Tasawuf Tarekat

Tasawuf Aswaja Imam Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali

Tasawuf melekat dengan Aswaja di bawah para Guru, Mursyid dan Pengamal Thariqah atau tarekat, khususnya di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), salah satu nya adalah Imam Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali.

Tasawuf Imam Al-Ghazali menjadi bagian penting dari paradigma, praktik dan amaliyah Tasawuf Aswaja. Al-Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali at-Thusi. Beliau dilahirkan di kota Thus (dacrah Khurasan) tahun 450 H/1058M.

Beliau dikenal dengan al-Ghazali karena berasal dari desa Ghazalah, atau ada yang menganggap bahwa sebutan al-Ghazali melekat karena ayahnya bekerja sebagai pemintal tenun wol. Masa kecil dan masa muda al-Ghazali dipenuhi dengan belajar ilmu agama, dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu guru ke guru lain. la pernah belajar kepada Ahmad bin Muhammad al-Radzikani al. Thusi, Imam Abu Nashr al-Isma’ili, Syekh Yusuf al-Nassaj, Imam Abu al Ma’ali Abdul Malik bin Abdllah al-Juwaini yang merupakan ulama terkemuka Madzhab Syafi’i.

Kecemerlangan al-Ghazali mengantarkannya menduduki guru besar di Universitas Nizhamiyah Baghdad (Tahun 848/1091M). Di sanalah, waktu itu, Al-Ghazali dikelilingi dengan berbagai kesenangan duniawi, tetapi hal tersebut tidak membuatnya bahagia.

Lalu beliau memutuskan untuk pindah ke Damaskus di Syiria dan tinggal di kota itu. Di sana beliau lebih banyak beri’tikaf dan berzikir, menjalani riyâdhah dan mujahadah. Setelah dua tahun, al-Ghazali kemudian meninggalkan Damaskus menuju Baitul Maqdis di Palestina.

Imam al-Ghazali sebagai pelopor sufi mengembangkan tasawuf (Tasawuf Imam Al-Ghazali, Red.) kepada dasar aslinya seperti yang diamalkan oleh para sahabat Rasulullah Saw. la telah menulis puluhan kitab, dan yang paling terkenal adalah Ihya Ulumi ad-Din (Menghidupkan kembali ajaran Islam).

Melalui kitab tersebut al Ghazali memberikan pegangan dan pedoman perkembangan tasawuf Is lam, dan menjadi rujukan bagi mereka dalam mengembangkan paham positifisme yang sesusi dengan akidah dan syariah.

Ketertarikan Al-Ghazali pada tasawuf tidak saja telah membuatnya memperoleh pencerahan dan ketenangan hati. Lebih jauh lagi, justru dia memiliki peran yang cukup signifikan dalam peta perkembangan tasawuf. Jika pada awal pembentukan tasawuf-berupaya menenggelamkan diri pada Tuhan-dimeriahkan dengan tokoh-tokohnya seperti Hasan Basri (khawi), Rabi’ah al-Adawiyah (hub al-ilah), Abu Yazaid al-Busthami (fana), al Hallaj (hulal), dan kemudian berkembang dengan munculnya tasawuf falsafi dengan tokoh-tokohnya Ibnu Arabi (wahdat al-wujud), Ibn Sabi’in (ittihad), dan Ibnu Faridh (cinta, fana’, dan wahdat al-wujad) yang mana menitikberatkan pada hakikat serta terkesan mengenyampingkan syariah, kehadiran al-Ghazali justru telah memberikan warna lain; dia telah mampu melakukan konsolidasi dalam memadukan ilmu kalam, fiqih, dan tasawuf yang sebelumnya terjadi ketegangan.

Kendatipun sumbangan al-Ghazali dalam tasawuf bisa dikatakan cukup besar dan telah memberikan warna baru, dan berusaha merilis satu jalan ruhani menuju Tuhan dengan mendasarkan al-Qur’an dan hadits, selain secara epistemologi berusaha menemukan kebenaran dengan jalan intuisi (dzauqiyah), toh oleh banyak kalangan (Barat) tasawuf tetap dianggap antirasionalitas. Bahkan yang lebih parah lagi adalah adanya satu tuduhan di mana karena tasawuflah, umat Islam mengalami kemunduran.

Di dalam tasawufnya, al-Ghazali memilih tasawuf sunni berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Nabi ditambah dengan doktrin Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah).

Corak Tasawuf Imam Al-Ghazali adalah psikomoral yang mengutamakan pendidikan moral yang dapat di lihat dalam karya-karyanya seperti Ihya Ulúmi ad-Din, Minhaj Al-‘Abidîn, Mizan al-‘Amal, Bidâyah al-Hidâyah, Mráju as-Sâlikin, Ayyuhâ al-Walad. al-Ghazali menilai negatif terhadap syathahâr dan ia sangat menolak paham hulál dan it-tihád (kesatuan wujud), untuk itu ia menyodorkan paham baru tentang ma’rifat, yakni pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah) tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya.

Baca Artikel Terkait

Menurut al-Ghazali, ma’rifat adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Alat untuk memperoleh ma’rifat bersandar pada sirr-al-qalb dan rúh. Pada saat sir, qalb dan ruh yang telah suci dan kosong itu dilimpahi cahaya Tuhan dan dapat mengetahui rahasia-rahasia Tuhan, kelak keduanya akan mengalami iluminasi (kasyf) dari Allah dengan menurunkan cahayanya kepada sang sufi sehingga yang dilihatnya hanyalah Allah, di sini sampailah ia ke tingkat ma’rifat.

Tasawuf ini seringkali diartikan sebagai ilmu mengenai tahapan tahapan menuju puncak pengenalan diri terhadap Allah SWT. Tahapan tahapan itu terbagi dalam bagian thariqah, hakikar, dan ma’rifat. Taswuf sendiri merupakan ajaran akhlaq yang didasarkan pada akhlaq Nabi Muhammad SAW.

Di antara sikap batin yang menonjol dibahas dalam tasawuf di antaranya mengenai sikap ikhlas, istiqamah, zuhd dan wad Thariqah sebagai jalan awal menuju ma’rifat lah yang merupakan bagian dari ilmu tasawuf telah diajarkan Nabi Muhammad SAW melalui sahabatnya seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. dan Sayyidina Abu Bakar ash-shiddiq.

Di antara thariqah mu’tabarah (sah) dan musalsal (bersilsilah ilmu hingga ke Nabi Muhammad) adalah Thariqoh Qadiriyah yang didirikan Syekh Abdul Qadir al-Jailaniy, Thariqoh Syadziliyah yang didirikan Syekh Abul Hasan Ali as-Sadzili, Thariqoh Naqsabandiyah yang didirikan Syekh Muhammad Bahaudin an-Naqsabandiy, dan Thariqoh Tijaniyah yang didirikan Syekh at-Tijaniy. Menurut Habib Luthfi bin Yahya, Mursyid Thariqoh di Indonesia, thariqoh yang mu’tabarah di Indonesia tercatat sekitar 48 macam.

Mengenai hakikat, telah dijelaskan oleh Imam al-Qusyairi bahwa hakikat ialah penyaksian atas rahasia ke-Tuhan-an, semua bentuk ibadah atau syariat tidak akan mengena jika tidak mengenal intinya (hakikat). Syariat untuk mengetahui kewajiban suatu perintah dan larangan bermaksiat sementara hakikat untuk mengetahui makna inti, keputusan Allah dan rahasia yang ada di dalamnya.

Kondisi saat berkembangnya Ilmu Tasawuf yang mulai dituliskan dan dimulai sekitar abad ke-3 H yang memperkenalkan konsep ittihad (penyatuan), hulul (leburnya substansi manusia ke dalam substansi lahi), dan wahdat al-wujud (penyatuan wujud), serta wahdat al-muthalaqah (penyatuan mutlak), dalam pengertian ma’rifat itu ditolak oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari karena dianggap tidak sesuai. Sikap Imam Asy’ari itu didukung dan berusaha diluruskan oleh para tokoh tasawuf sunni, diantaranya Imam Ghazali, dan Imam Qusyairi.

Menurut mereka, tasawuf merupakan upaya sungguh-sungguh dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin, melalui sikap zuhud (sikap menjauhi cinta dunia), ketekunan ibadah (an-nusuk) dan latihan rohani (ar-riyadhah an-nafs), meskipun harus diakui bahwa ada dua alam yakni alam dhohir yang dicapai melalui panca indera dan alam batin yang dicapai dengan sarana emanasi (pancaran rohani) dan ilham, tetapi hal itu bukanlah melalui proses ittihad, hulůl, atau wahdat al-wujúd, melainkan melalui proses mukasyafah dan musyahadah (terbukanya tirai hijab ghaib dan terbukanya kemampuan untuk melihat keagungan llahiyah), yakni suatu jenis pengetahuan perasaan tertentu yang dimiliki orang-orang yang sudah mampu melepaskan dirinya dari pengaruh duniawi atau godaan materi dan mampu berperilaku yang mencitrakan sifat-sifat terpuji (marifat dzauqiyah).

Meskipun konsep pemikiran para sufi falsafi, seperti Dzun Nun Al Mishri, Abu Yazid al-Bustami, Muhyiddin Ibnu Arabi, dan Ibnu Sab’in bahkan salah satu Sufi paling kontroversial. Husain bin Mansur al-Hallaj (yang memperkenalkan istilah ittihdd, wahdatu al-wujud, dsb) ditolak oleh kaum Aswaja, namun pada bagian tertentu, seperti ilmu riyadhah, hikmah, dan amaliyah yang diajarkan dan dilakukan oleh para sufi falsafi tersebut tetap dipelajari dan dilakukan oleh kaum Aswaja dalam rangka menambah nilai-nilai tasawuf dalam bingkai nilai-nilai syariat Islam,

Prinsip dasar dari aspek tasawuf adalah adanya keseimbangan kepentingan ukhrawi dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, dengan jalan spiritual yang bertujuan untuk memperoleh hakekat dan kesempurnaan hidup manusia. Akan tetapi tidak boleh meninggalkan garis-garis syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dalam al-Qur’an dan 1s-Sunnah.

Jalan sufi yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para pewarisnya adalah jalan yang tetap serta teguh memegang perintah perintah Allah. Karena itu umat Islam tidak dapat menerima jalan sufi yang melepaskan diri dari kewajiban syariat, seperti perilaku tasawuf yang dilakukan oleh al-Hallaj (al-bulan dengan pernyataannya “aná al Haqq”, Ibnu Araby (al-irtikád, atau manunggaling kawula Gusti).

Dengan tasawuf al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan Junaid al-Baghdadi, kaum Aswaja an-Nahdliyah diharapkan menjadi umat yang selalu dinamis dan dapat menyandingkan antara tawaran-tawaran kenikmatan bertemu dengan Tuhan dan sekaligus dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat.

Hal semacam ini pernah ditunjukkan oleh para penyebar Islam di Indonesia, Walisongo. Secara individu, para wali itu memiliki kedekatan hubungan dengan Allah dan pada saat yang sama mereka selalu membenahi akhlaq masyarakat dengan penuh kebijaksanaan. Dan akhirnya ajaran Islam dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan penuh kaikhlasan dan ketertundukan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eighteen + seventeen =

Pilih Artiikel Menarik Lainnya
Close
Back to top button