Esai Opini Wawasan

Refleksi Birrul Walidain dalam Tradisi Mudik Lebaran

Keputusan larangan mudik 2021 telah mendapat konfirmasi dan secara langsung disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pada hari Jumat, 26 Maret 2021 lalu. Hal ini jelas menjadi kabar buruk bagi banyak kalangan.

Bukan hanya mereka yang di perantauan, tapi juga keluarga di kampung. Pasalnya momen mudik lebaran bukan hanya momen melepas kangen melainkan juga wujud bakti kepada orang tua, sebagai momentum Birrul Walidain

Mulai tanggal 7 Mei 2021, resmi sudah larangan mudik diberlakukan. Tapi justru yang terjadi warga semakin marak melakukan aksi nekat pulang kampung. Dari sopir travel yang menipu petugas dengan dalih membawa rombongan untuk kondangan, sampai naik mobil container yang ditutup terpal seolah-olah tengah mengangkut barang padahal di dalamnya berisi satu keluarga lengkap dengan bawaan khas pulang kampung.

Saya jadi teringat pada curhatan teman yang terancam tak bisa mudik saat lebaran nanti. Kami berkomunikasi dengan melakukan chat inbok. Ia pun bercerita bahwa lebaran tahun lalu pun tak mudik. Sebenarnya bisa saja ia memaksakan pulang kampung, toh teman-teman yang lain juga banyak yang nekat pulang.

Namun ia ingat bahwa ia tak sendirian. Ada istri dan anak-anaknya yang masih kecil yang harus dipikirkan. Akhirnya dengan berat hati mereka berlebaran di perantauan. Tahun ini ternyata pemerintah sudah memutuskan larangan mudik bahkan saat puasa belum mulai.

Menyiasati hal ini, teman saya berinisiatif untuk pulang kampung sebelum masuk bulan puasa. Nggasiki (mendahului) katanya. Prinsipnya tak apa bila lebaran tidak pulang, yang penting bisa berjumpa dengan bapak ibu di kampung dan juga melakukan nyekar di makam leluhur.

Hal yang lazim ia lakukan bersama keluarga setiap menjelang puasa ataupun hari raya. Saya pun mendukung keinginannya. Saya menuliskan balasan yang isinya adalah doa dan harapan agar niat baiknya pulang kampung dicatat sebagai bentuk birrul walidain serta dimudahkan perjalanannya.

Baca Juga :

Mudik Spiritual Menuju Fitrah Kemanusiaan

Rupanya teman saya membuktikan kata-katanya. Awal puasa kemarin saya bertemu dengannya  seuasi shalat Taraweh. Ia bahkan menghabiskan waktu beberapa hari di kampung halaman. Ini saya ketahui karena saya bertemu dengannya beberapa kali setiap usai shalat taraweh. Yah kita memang hanya bisa bertemu dan ngobrol seusai taraweh karena saya biasa shalat taraweh di belakang karena membawa anakku yang masih kecil sementara dia selalu di depan.

Mudik memang menjadi tradisi saat hari raya yang mendarah daging di masyarakat Indonesia. Hidup jauh dari keluarga dan saudara karena tinggal di perantauan menjadikan mereka rindu untuk pulang ke kampung halaman.

Momen hari raya menjadi momen spesial yang selalu dinanti-nantikan oleh mereka yang tengah dirantau orang untuk pulang ke kampung halaman, berkumpul dan melepas rindu dengan keluarga. Yang paling penting adalah melepas rindu kepada orang tua yang telah merawat dari kecil. Sekaligus juga menunjukkan bakti sebagai anak kepada keduanya.

Karena berbakti kepada orang tua adalah salah satu amalan yang paling disukai oleh Alloh SWT sebagaimana hadist Rosululloh SAW:

سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

Artinya: “Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’.” Lalu Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga : Khutbah Jumat: Birrul Walidain

Sebenarnya larangan mudik ini mengacu pada peningkatan kasus Covid-19 yang selalu muncul pasca libur panjang. Yang terakhir terjadi adalah libur Natal dan Tahun Baru. Pemerintah menggunakan alasan ini untuk melakukan pelarangan mudik pada tanggal 7 sampai 17 Mei 2021.

Pemerintah mengkhawatirkan terjadinya lonjakan kasus yang dapat mengakibatkan program vaksinasi yang tengah berjalan akan terganggu. Asumsinya, dengan meminimalisir mobilisasi masyarakat dalam jumlah besar, maka program vaksinasi dapat terlaksana dengan lebih baik, serta menekan penularan Covid-19 dari berbagai lokasi.

Dalam hal ini, maka maqolah ini pun berlaku , “Dar ul mafasid muqoddamun ‘alaa jalbil mashalih ( mencegah kerusakan lebih utama , dari pada menarik kemashlahatan ”, intinya adalah mencegah lebih baik daripada mengobati.

Tradisi mudik lebaran memang menjadi refleksi dari bentuk berbakti kepada orang tua. Kita tahu bahwa berbakti kepada orang tua hukumnya adalah wajib.

Sementara pemerintah melarang mudik demi menekan penyebaran covid-19. Di sini jelas tujuannya adalah melindungi orang banyak. Menjaga keselamatan orang banyak bahkan tak kalah wajibnya dengan berbakti kepada orang tua.

Kita juga perlu mempertimbangkan, bisa jadi kepulangan kita ke kampung halaman justru berpotensi membawa virus covid-19.  Maka keputusan pemerintah melarang mudik kali ini sudah semestinya dihormati. Hal ini sekaligus menjadi ikhtiar bersama melawan covid-19 dari bumi Indonesia.

Naeli Rokhmah

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button