Seni Budaya

Memahami Falsafah Pamomong Dalam Wayang | NUCOM

Artikel berikut ini mengulas tentang falsafah pamomong dalam wayang. Ajaran Islam yang lima, syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji, dalam wayang kulit/ purwa, disimbolisasikan dalam wujud Pandawa Lima, yaitu Puntadewa, Werkudara, Janaka, Sadewa, dan Nakula. Hal ini dapat dibuktikan, bahwa Sulung Pandawa yang bernama Puntadewa memiliki aji, jimat kalimasada, yang berarti Kalimat Syahadat, rukun Islam pertama.

Werkudara disebut Satria Panegak, artinya, dia itu menjadi saka guru, semakna dengan perintah “tegakkanlah sholat”, agar terhindang dari kemungkaran. Werkudara penegak kebenaran. Benar dikatakan benar, salah dikatakan salah. Seperti hadits:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

Artinya: “Inti segala perkara adalah Islam dan tiang (penopang) nya adalah sholat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973.)

Janaka, adalah satria yang gemar bertapa brata, yang berarti gemar berpuasa. Juga satria yang sering berkelana, memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan. Janaka inilah figur yang mendapatkan wejangan Wahyu Hasta Brata setelah menjalankan laku prihatin dengan “mangan longan turu longan”.

Wahyu Hasta Brata ini berisi pedoman hidup sehari-hari dalam masyarakat, sekaligus ilmu manajemen dan leadership dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nakula-Sadewa adalah satria yang terlahir dalam wujud kembar. Dia lahir dari ibu yang berbeda dengan ketiga saudara tuanya di atas. Nakula-Sadewa adalah esensi dari tujuan ajaran Islam yang sesungguhnya, yaitu ihsan, akhlaq yang baik: jujur, taat, setia, welas asih, dan sebagainya.

Apa yang tercermin dari figur ke-lima Pandawa itu harus dijaga, ila yaumil qiyamah. Tak boleh kurang atau lebih, menyimpang atau tersesat. Dan itu tugas para Kyai, ulama, sebagai pewaris Nabi.

Dalam dunia wayang, dalang dan perwayangan, para penjaga Pandawa itu adalah Punokawan, yang terdiri dari Kyai Semar, Kyai Gareng, Kyai Petruk dan Kyai Bagong.

Masing-masing Ponakawan ini memiliki Padukuhan/ Pesantren yang berbeda-beda, tujuannya adalah merawat ajaran lima yang tercermin dalam Pandawa Lima. Pesantren bertugas untuk merawat sanad ke-ilmuan Nabi agar tetap terjaga lestari, sampai hari kiamat.

Pertama, Semar berasal dari lata Ismar, yang berarti “paku”. Melambangkan agar manusia dalam hidupnya, bertumpu pada satu poros ajaran yang kuat, tidak goyah.

Surat Al-Ahqaf Ayat 13

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhanku adalah Allah, kemudian istiqomah, maka tidak ada ketakutan baginya, dan tidak pula kekhawatiran”

Atau ayat yang mengatakan:

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا

“Berpeganglah kepada tali Allah, dan janganlah berpecah belah”

Kunci agar suatu keadaan tidak goyah, harus ada “paku” yang kuat dan kokoh. Inilah makna Semar, atau Ismar.

Kedua, Kyai Nala Gareng. Nala itu berarti hati. Gareng bisa berarti garing, kering dari maksud-maksud tersembunyi, kering dari niat-niat buruk. Hati yang selamat seperti kata quran, disebut qolbin salim.
Gareng bisa juga berasal dari kata khoiron, yang berarti baik. Lawannya tokoh Sarawita yang berasal dari kata syarron, yang bermakna buruk.

Ketiga, Petruk kanthong bolong. Petruk berasal dari kata fatruk, yang artinya, maka tinggalkan, maksudnya tinggalkan selain Alloh.  Petruk adalah simbol amar ma’ruf. Adapun kantong bolong, merupakan metafora dari perbuatan yang ikhlas. Nothing to lose. Sifat ikhlas, tanpa tendensi, adalah cermin dari kemurnian tauhid.

Keempat, Kyai Baghong. Baghong berasal dari kata Bagho, Bughot, pemberontakan. Yaitu sifat anti kemapanan atau status qua. Islam harus dipahami sesuai dengan konteks ruang dan waktu, agar tidak statis, tetapi dinamis. Sebab sifat Islam itu, al islamu sholih lii kulli zaman wal makan. Islam itu baik di setiap waktu dan tempat.

Untuk mewujudkan sifat ini, maka Islam tidak boleh di-frame dalam sangkar emas. Harus terus digali potensi dinamisnya agar bisa menyesuaikan, syukur-syukur bisa mengantisipasi perkembangan jaman. Status qua fiqh yang ortodoks harus diganti dengan fiqh yang dinamis.

Itulah pentingnya kaidah ushul fiqh, al mukhafadlotu ‘ala qodimishsholih wal ahdu biijadidil ashlah. Mempertahankan yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik.

Jika Islam tidak ditafsiri sesuai dengan perkembangan jaman, maka cahaya Islam akan padam.

Lawan figur Baghong, adalah Togog, berasal dari kata toghut, yang berarti Syaitan. Syaitan inilah yang menjadi musuh nyata manusia. Manusia diberi pilihan, apakah akan beriman, atau ingkar. Beriman berarti menapaki jalan Allah berupa syariat Islam, ash-shirot al mustaqiem, namun jika ingkar, ia mengikuti jalan toghut atau syaitan, yang akan mengeluarkan dia dari jalan terang kepada jalan kegelapan.*

~Artikel Memahami Falsafah Pamomong dalam Wayang ditulis oleh Toufik Imtikhani [Pojok Cilacap,220421]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

4 × 3 =

Back to top button