Antologi NU

Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU)

Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama, PKPNU adalah mandat Muktamar NU 2010 di Makassar dan dikuatkan oleh Muktamar NU 2015 di Jombang, dan dipertegas posisinya sebagai model Kaderisasi Nahdlatul Ulama  melalui Munas/Konbes NU di Lombok Nusa Tenggara Barat bulan November 2017 yang lalu.

Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) telah agenda kegiatan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap tahun 2015. dan untuk pertama kalinya dilaksanakan pada tanggal 20 sd. 22 Maret 2015.

PKPNU

Agenda PKPNU ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan PKPNU yang diselenggarakan oleh PBNU dan PWNU Jawa Tengah. Menjadi kewajiban PCNU Cilacap untuk menyelenggarakan PKPNU karena PCNU Cilacap pernah mengikuti PKPNU yang dilaksanakan oleh PBNU dan PWNU.

Kegiatan PKPNU ini tingkat Kabaupaten, diikuti oleh Pengurus MWCNU, unsur Badan Otonom NU dan Lembaga tingkat Cabang. Jumlah peserta tidak kurang dari 40 orang.

Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) menjadi model kaderisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama Cilacap, sebagaimana dilaksanakan di PCNU lain di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta dan beberapa PWNU dan PCNU di luar Jawa. Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama untuk pertama kalinya dilaksanakan bulan Maret 2015, dan sampai dengan hari ini sudah dilaksanakan di seluruh MWCNU.

Sampai saat ini, Desember 2017, tidak kurang dari 2000 Kader Penggerak NU sudah menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Cilacap. Ini merupakan capaian kaderisasi yang luar biasa. 2000 Kader Penggerak NU adalah Potensi Organisasi yang harus diberdayakan dalam banyak sektor yang menjadi bidang garap NU. Merekalah ujung tombak pergerakan yang bisa meningkatkan dan memberdayakan sumber daya organisasi NU menjadi lebih bisa dirasakan manfaatnya.

Penting untuk disampaikan bahwa ternyata masih ada fungsionaris NU yang “gagal paham” dan menganggap remeh proses kaderisasi model PKPNU. Merasa bahwa dirinya sudah “menjadi kader NU” mengapa harus mengikuti Kaderisasi (lagi).?

PKPNU adalah mandat Muktamar NU 2010 di Makassar dan dikuatkan oleh Muktamar NU 2015 di Jombang, dan dipertegas posisinya sebagai model Kaderisasi Nahdlatul Ulama  melalui Munas/Konbes NU di Lombok Nusa Tenggara Barat bulan November 2017 yang lalu. Jadi, menganggap remeh kaderisasi dengan sendirinya menganggap remeh keputusan-keputusan organisasi NU.

Melalui Muskercab II tahun 2017, PCNU Cilacap hendak menegaskan bahwa apa kaderisasi adalah proses mendasar tentang pentingnya ideologisasi. Dengan sendirinya, melalui PKPNU sumber daya manusia kader bisa ditingkatkan, ditambah dengan wawasan-wawasan husus yang hanya bisa diperoleh. Oleh sebab itu, PKPNU akan terus dilaksanakan dan tidak akan berhenti seiring dengan habisnya masa khidmat kepengurusan NU Cilacap 2012-2017 dan 2018-2023

Di Tahun 2018 dan seterusnya, Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama harus tetap dilaksanakan karena masih banyak input calon kader Penggerak NU yang bisa diidentifikasi; pengurus Harian NU baik Syuriyah maupun Tanfidziyah, Lembaga dan Badan Otonom. Ada juga calon kader penggerak NU dengan latar belakang yang beragam; seperti kalangan profesional, tenaga pendidik dan kependidikan, forum strategis NU, hingga pengasuh pondok pesantren (update 25 Maret 2018, Admin)

Jenis Kaderisasi NU

Ada 5 jenis Kaderisasi di organisasi NU, yaitu kaderisasi struktural, kaderisasi keulamaan, kaderisasi penggerak NU, kaderisasi fungsional, dan kaderisasi profesional

Mengutip poin amanat Muktamar, kaderisasi struktural menjadi keharusan bagi pengurus NU di semua tingkatan, dari pengurus besar hingga pengurus ranting, pengurus lembaga, hingga pengurus banom. Kaderisasi struktural bertujuan meningkatkan kapasitas pengurus dalam memimpin, menggerakkan warga,dan mengelola organisasi.

Kaderisasi keulamaan bertujuan menyiapkan calon jajaran syuriyah NU di semua tingkatan kepengurusan. Diharapkan dari padanya lahir ulama-ulama muda yang siap menjadi Syuriyah NU.

Kaderisasi penggerak NU melalui Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) bertujuan menyiapkan kader yang memiliki tugas khusus memperkuat, mengamankan, mempertahankan dan mentransformasikan nilai-nilai perjuangan NU dalam menggerakkan warga dalam menjalanka kehidupan keagamaan , sosial, berbangsa, dan bernegara untuk tegaknya Islam Aswaja.

Sementara kaderisasi fungsional bertujuan menyiapkan kader yang memiliki fungsi, tugas dan tanggungjawab di lima fungsi pokok, antara lain; sebagai pelatih, fasilitator, instruktur, dalam berbagai kegiatan pendidikan, pelatihan, dan kaderisasi; sebagai peneliti yang mampu melakukan riset-riset penting di lingkungan NU; juga sebagai tim leader untuk kegiatan rukyatul hilal; dan sebagai pendamping, penyuluh masyarakat, atau community organizer di berbagai sektor.

Kaderisasi profesional bertujuan menyiapkan kader NU agar memiliki kapasitas dan kredibilitas dalam posisi-posisi tertentu baik di eksekutif, legislatif, yudikatif, perguruan tinggi, maupun di perusahaan-perusahaan negara, baik di tingkat nasional maupun daerah. (Update 19 Agustus 2019)

Artikel Terkait

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button