Catatan Redaksi

Harlah NU 31 Januari Atau 16 Rajab?

Harlah NU itu sebenarnya diperingati setiap tanggal 31 bulan Januari atau tanggal 16 bulan Rajab? Sampai hari ini, pertanyaan tersebut masih belum ditemukan jawaban pastinya. Sepertinya memang belum ada dokumen resmi, misalnya, yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU) tentang Harlah NU.

Sejauh yang pernah Saya pantau lewat NU Cilacap Online, PBNU selalu memperingati Harlah NU, baik saat 31 Januari maupun saat tanggal 16 Rajab. Pada beberapa momen Harlah NU, bebrapa di antaranya pernah dipublikasikan di Situs Islam Aswaja ini.

Artikel ini, Harlah NU ke 90, Kembali Ke Pesantren, misalnya, adalah taushiyah resmi PBNU ketika memeperingati Harlah NU ke 90 tahun 1434 H, sekitar 8 tahun yang lalu. Artikel tersebut disampaikan KH Said Aqil Siraj selaku Ketua Umum PBNU. Artinya, saat itu, dan saat-saat setelahnya, PBNU tetap melaksanakan harlah NU pada tanggal 16 Rajab kalender Hijriyah.

Kemudian, jika dihitung berdasarkan kalender Haijriyah, maka di tahun 1442 Hijriyah saat ini, NU memasuki usia 98 tahun. Namun jika berdasarkan kalender Miladiyah, maka NU baru berusia 95 tahun. Saat artikel ini ditulis, gempita harlah NU ke 95 sudah viral di media sosial. Banyak Netizen yang mengupload foto profil hingga ucapan selamat harlah NU ke 95. Tidak sedikit pula yang mengupload Logo harlah NU ke 98 dalam hitungan Hijriyah.

Lalu, Harlah NU yang benar itu yang mana? Yang diperingati setiap tanggal 31 Januari, atau yang diperingati setiap tanggal 16 Rajab? Lalu bagaimana kelak untuk perintatan 1 Abad NU, apakah menggunakan hitungan Miladiyah, atau Hijriyah?

Ada sementara yang berpendapat, sebaiknya PBNU menetapkan secara resmi dan pasti penggunaan tanggal peringatan Harlah NU. Alasannya, karena NU adalah Organisasi Islam Aswaja yang seharusnya mengedepankan penggunaan Kalender Hijriyah. Mereka mengingikan harlah NU dilaksanakan setiap tanggal 16 Rajab.

Namun, adalah juga yang berpendapat, atas alasan bahwa NU juga sejatinya juga adalah Organisasi Kemasyarakatan yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka sebaiknya tetap menghormati kalender Miladiyah atau Masehi. Sehingga, atas alasan tersebut, Harlah NU juga diperingati setiap tanggal 31 Januari.

Namun, dalam penelusuran sejarawan NU Abdul Mun’im DZ, Harlah NU justeru pernah dilaksanakan bukan pada tanggal 16 Rajab. Melainkan pada tanggal 27 Rajab bersamaan dengan Peringatan Isro’ Mi’roj. Silakan baca selengkapnya artikel ini > Tradisi Peringatan Harlah NU 16 Rajab.

Bagi sebagian Pengurus NU, ada yang bersikukuh, mempertahankan Harlah NU bulan rajab versi Hijriyah. Dan enggan menggunakan Harlah NU Miladiyah. Namun bagi yang terbiasa mengikuti dan melaksanakan peringatan Harlah NU Miladiyah, di tanggal 31 Januari, mereka juga memperingati Harlah NU di tanggal 16 Rajab.

Apakah 2 harlah NU itu membingungkan? Sebenarnya tidak. Mari lihat dokumen resmi Anggaran Dasar NU (tahun 2015). Di sana dinyatakan:

Nahdlatul Ulama didirikan oleh ulama pondok pesantren di Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 untuk waktu yang tak terbatas [Bab I ADNU Pasal 1 ayat (2)]

Kalimat tersebut menyatakan dengan jelas bahwa NU dilahirkan pada pada tanggal yang berbeda. Secara redaksi, posisi tanggal Hijriyah didahulukan daripada tanggal Miladiyah. Namun substansinya bukan pada tanggalnya, melainkan pada Lahir nya NU, dilahirkannya NU. Dua tanggal itu menjadi berbeda, namun sesungguhnya perbedaan ini bukan tanpa alasan jika diurut latar belakangnya.

Penggunaan kalender Hijriyah merupakan bagian dari kebiasaan yang digunakan para Alim Ulama Pendiri NU yang berlatarbelakang Pondok Pesantren. Tradisi Hijriyah lazim diterapkan di lingkungan mereka, apalagi karena Islam memang memiliki Kalender tersendiri, kalender Hijriyah, atau juga disebut kalender Qomariyah. Penggunaan tanggal 16 Rajab untuk Harlah NU, menjadi bagian dari komitmen para Pendiri NU untuk melestarikan penggunaan Kalender Hijriyah ke dalam aktifitas Organisasi NU.

Di ranah persuratan, Administrasi NU hampir pasti mencantumkan tanggal dan bulan dalam kalender Hijriyah. Misalnya, dalam sebuah Surat Keputusan, dalam keputusan Rapat-rapat hingga Keputusan Munas Konbes dan Muktamar NU. Di ranah administrasi itu pula, tanggal kalender Miladiyah juga dicantumkan.

Salah satu bentuk penghormatan terhadap kalender Hijriyyah, bisa disimak dari rangkaian peristiwa berikut ini; Sampai saat ini, tahun 2021, tradisi penggunaan kalender Hijriyah di lingkungan organisasi dan warga NU, tidak mengalami perubahan. Tidak ada fenomena distorsif, apalagi disengaja, terhadap eksistensi Kalender Hijriyah. Organisasi dan warga NU melekat dengan tradisi berbasis kalender Hijriyah.

Dimulai dari Idul Fitri, Idul Adha, Hari Arofah, tahun Baru Hijriyah, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Puasa Ramadhan dan lainnya. Semua itu berputar dalam ranah Kalender Hijriyah. Peringatan-peringatan Hari Besar Islam diperingati dalam kalender Hijriyah. Namun dekorasi dan hal-hal administratif lainnya, biasanya juga mencantumkan kalender Miladiyah.

Untuk Penentuan Awal Ramadhan dan Idul Fitri, Organisasi NU pasti menggunakan kalender Hijriyah, namun dalam beberapa peristiwa, Organisasi NU hampir pasti mengikuti ranah pemerintah melalui Kementerian Agama, yang nyatanya juga mempertimbangkan dua kalender; Miladiyah dan Hijriyah. Memang pernah terjadi, antara Organisasi NU berbeda dengan pemerintah dalam hal Penetapan Awal Ramadhan dan Idul Fitri. Namun, keduanya lebih sering bersamaan.

Bagaimana dengan Hari Santri Nasional? Ini sebuah pengecualian. Tapi inilah sumbangsih kesejarahan Indonesia dari NU untuk warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hari Santri Nasional tidak berangkat dari momentum Hijriyah, namun momentum heroisme di ranah Miladiyah. Mengapa hari Santri 22 Oktober tidak ditetapkan dengan kalender Hijriyyah? Mungkin butuh kajian lain di luar artikel ini.

Kembali ke Harlah NU 31 Januari Atau 16 Rajab? Dua-duanya dipakai untuk peringatan Harlah NU. Saya optimis, hal tersebut tidak perlu membingungkan warga NU. Dan rasanya, memang momen harlah NU itu tetap akan dipertahankan dengan menggunakan Kalender Hijriyah maupun kalender Miladiyah. Karena untuk hal tersebut, hanya tingkat PBNU yang bisa memutuskan.

Selamat Harlah NU ke 95 tahun 2021, Mari bersama menyebar Manhaj Aswaja dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Dengan begitu, kita bisa berkhidmah secara berkelanjutan dengan tetap menujung tinggi nilai-nilai ke-Indonesia-an dalam rangka meneguhkan komitmen kebangsaan untuk NKRI tercinta. (Redaksi, Admin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 × 1 =

Back to top button