Childfree Rasional: Bagaimana Islam Memandangnya?

NU CILACAP ONLINE – Bagaimana seharusnya menyikapi segala sesuatu termasuk fenomena childfree dalam kehidupan sosial ? Bagaimanakah Islam memandang childfree? Apakah childfree merupakan sebuah solusi atau sebuah gaya hidup itu sendiri bagi generasi sekarang ini? Di tengah-tengah gempuran perubahan sosial yang terjadi?

Sama seperti menikah. Childfree atau “menikah” tapi tidak ingin mempunyai anak merupakan pilihan manusia. Dan apapun bentuk dari setiap pilihan itu memiliki konsekwensi yang berbeda-beda. Tetapi, ini kehidupan dan nyatanya semua adalah pilihan. Menikah dan memiliki anak pun itu semua pilihan.

Sebelumnya perlu pembaca ketahui. Saya menulis artikel tentang childfree ini. Bukan saya menentang ataupun setuju dengan itu. Tidak lebih, saya menulis artikel ini. Karena memang segala sesuatu yang merupakan fenomena.

Trend Childfree

Wajib seorang manusia mencari dan mengkaji. Sebab fenomena itu ada dan benar-benar menjadi sebuah fakta. Tanpa berpikir dulu bagaimana fenomena itu ada. Kemudian hanya mengikuti sebuah trend sosial. Tak ubahnya kita seperti seorang yang tanpa kendali, yang justru dikendalikan pihak-pihak luar atas nama trend yang sedang booming.

Bukankah akan ikut atau tidak dalam trend sosial itu juga merupakan pilihan hidup kita? Tetapi, bukankah yang perlu kita ingat; sudah cocokah hidup kita dengan yang seadanya begini mengikuti sebuah trend yang sejatinya itu bisa saja bukan dari kemauan kita sendiri?

Justru itu digaungkan penggiat-penggiat media-media seperti media sosial akhir-akhir ini yang semakin maju. Sejatinya oleh beberapa gelintir orang yang menggering opini akan trend itu di berbagai platform media. Tanpa kita sendiri tahu ada di posisi mana hidup mereka dan latar belakang kehidupan mereka?

Dalam kehidupan ini, nyatanya di titik mana orang itu ada. Baik dari tingkat ekonomi ataupun kondisi-kondisi sosial yang mempengaruhi itu. Memangah tidak selalu sama setiap orang.

Kasusnya adalah gerakan atau orang yang berpikir akan childfree itu sendiri bagi sebagain orang dan sebagian lainnya. Membahas childfree atau menikah tapi tidak mau memiliki anak. Istilah narasinya. Mungkin seperti dahulu orang-orang ingin pergi ke bulan. Hanya dapat membayangkan dengan berbagi keterbasannya.

Pertanyaan orang-orang dahulu. Mungkinkah bulan dapat dijangkau? Apakah di sana seperti di bumi? Atukah terdapat makluk-makluk lain yang berdiam di sana dengan segudang misteri yang ajaib?

Saat ini kemajuan dengan teknologi. Manusia ingin ke bulan sudah mampu. Bahkan mausia merencanakan rekreasi ke bulan dari belahan planet lain, yang peradabannya sudah maju seperti negara-negara barat.

Childfree: Agama dan Sosial

Faktanya bulan pun seperti seadanya seperti penjelasan ilmuwan. Hanya ruang-ruang umunya planet-planet lain, yang memiliki ruang-ruang kehampaannya sendiri. Yang luput dari perhatian kita. Orang-orang di bumi yang selalu mendambakan bulan buaian imajinasi seorang sastrawan.

Mungkinkah istilah gerakan childfree sendiri. Ada sebuah diskursus yang sama? Luput dari perhatian tetapi sebelumnya kita memiliki opini yang berbasis pada asumsi bukan fakta-fakta yang ada dalam menilai childfree?

Kita sebagai orang yang beragama. Tentu karena keimanan merupakan sebuah pilihan hidup. Dan mengamalkan suatu ajaran karena manusia memiliki berbagai persamaan atau kecocokan pada ajaran tertentu.

Tentu sebagai orang yang beriman. Kita memiliki pertimbangan yang sebelumnya dapat menjadi dasar. Sebuah fenomena sosial itu layak diikuti atau tidak berdasarkan nalar yang kemudian masuk pada keyakinan, termaduk dalam Islam sendiri: Bagaimana budaya membaca, “Iqro”, yang harus didasarkan berbasis nalar yang kuat dalam beragama dan menganalisa fenomena sosial supaya tidak menjadi kerugian bagi kita sendiri.

Baca juga Film “Kecele” Fatayat NU: Pernikahan dan Paradoks “Sudah Pantas”

Budaya Hidup yang Bergeser

Pergeseran budaya masyarakat yang sangat dinamis terkadang memang; ada ruang-ruang yang sebelumnya tidak relavan menjadi sesuatu yang dipertanyakan oleh masyarakat karena mendekati relevan pada jamannya.

Ini juga berlaku pada childfree. Menikah tetapi tidak mau punya anak karena berbagai pertimbangan termasuk budaya masyarakat. Juga karena pengaruh kondisi-kondisi lain di antaranya sosial, ekonomi dan mungkin politik.

Suatu keadaan jaman tidak dapat diperlakukan sama dengan jaman-jaman sebelumnya. Meskipun terkadang ada asumsi-asumi atas nama kepercayaan yang mengubur fakta atas nama asumsi tetap saja ada.

Baca juga Pekan Menyusui Sedunia, Dukungan Menyusui Bagi Ibu Bekerja

Banyak kasus kini orang-orang menikah tanpa pertimbangan yang jelas. Masih muda menikah lalu beranak pinak tanpa berpikir masalah ekonomi dan sosial di depan. Tentu generasi yang lahir tanpa adanya jaminan sumber daya yang menjamin. Berpotnsi menjadi generasi-generasi yang kekurangan.

Kita tahu bagaimana seorang anak kekurangan gizi, pendidikan, dan kasih sayang orang tua. Efeknya bukan hanya untuk generasi itu. Tetapi juga untuk generasi berikutnya.

Kini dengan semakin tergerusnya sumber daya untuk kehidupan manusia. Di balik laju pertumbuhan penduduk yang semakin banyak. Ekonomi yang terus mengalami goncangan hebat dengan nilai inflasi setiap tahun yang tinggi. Membuat daya beli kini kian turun tetapi pendapatan stagnan.

Bukankah selain ada istilah banyak anak banyak rezeki. Di sisi lain banyak anak juga akan banyak nilai konsumsi pengeluaran yang mengikuti? Anak tumbuh semakin besar secara garis lurus juga akan terus naik kebutuhannya?

Ada banyak kebutuhan anak seperti pendidikan, kesehatan dan factor-faktor lain. Setiap perumah tangga yang ingin memiliki anak wajib mempersiapkan itu untuk kehidupan anak-anak mereka kelak.

Tafsir Tak Memiliki Anak

Maka jika seseorang secara ekonomi belum mampu. Nabi Muhamad SAW merekomendasikan umatnya bahwa menikah dan memiliki anak itu bagi yang sudah mampu. Sebab itu yang nabi mengatakan “berpuasalah” artinya jika belum mampu jangan mendekatinya.

Dikhawatirkan hubungan yang dilakukan tanpa persiapan yang matang akan mengalami ganjaran yang tidak diharapkan. Seperti kasus pemuda-pemudi masa kini. Tak jarang mengalami hamil di luar nikah, rumah tangga brantakan dan orang tua justru yang menanggung beban anak yang terlahir itu.

Baca juga Tentang Hukum dan Adab Gelar Resepsi Pernikahan Dalam Islam

Di sisi lain Sayyid Muhammad Muhammad bin Alawi al-Maliki tentang pembatasan keturunan atau tahdîdun nasl atau dapat juga disebut dengan childfree. Dirinya mengatakan jika memang seseorang tidak mampu memiliki anak seperti karena kekhawatiran beban finansial yang dapat menjerumuskan orang pada pekerjaan-pekerjaan haram, alasan genetik dan semisalnya. Maka childfree tidak masalah.

Childfree yang sebelumnya tak terpikirkan bagi orang yang ingin menikah normatifnya memiliki anak kemudian menjadi relevan pada jamannya dengan sebgaian orang-orang yang memilih untuk childfree.

Dalam konteks abad ke-21 ini dengan berbagai persoalan dan problematika hidup yang ada. Utamanya adalah masalah ekonomi bagi generasi muda yang dalam kesempatannya sangat kompetitif di balik banyaknya penduduk. Sistem politik yang mempersempit segala kemungkinan hidup itu dengan berbagai kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil.

Childfree memang layak menjadi bahan diskusi, perbincangan dan perdebatan sosial kita. Bahwa ingin memiliki anak harus dengan kesadaran yang penuh. Menginginkan anak karena memang pilihan dari dalam diri dan bersiap secara penuh mempertanggung jawabkannya.

Kembali setiap orang dapat mengukur kemampuannya sendiri. Jika hidup untuk sendiri saja dengan hasil pendapatan sulit untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Childfree dapat menjadi alternatif. Jika memang mampu memiliki anak. Ukur berapa jumlah untuk dapat dengan sejahtera membangun keluarga bersama dengan anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button