Antologi NU

Pengurus Organisasi NU Dan Pimpinan Badan Otonom NU

Antara pengurus organisasi NU dan pimpinan Badan Otonom NU terdapat perbedaan mendasar, baik dalam penyebutan maupun penggunaan Istilah dalam ke-NU-an tersebut kelihatan sepele tapi penting untuk disampaikan, karena kadang ditemui adanya kekeliruan.

Kekeliruan kadang ditemui dalam penyebutan dengan menggunakan kalimat Pimpinan Organisasi NU padahal yang dituju adalah Pengurus Organisasi NU, atau Pengurus NU. Misalnya, Yang Kami Hormati, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap. Atau, Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama…..dan seterusnya. Ini bagian kekeliruan dalam penggunaan istilah dalam ke-NU-an.

Kekeliruannya di mana? Dalam penyebutannya. Untuk penyebutan struktur organisasi NU, digunakan kata Pengurus, bukan Pimpinan. Kita ketahui bahwa sesuai AD/ART NU, struktur organisasi NU menggunakan kata awal Pengurus. Misalnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, dan seterusnya sampai Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama.

Sementara penyebutan dengan kata Pimpinan, penggunaannya untuk menyebut struktur organisasi Badan Otonom NU. Contoh, Pimpinan Pusat Muslimat NU, Pimpinan Ranting Fatayat NU, Pimpinan Anak Cabang GP Ansor NU, dan seterusnya. Masing-masing sudah diatur dalam PD/PRT Badan Otonom NU. Dengan demikian, menyebut Badan Otonom NU secara kelembagaan yang tepat adalah menggunakan kata Pimpinan.

Namun, ketika menyebut orang per orang di Badan Otonom karena berada dalam struktur, pun tidak tepat sekali dengan kata Pimpinan. Penyebutannya lebih tepat menggunakan kata Pengurus. Dalam konteks Badan Otonom NU, dapat dipahami bahwa Pimpinan lebih menunjukkan pada struktur kolektif organisasi, bukan pada individu.

Pengurus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang mengurus atau sekelompok orang yang mengurus. Dari pengertian ini dan dalam konteks organisasi NU, Pengurus NU bisa bermakna untuk menyebut struktur organisasinya (bersifat kolektif), atau untuk menyebut personal seorang pengurus NU (bersifat individual).

Keduanya tergantung pada konteksnya. Jika yang dituju adalah struktur secara kolektif, maka sebaiknya menggunakan penyebutan yang lebih lengkap. Tidak cukup menyebut “Pengurus NU” padahal yang dituju Pengurus Ranting NU secara kelembagaan. Tapi sebutan/penyebutan “Pengurus NU” bisa dan lebih tepat disampaikan ketika yang dituju dan disebutkan namanya, adalah orang per orang dalam struktur NU yang ada.

Sekali lagi, Pengurus untuk organisasi NU, sedangkan Pimpinan untuk organisasi Badan Otonom NU. Sejak membaca artikel ini, mudah-mudahan didapati penambahan pemahaman yang lebih baru.

Lalu, mengapa terjadi kekeliruan? Masing-masing punya jawabannya. Namun dalam pengamatan Kami, kekeliruan terjadi karena proses pemahaman yang belum tuntas. Di samping karena banyaknya istilah-istilah dalam keroganisasian NU dan Badan Otonom nya yang mirip bahkan banyak persamaan, juga karena faktor kekurangbiasaan orang per orang dalam konteks penyebutannya.

Bagaimana jika kekeliruan itu terjadi dan dialami oleh pengurus NU sendiri? Atau oleh anggota dari Badan Otonom NU. Artikel ini berangkat dari fenomena “kekeliruan yang aneh” seperti itu.

Mungkin bagi sebagian pemabaca, hal itu tidak merupakan hal prinsip. Lalu bagaimana jika kekeliruan penyebutan itu tampak fatal? Misal; menyebut Ketua Syuriyah, padahal dalam organisasi NU, yang benar adalah Rais Syuriyah. Atau menyebut Ketua Tanfidz, padahal yang benar adalah Ketua Tanfidziyah. Keduanya merupakan Istilah dalam ke-NU-an yang mendasar

Lantas diketahui bahwa kekeliruan itu justeru muncul dari internal pengurus NU atau dari Pimpinan Badan Otonom NU. Bukannya ini fatal? Jika kekeliruan itu muncul dari orang lain, orang di luar organisasi NU, atau di luar Badan Otonom NU, maka sangat bisa dimaklumi.

Kiranya perlu melihat kembali dawuh KH Ali MaksumAl-Ma’rifat wal Istiqon bi Nahdlatul Ulama‘; setiap warga NU harus membekali diri dengan ilmu-belajar (berilmu-berpengetahuan) tentang NU secara sungguh-sungguh. Faktor ini penting sekali, terutama dalam proses pembentukan keyakinan warga terhadap NU.

Demikian harapan KH Ali Maksum kepada warga NU, terlebih kepada Pengurus NU, dan para Pimpinan Badan Otonom penerus kepemimpinan organisasi NU, Istilah Organisasi NU yang patut dicermati. Semoga di kemudian hari tidak ada kekeliruan lagi dalam penyebutan atau bahkan penulisan Pengurus Organisasi NU dan Pimpinan Badan Otonom NU. Wallohu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

20 − twenty =

Back to top button