnya para ulama tersebut.

“Tentu sangat sulit menyebut semua disebabkan COVID-19. Tidak semua keluarga yang ditinggalkan juga nyaman disebut demikian,” ucapnya.

Gus Rozin menambahkan, jumlah ulama yang wafat tidak sebanyak di masa pandemi. Pada 2019, tercatat ada 70 ulama yang meninggal dunia dalam satu tahun. Namun jika diperbandingkan dengan wafatnya ulama tahun 2019 yang di bawah 70 orang tentu sangat jomplang.

Pada Senin (5/7/2021), jumlah kematian akibat COVID-19 di Indonesia mencapai angka tertinggi. Jumlah kematian harian tercatat sebanyak 558 kasus. Sehingga, total sudah ada 61.140 orang di Indonesia meninggal akibat terpapar virus corona. Jumlah itu, merupakan bagian dari total kasus COVID-19 di Tanah Air yang kini mencapai 2.313.829

Sementara itu, pasien COVID-19 yang dinyatakan sembuh per 5 Juli 2021 ada sebanyak 14.416 orang. Total, pasien sembuh yang terpapar COVID-19 sudah ada sebanyak 1.942.690 orang. Sedangkan, sebanyak 309.999 kasus lainnya berstatus aktif, artinya masih menjalani perawatan maupun isolasi.

Menteri Luhut sebut varian delta sudah ada 90 persen di Jakarta sehingga kasus COVID-19 bukan lagi hal yang bisa dianggap enteng.

“Saya ingin tidak boleh ada yang main-main mengenai ini, kita harus kompak mengenai ini,” ujar Luhut dalam keterangan persnya yang disiarkan langsung di kanal YouTube Kemenko Marves, Senin (5/7/2021).

Selain itu, Luhut juga menyebut bahwa varian delta telah ada di Jakarta sebanyak 90 persen. Sehingga, ia meminta masyarakat lebih berhati-hati.

“Jadi varian Delta sudah ada 90 persen di kita, jadi kalau kita bermain-main, saya katakan tadi pasti bisa kena siapa saja di sekeliling Anda. Itu aja pesan dari saya,” ucapnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

5 × five =

Back to top button