Trending

Tasawuf Imam Al Junaidi Al Baghdadi Dan Aswaja

NU CILACAP ONLINE – Tasawuf Imam Al Junaidi Al Baghdadi memiliki corak dan karakteristik yang khas. sehingga diakui sebagai acuan dan standar dalam tasawuf Ahlussnah wal Jamaah (Aswaja). Seperti apa?

Nama lengkap beliau adalah Abu al-Qosim al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaidi al-Khazzaz al-Qowariti al-Nahawandi al-Baghdadi. Beliau dilahirkan di kota Baghdad tanpa diketahui secara pasti tahun kelahirannya. Ayahnya seorang pedagang barang pecah belah, sementara Ibunya merupakan saudara kandung Sari bin al-Mughallis al-Saqathi (w.235 H/ 867M), seorang tokoh sufi terkemuka yang kelak menjadi gurunya.

Imam Al Junaidi Al Baghdadi dikenal cerdas, dan pada usia dua puluh tahun bela telah mampu mengeluarkan fatwa. Semua kalangan menerima madzhab yang dibangun nya, dan beliau disepakati sebagai penyandang gelar “Syeikh at-Thaifah as-Shufiyyah wa Sayyiduha” (Tuan Guru dan Pemimpin kaum sufi).

Abdul Wahhab as-Sya’rani, sebagaimana dikutip Dr. KH Saefuddin Chalim, mengungkapkan paling tidak ada empat faktor yang mengantarkan al-Junaidi menjadi satu-satunya figur yang berhak menyandang gelar tersebut sehingga diakui sebagai acuan dan standar dalam tasawuf Ahlussnah wal Jamaah (Aswaja)

Makam Imam Junaidi Al Baghdadi

Pertama, konsistensi terhadap al-Kitab dan Sunnah. Penguasaan al Junaidi terhadap al-Qur’an dan Sunnah membawa pengaruh positif terhadapnya dalam membangun madzhabnya di atas fondasi Islam yang kuat dan shahih. Beribadah tanpa adanya pengetahuan yang memadai dianggap bisa membawa seseorang ke dalam kesesatan. Oleh karenanya, al-Junaidi begitu mengedepankan ilmu agama sebagai pegangan kaum sufi dalam menempuh jalan suluk.

Kedua, konsistensi terhadap syari’ah. Para ulama mengakui bahwa belum pernah ditemukan di antara isyarat-isyarat al-Junaidi dalam bidang tasawuf yang bertentangan dengan syari’ah. Syariah adalah rel yang jika seorang sufi keluar dari jalurnya maka pintu kebaikan akan tertutup baginya.

Baca juga  Thariqah Menurut Maulana Habib Luthfi Bin Yahya

Ketiga, kebersihan dalam akidah, al-Junaidi Al Junaidi Al Baghdadi membangun madzhabnya di atas fondasi akidah yang bersih, yaitu akidah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja).

Keempat, ajaran tasawuf yang moderat. Ajaran tasawuf yang moderat merupakan ciri-ciri tasawuf Aswaja (Ahlussunah wal Jamaah) al-Junaidi Al Junaidi Al Baghdadi memandang bahwa orang yang baik bukanlah orang yang berkonsentrasi melakukan ibadah saja, sementara ia tidak ikut berperan aktif dalam memberikan kemanfaatan kepada manusia.

Pandangan tasawuf yang demikian mematahkan tasawuf ekstrem yang beranggapan bahwa jika seseorang sudah sampai pada derajat makrifat atau wali, maka pengamalan terhadap ajaran ajaran agama tidak diperlukan lagi baginya.

Itulah karakteristik Tasawuf Imam Al Junaidi Al Baghdadi yang menjadi rujukan pengamal tasawuf dan pengikut Tarekat di lingkungan Ahlussunah Wal Jamaah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button