Esai Opini Wawasan

Kapan Hari Libur NU? (Refleksi Khidmat & Pengkhidmatan)

Kapan Hari Libur NU? Bagi pegiat dan aktifis organisasi Nahdlatul Ulama (NU) baik di Lembaga maupun di Badan Otonom, pertanyaan tersebut tidak akan pernah ditemukan jawabannya, mengapa?, karena di NU memang tidak mengenal hari libur.

Mengapa di NU tidak ada hari libur? Karena memang tidak ada aturan yang baku dari organisasi NU tentang libur pada hari-hari tertentu; tidak di hari Jumat, tidak juga di hari ahad.

Memang, di kalender PBNU, sebagaimana kalender terbitan manapun untuk wilayah Indonesia, terdapat banyak hari libur. Tapi, bukan NU yang menentukan hari libur, melainkan pemerintah dengan aturan tentang hari libur nasional nya. Di kalender PBNU, banyak tanggal merah, tapi bukan dalam rangka liburan ala NU.

Alih-alih tanggal merah libur, malah dimanfaatkan, digunakan dan dimaksimalkan untuk pelaksananaan program dan kegiatan organisasi, tidak hanya di NU, tapi juga di Lembaag dan Badan Otonom NU. Hari Libur Nasional tahun baru Islam dimanfaatkan NU untuk memeringati Muharraman; hari libur Maulid Nabi, dilaksanakan Maulidan, hari libur Isra’ Miraj, digunakan untuk meemeringati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Di organisasi NU, para pegiat dan aktifisnya di berbagai lembaga dan Badan Otonom, memiliki latar belakang profesi yang beragam; ada petani, pedagang, PNS, Pensiunan, Dokter, Tenaga Medis lainnya, Pegawai Swasta, Pelajar, Mahasiswa dan lain-lain profesi dan pekerjaan.

Sebagian dari mereka, atas dasar latarbelakangnya, mengenal hari libur, sesuai yang diberlakukan. Namun, sebagian yang lain sebaliknya, tidak mengenal hari libur. Dalam pengertian lebih kongkrit, sungguhpun hari ini tanggal merah yang berarti libur secara nasional, bagi mereka tidak lantas libur dalam ber-NU, berorganisasi di Nahdlatul Ulama. Justeru karena hari libur, maka waktu libur dan liburan dimanfaatkan untuk ber-NU.

Khidmat, menembus ruang dan waktu

Mereka semua – baik yang mengenal maupun cuek dengan hari libur– dalam satu nafas, dan nafas itu adalah khidmat, berkhidmat dan pengkhidmatan. Apa itu Khidmat? Khidmat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memiliki arti “hormat”, “takzim”, sementara dari sisi bahasa melayu, khidmat berarti “layanan”. Berkhidmat, masih menurut KBBI, berarti “berbuat khidmat”; “bersopan-santun”; juga berarti mengabdi kepada” dan “setia kepada”.

Jadi, jika yang dinyatakan kepengurusan NU Masa Khidmat 2021-2026, itu berarti rentang waktu “pengabdian” dalam kurun waktu tertentu. Kemudian, berkhidmat kepada organisasi NU, memiliki arti dan makna mengabdi kepada NU”, “mengabdi dengan setia kepada” organisasi NU.

Nafas kesetiaan yang sejati tidak mengenal sekat, menembus ruang dan waktu, karena kesetiaan ada di hati, apalagi jika sudah terikat dengan janji suci berupa baiat. Sama-sama mengabdi dan menjalani pengabdian, sama-sama dengan modal kesetiaan, namun tetap nuansanya boleh jadi berbeda antara di organisasi NU dengan institusi di luar organisasi NU.

Jadi, Kapan Hari Libur NU? Pertanyaan ini bagi TIM Media NU Cilacap, atau Redaksi NU Cilacap Official Media (NUCOM), rasanya semakin sulit untuk ditemukan jawabannya. Jikapun harus ada hari libur di organisasi NU, maka…..itu pasti tetap merujuk kepada aturan pemerintah, utamanya tentang hari libur nasional. Berorganisasi NU bisa saja mengenali libur, tapi tidak dalam ber-NU. (WAW)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button