Pagelaran Budaya Wayang Ruwat Bencana, Berikut Dokumentasi dan Ulasan Sederhana

NU Cilacap Online – Baru-baru ini Lesbumi Majenang menyelenggarakan pagelaran budaya wayang kulit dalam rangka ruwatan bencana bertajuk Ruwat Ditya Karung Kala – Ngilangna Dur Angkara, pada Kamis malam Jumat, (27/11/2025). Berikut dokumentasi dan ulasan sederhana.
Pagelaran budaya wayang kulit ruwatan bencana dihelat sekaligus memperingati akhirussanah peringatan hari santri nasional tahun 2025 dan menyemarakkan hari jadi Desa Tayem Timur ke-30.
Kegiatan berlangsung dari pukul 20.00 WIB hingga pagi hari, semalam suntuk di Lapangan Candi Wulan Desa Tayem Timur, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap .
Ribuan orang memadati lapangan Candi Wulan Ciampel, kehadiran mereka adalah wujud dari rasa empati kemanusiaan atas bencana alam yang belakangan terjadi secara bertubi-tubi, di samping wujud kecintaan mereka akan karya budaya yang lahir dari buah tangan para Walisongo yang merupakan tokoh penyebar ajaran Islam yang bijak dengan kesenian dan budaya lokal, seperti wayang sebagai media dakwahnya.
Wayang ruwat sendiri merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Jawa untuk membersihkan dan memurnikan diri, serta untuk menghindari atau mengurangi dampak bencana.
Menghadiri pertunjukan wayang ruwat, para penonton mengaku dapat merasakan ketenangan dan kedamaian, serta meningkatkan kesadaran spiritual mereka.
Pagelaran budaya wayang kulit yang bertajuk Ruwat Ditya Karung Kala – Ngilangna Dur Angkara disajikan sepenuhnya oleh Ki Sikin Hadi Warsono yang merupakan dalang ruwat asal Desa Cinyawang, Patimuan, Cilacap.

Dalam pewayangan Jawa, Karungkala adalah makhluk raksasa yang sangat kuat, yang garang dan angker, matanya besar, merah dan melotot, gigi bertaring, menunjukkan perangainya adalah kala yakni mara bahaya.
Karungkala merupakan salah satu musuh bebuyutan Bima, salah satu dari Pandawa lima.
Dalam lakon ini, Bima harus menghadapi angkaramurka dan mengalahkan Karungkala untuk membersihkan diri dan mengembalikan kesuciannya.
Dengan demikian, Ruwat Ditya Karungkala-Ngilangna Dur Angkara merupakan sebuah simbol dari perjuangan suci melawan hawa nafsu dan kejahatan, serta proses pembersihan dan pemurnian diri untuk kembali mencapai kesucian dan kebijaksanaan.
Pagelaran budaya wayang kulit ruwatan bencana pun mencapai maksud dan tujuannya, selain sebagai media refleksi, sekaligus juga ruwatan. Meruwat atas kebencanaan atau kala.
Dari bencana ke bencana, dari kejadian ke kejadian, serangkaian kebencanaan itu secara beruntun hadir melanda tanah air Indonesia.
Bencana alam dimulai dengan mencuatnya issu megatrust, gunung meletus, tanah longsor dari Desa Cibeunying Majenang hingga Banjarnegara, Bencana Banjir Pekalongan, Wanareja hingga ke tanah Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh serta daerah lainnya.
Adapun bencana kemanusiaan, terkait keributan konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) antara Pengurus Syuriyah dan Pengurus Tanfidziyah yang bikin gaduh, konon ikhwal dunia, keuangan dan tambang, membuat gonjang-ganjing warga Nahdiyin seluruh dunia, hal itu juga perlu diruwat.
Maka pagelaran wayang kulit ruwatan bencana ini menegaskan bahwa seniman dan budayawan Muslim Indonesia peduli bencana, Lesbumi Majenang Peduli kemanusian.
Lesbumi dengan sepenuh jiwa, lahir batinnya turut juga merasakan apa yang tengah dirasakan saudara-saudara kita yang terdampak bencana bahkan jadi korban bencana.
Semoga Allah SWT memberikan perlindungan, ketabahan dan kesabaran pada mereka, dan para korban yang meninggal akibat bencana, semoga husnul khatimah. Kepada para korban bencana alam Indonesia kita doakan dan hadiahkan, Alfatihah.
Demikian, pagelaran budaya wayang kulit ruwat Ditya Karungkala bukan hanya tontonan saja, tetapi juga menjadi wadah untuk kita bersama renungkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kisah-kisah pewayangan, yang mengajarkan kita tentang lakulampah, kebaikan, kebenaran, perjuangan, dan kebijaksanaan.
Dari kisah-kisahnya memberikan isyarat penuh makna. Sebagaimana kata Penyair WS Rendra bahwa kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi, dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Karena sejatinya wayang adalah kita. Kita manusia hanya punya pikir, punya rasa.
Maka menjadi harapan kita semua, wayang ruwat sebagai media tolak balak, untuk keseimbangan ekosistem hidup kita. Semoga semua harapan terkabul baik dan hasil maksud.
Maka pada akhir penghujung ulasan sederhana ini tak ada lagi kata seindah doa. Dengan seni hidup jadi indah. Dengan ilmu dan agama hidup jadi terarah. (IHA)





