Jejak Ulama
Trending

Sekilas Riwayat Menjelang KH Muhammad Hasyim Asy’ari Wafat

Sekilas Riwayat Menjelang Hadlratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari Wafat ini ditulis diniatkan untuk tabarukan kepada Pendiri Nahdlatul Ulama, Pejuang Kemerdekaan RI. Pahlawan Nasional, yang wafat tanggal 7 Ramadhan 1366 H, 75 tahun yang lalu. LahuLFatihah…….

Hadlratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari terlahir pada Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H (14 Februari 1871 M) di Pesantren Gedang Tambakrejo Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.

Surat dari Jendral Sudirman

Diriwayatkan sebagaimana buku ‘Profil Pesantren Tebuireng’ dan dilansir NU Online, tertulis bahwa tanggal 3 Ramadhan 1366 H bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1947 M Hadhratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari selesai mengimami shalat Tarawih pada jam 9 malam. Sebagaimana hal ikhwal kebiasaannya, diceritakan bahwa dalam tradisi mau’idul husna beliau selalu duduk di kursi, dalam kesempatan itu beliau memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat.

Beberapa waktu kemudian datanglah tamu ‘penting’ mengaku utusan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo. Mbah Hasyim pun menemui utusan tersebut, sang tamu didampingi Kiai Ghufron yang adalah pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.

Baca Juga : Biografi Singkat KH. Hasyim Asy’ari

Sang tamu menyampaikan salam hormat dan menyampaikan surat dari Jendral Sudirman yang berisi 3 pesan pokok. Kepada utusan kepercayaan Jendral Soedirman dan Bung Tomo tersebut Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir, bermunajat dan selanjutnya memberikan jawaban. Isi pesan tersebut adalah:

  1. Di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Besuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro dan Madiun.
  2. Hadhratus Syaikh dimohon berkenan untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh.
  3. Jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kiai Hasyim.

Keesokan harinya Mbah Hasyim memberikan jawaban bahwa beliau tidak berkenan menerima tawaran yang disampaikan.

Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M, sekitar pukul 21.00 WIB datang lagi utusan Jendral Soedirman dan Bung Tomo. Kedatangan utusan tersebut dengan membawa surat untuk disampaikan kepada Hadhratus Syaikh Kiai Hasyim.

KH Muhammad Hasyim Asy’ari Wafat

Secara khusus Bung Tomo memohon kepada Kyai Hasyim mengeluarkan komando ‘jihad fi sabilillah’ bagi umat Islam Indonesia. Karena saat itu Belanda tengah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadhratus Syaikh kembali meminta waktu semalam untuk memberi jawaban.

Tidak lama berselang, Mbah Hasyim mendapat laporan dari Kiai Ghufron selaku pimpinan Sabilillah Surabaya bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa Kota Singosari Malang yang juga merupakan basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda.

Kondisi para pejuang pun semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu Mbah Hasyim berujar: “Masya Allah, Masya Allah…” sambil memegang kepalanya, tapi hal ini ditafsirkan oleh Kiai Ghufron bahwa beliau sedang mengantuk.

Akhirnya para tamu pun pamit keluar, tetapi Mbah Hasyim tetap diam tidak menjawab. Sehingga Kiai Ghufron mendekat ke Mbah Hasyim, dan meminta kedua tamu tersebut meninggalkan tempat. Tak lama kemudian Kiai Ghufron baru menyadari bahwa Mbah Hasyim dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sehingga dengan tergopoh-gopoh ia memanggil keluarga dan membujurkan tubuh Mbah Hasyim.

Kala itu putra-putri Mbah Hasyim sedang tidak berada di Tebuireng. Tapi tidak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar sang ayahanda tidak sadarkan diri.

Sang putra Kiai Yusuf Hasyim yang waktu itu sedang berada di markas tentara pejuang, dengan upayanya kemudian dapat mendatangkan seorang dokter, yakni dr. Angka Nitisastro.

Setelah diperiksa, barulah diketahui bahwa Mbah Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius. Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain. KH Muhammad Hasyim Asy’ari Wafat pada waktu saat waktu sahur pukul 03.00 dini hari pada tanggal 07 Ramadhan 1366 H bertepatan dengan 25 Juli 1947.

3 Fatwa Mbah Hasyim Asy’ari

Atas jasa-jasa beliau selama perang raih kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan 3 fatwanya yang sangat penting, yakni:

  1. Perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia.
  2. Kaum Muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda.
  3. Kaum Muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah Belanda.

Maka Presiden Soekarno dengan Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional.

Baca Juga : Muqoddimah Qonun Asasi Hadrotusyekh Hasyim Asy’ari

Sedikit berbeda dengan kutipan di atas, Kiai Sanusi Lebaksiu Tegal yang merupakan santri Mbah Hasyim Asy’ari menuturkan bahwa sehari menjelang wafat sang gurunya itu dirinya sedang turut mengaji. Seperti tidak terjadi apa-apa, sebagaimana laiknya orang yang sehat, Mbah Hasyim mengajar sebuah kitab di hadapan para santrinya. Hal tersebut merupakan rutinitas Mbah Hasyim setiap ba’da Shubuh.

Sebagai salah satu saksi mata, Kiai Sanusi menyaksikan tatkala Mbah Hasyim sedang membacakan kitab tiba-tiba terdiam menundukkan kepalanya. Para santri mengira beliau hanya sedang mengantuk. Tapi setelah salah seorang santrinya mendekat (mungkin Kiai Ghufron, sebagaimana kutipan di atas) dan memastikan keadaan Mbah Hasyim, ternyata gurunya itu telah tiada.

Sontak saja para santri yang saat itu sedang mengaji geger bercampur duka yang mendalam. Guru yang sangat dicintainya itu telah kembali ke haribaan Ilahi Rabbi. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, kabar kewafatan Pendiri NU dan Pesantren Tebuireng itu pun dengan cepat tersiar ke berbagai penjuru tanah air.

Rasa bela sungkawa yang amat dalam datang dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga Nahdlatul Ulama dan terlebih para santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini terbaring di pusara beliau di tengah Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Baca Juga : KH Wahab Hasbullah Pahlawan Nasional Pendiri NU

Pada saat mengantar kepergiannya, sahabat sekaligus saudara beliau, KH A. Wahab Hasbullah, sempat mengemukakan kata sambutan. Inti dari sambutan Mbah Wahab adalah menjelaskan tentang prinsip hidup Hadlratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, di antaranya: “Berjuang terus dengan tiada mengenal surut, dan kalau perlu zonder (tanpa) istirahat.”

Mari Sejenak Bertawasul

Bismillahirahmanirahim

السّلام عليكم والرّحمۃ والبركۃ

Kepada seluruh umat muslimin-muslimat wa bilkhusus warga Nahdlatul Ulama.

Malam ini (7 Romadlon 1442 H) adalah malam haul ke-75 Hadlorotus Syaikh Kiai Haji Muhammad HASYIM ASY’ARI (Pendiri NU). Wafat: 7 Ramadhan 1366 H. Malam ini: 7 Ramadhan 1442 H malam Genap ke-75 Hauliyah Beliau.

Mari seraya dengan keikhlasan dan hati yang lapang jembar manah, kita tawasul bersama-sama mengirim hadiah Surat Alfatihah kepada Beliau.

Lahu Al-Faaatihah..

Dengan hadiah doa Surat Al fatihah ini menjadi harapan dab sarana kita terus berjuang melanjutkan estafet kepemimpinan beliau, dalam rangka memperkokoh Akidah Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah dalam kebangsaan yang berpancasila, bhineka tunggal ika dan negara kesatuan Republik Indonesia yang multikultural ini.

Semoga khidmah kita semua di Nahdlatul Ulama diakui sebagai santrinya Mbah Hasyim Asy’ari yang mana Insyaallah berkah, manfaat hingga akhir ajal kita dalam keadaan khusnul khotimah, Aamiin.

KH Hasyim As'ari Wafat, Nahdlatul Ulama Cilacap Online
Sekilas Riwayat Menjelang Hadlratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari Wafat ini ditulis diniatkan untuk tabarukan kepada Pendiri Nahdlatul Ulama, Pejuang Kemerdekaan RI. Pahlawan Nasional, yang wafat tanggal 7 Ramadhan 1336 H, 75 tahun yang lalu. LahuLFatihah……. [NUCOM, NU Cilacap Official Media]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

13 + fourteen =

Pilih Artiikel Menarik Lainnya
Close
Back to top button