Mengubah Rindu Menjadi Doa: Tips Jitu Agar Anak Betah di Pondok

NU CILACAP ONLINE – Pernahkah Anda merasa sangat rindu hingga terus teringat rumah saat di pesantren? Atau sebagai orang tua, apakah Anda sering mendapat aduan dari anak yang merasa tidak betah dan ingin pulang?
Ada konsep menarik di sini, bahwa ‘ruh orang tua dan anak itu tersambung’. Getaran emosi orang tua adalah penentu.
Artinya, jika orang tua di rumah merasa cemas, gelisah, atau terlalu meratapi kerinduan, getaran emosi tersebut secara batiniah akan sampai kepada anak. Hal inilah yang sering kali membuat santri merasa tidak tenang dan selalu ingin pulang.
Sebaliknya, belajarlah dari ketawakalan luar biasa Ibunda Imam Syafi’i. Saat melepas sang putra mencari ilmu, beliau berkata:
“Pergilah anakku, kita bertemu lagi di surga nanti.”
“Sikap “ikhlas total” inilah yang menjadi pondasi kuat bagi Imam Syafi’i hingga tumbuh menjadi ulama besar. Jika orang tua sudah lepas (ikhlas), anak akan lebih mudah melangkah,” ujarnya. Baca juga Refleksi Birrul Walidain dalam Mudik Lebaran
Ubah rindu jadi doa
Rasa kangen adalah fitrah manusia, namun jangan biarkan ia menjadi beban. Alih-alih menjadikannya bahan keluhan atau sekadar pemanis status media sosial yang bernada sedih, ubahlah energi rindu tersebut menjadi doa. Berikut tips jitu agar anak betah di pondok:
1. Tawasul dan doa. Rutinkan mengirimkan Surah Al-Fatihah khusus untuk anak. Baca juga Tirakat: Tradisi Spiritual
Dalam sebuah kesempatan, Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap pernah menyampaikan jika ingin anaknya betah di pondok maka bacakan hadiah surah Al Fatihah untuk anak setiap habis shalat Fardu. Caranya dengan tawassul dan menyebut nama anaknya.
حصوصا آلے روح وجسد۔۔۔۔۔ الفاتحہ
Hususon ila ruuhi wa jasadi ….(Sebutkan nama anaknya) Al Fatihah.
Jangan lupa doakan kebaikan untuk anak kita. Karena doa orang tua itu mustajab. Doa yang keluar dari hati orang tua, apalagi dalam keadaan rindu dan cemas karena anak jauh di pesantren, memiliki bobot yang besar di sisi Allah.
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Tiga doa yang pasti dikabulkan, tidak diragukan padanya: doa orang tua kepada anaknya…” (HR. Tirmidzi)
2. Sedekah kreatif. Bersedekahlah atas nama anak agar ia dimudahkan dalam menyerap ilmu.
3. Riyadhah dan tirakat. Tingkatkan ibadah di rumah (seperti salat malam atau puasa sunah) sebagai bentuk dukungan spiritual bagi perjuangan anak di pondok.
Salat tahajud dan menyebut nama anak dalam sujud adalah cara paling lembut namun sangat memberikan kesan yang dalam untuk mendampingi anak dari kejauhan. Lagi pula Imam al-Bukhari pernah menampilkan hadis bahwa betapa Allah mengabulkan doa-doa yang seseorang panjatkan di malam hari.
يَنْزِلُ رَبُّنَا كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ له
Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Allah berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya. HR. Bukhari.
Demikian juga dengan puasa sunah sebagai ungkapan kerinduan orangtua terhadap anak sekaligus dukungan spritual. Jika orang tua menyertai kerinduan itu dengan puasa sunnah dan mendoakan anaknya di waktu berbuka, maka ini menjadi amalan yang sangat kuat.
الصَّائِمُ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُ
“Doa orang yang berpuasa tidak akan ditolak.” (HR. Baihaqi)
Menghargai Masa Adaptasi
Umumnya, pesantren menetapkan aturan dilarang dijenguk atau pulang selama 40 hingga 90 hari pertama.
Ini bukan tanpa alasan. Masa ini adalah fase krusial agar jiwa anak mulai “menetap”, mengenal lingkungan, dan menjalin ikatan dengan teman sejawat tanpa intervensi emosional dari rumah.
Sebagai orang tua, setelah melakukan survei dan memilihkan pondok yang tepat, tugas selanjutnya adalah percaya. Hindari mengintervensi atau mengatur pihak pesantren secara berlebihan. Percayalah bahwa guru dan pengasuh adalah orang tua kedua yang akan membimbing mereka dengan baik.
Kesimpulannya, ketenangan anak di pesantren adalah cerminan dari ketenangan orang tua di rumah. Jika orang tua bisa pasrah dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah, maka anak pun akan lebih mudah merasa betah, tenang, dan fokus dalam menuntut ilmu.
Karena rindu yang paling indah adalah rindu yang menjelma menjadi doa di sujud-sujud panjang kita.
Penulis: Naeli Rokhmah





