Esai Opini Wawasan

Intelektual – Organisatoris, Titik Singgung Dalam Organisasi

Ada banyak kaum intelektual (intelektualis) yang berkecimpung di organisasi; lalu muncul ungkapan intelektual-organisatoris, atau organisatoris sekaligus intelektual, bagaimana keduanya bersinggungan? Lau Anda tipe yang mana?

Pada dasarnya, setiap orang punya pendiriannya sendiri. Segala sesuatu yang dipandang sebagai pendirianya bertumpu pada prinsip-prinsip hidup. Saat ia berperan dalam kehidupan organisasi dan sosial, ada saatnya harus berani melepas prinsip-prinsipnya yang dirasa benar menurut pribadinya sendiri; di hadapan organisasi.

Di setiap lini saat ini tidak dipungkiri terdapat suatu perkumpulan, organisasi, yang dibangun ditujukan pada visi dan misinya sendiri; ia bisa berupa organisasi yang berbasis keagamaan, atau organisasi berbasis sosial nasionalis lainnya.

Organisasi, Cermin Intelektualitas

Berkumpul, berserikat, dan membangun suatu organisasi adalah solusi untuk bersama sama memandang kemajuan hidup. Tanpa organisasi, tatanan masyarakat tidaklah akan maju. Karena bagaimanapun, berorganisasi adalah praktik menggalang kekuatan yang satu pemikiran.

Sedangkan setiap pemikiran itu dijadikan acuan sebagai garis perjuangan dasar dalam menjalankan roda organisasi itu. Sebab hanya lewat tatanan organisasi, tujuan serta cita-cita bersama itulah yang paling mungkin untuk dapat dijalankan dan diwujudkan secara bersama dan dinikmati secara bersama-sama pula.

Tetapi dengan banyak peran intelektual yang berkecimpung dalam suatu wadah organisasi; juga banyak pula dari mereka merupakan organisatoris yang mungkin sudah lama bertumbuh dalam bidang organisasi beserta dengan pengalamannya.

Mungkinkah gesekan yang terjadi bisa dihindarkan ketika intelektual saling bersebrangan di organisasi? Atau, dengan prinsip-prinsip pelaku organisasi itu yang secara esensi memiliki pandangan yang berbeda, akankah dapat membuat organisasi itu timpang dan efektivitas gerakannya berkurang?

Membahas intelektual serta prinsip suatu organisasi tidaklah mudah, organisasi merupakan bentuk dari kompleksitas itu sendiri yang membawa alam pikiran serta kepentingannya masing-masing individu yang terlibat dalam organisasi.

Baca Juga :

Loyalitas Organisatoris

Organisasi itu sendiri adalah cermin intelektualitas, sementara intelektualitas tanpa dibarengi dengan prinsip organisasi; tidak akan efektif manfaatnya sebagai khasanah berpikir manusia dalam memandang suatu tujuan hidup itu; yang sama-sama disepakai sebagai tujuan berorganisasi.

Selagi intelektualitas dan organisasi masih dapat dikompromi sebagai suatu bentuk kesadaran bersama, di sana bukan tidak mungkin suatu organisasi itu dapat berjalan. Berorganiasi itu harus merasa saling sadar bahwa perang intelektual dapat terjadi dan juga prinsip organisatoris itu berlaku sebagai sebuah perbandingan yang nantinya akan mengundang tantangan bersama dalam menjalankan suatu organisasi.

Tetapi jika terlalu memagang prinsip kedirian, seyogyanya seseorang yang berorganisasi harus berani melepaskan. Meski taruhannya adalah ketika ia teguh dalam idealisme menganggap prinsipnya baik dan itu berseberangan dengan kesepakatan sebagain besar anggota yang ada dalam berorganisasi.

Di sana mereka harus berani melepaskan tidak lagi di khasanah pemikiran akan organisasinya saja tetapi melepaskan wadah organisasi itu sebagai wujud sudah tidak mampunya diri bersama dengan visi dan misi tujuan berorganisasi.

Sebagai bagian dari yang sudah tidak lagi turut berkecimpung baik dalam pemikiran maupun dukungan secara organisatoris, justru seseorang yang mempunyai pandangan lain akan menghancurkan suatu organisasi itu sendiri dengan getaran ketidaksetujuan diri yang membuat seorang tersebut tak loyal dengan organisasi.

Banyak contoh terjadi dalam organisasi. Mereka yang tidak loyal dan memilih masih terlibat dalam organisasi tersebut. Tetapi untuk mengimplementasi cita-cita organisasi mereka terasa enggan bergerak. Di sanalah ia terus akan membuat kacau oraganisasi tersebut.

Maka solusi dari suatu permasalahan yang akan timbul dalam organisasi terkait dengan perbedaan pandangan intelektual, maupun pandangan yang menyangkut sisi dari organisatoris itu sendiri adalah mampu menyadari kapasitas diri serta sadar bahwa berada dalam gerbong suatu organisasi ada peran pimpinan organisasi untuk dapat ditaati sebagai keputusan akhir. Baik dari sisi organisatoris maupun sisi intelektualis sebagai bagian dari organisasi.

Pemimpin Yang Bijaksana

Untuk itu penting seseorang sebelum masuk organisasi haruslah sadar bagaimana peran dalam organisasi tersebut. Selain itu seorang organisatoris juga harus tahu dasar-dasar visi serta misi sebuah organisasi sebagai pegangan; bahwa apapun yang berkembang dari ranah intelektualitas semua dapat disanggah termasuk kebijakan apa yang akan dilakukan organisasi.

Tetapi jika secara terus menerus memaksakan sebuah idenya sendiri-sendiri dalam organisasi. Seharusnya sebuah ide, ditelaah bagaimana kemanfaatan itu sebagai sebuah kebijakan bersama, yang mungkin saja dari kedalaman ide itu banyak mengungkapkan sisi kemanfaatan yang besar bagi sebuah kebaikan organisasi.

Peran pemimpin itu sangat penting sebagai pemangku keputusan akhir dalam sebuah organisasi; di mana peran pemimpin organisasi harus mampu mensinkronisasi dialektis intelektual anggota organisasi. Itu di satu sisi.

Di lain sisi pemimpin organisasi juga harus mampu memberikan sebuah wacana organisatoris yang semua harus dijalankan sesuai dengan tugas, pokok, dan fungsi organisasi sesuai dengan alur berorganisasi.

Sebagai penutup, intelektualis dan sikap organisatoris memang berjalan bersama dan itu tidak pernah salah dalam menjalankan organisasi. Tetapi pada saat kebijakan dari sebuah organisasi itu akan diambil, seharusnya peran intelektual dan sikap-sikap organisatoris harus dilepaskan dan diserahkan pada peran pemimpin organisasi untuk memutuskan itu. Inilah saat kita harus menengok jauh ke belakang, di mana peran kepemimpinan dalam organisasi itu harus divitalkan dan disakralkan sebagai sebuah titah organisasi.

Salah satu filsuf Yunani yakni Plato mengungkapkan bahwa; seorang pemimpin haruslah seorang filsuf atau orang-orang cendikiawan yang bijaksana.

Dengan sebuah kebijaksanaan serta wawasan intelektual yang luas, factor kepemimpinan dalam organisasi akan efektif. Karena selain seorang pemimpin itu dihormati akan pengetahuannya, di samping itu kebijaksanaannya;  juga akan membuat anggotanya segan pada peranannya sebagai seorang pemimpin yang akan disakralkan sebagai cahaya bagi jalannya organisasi.

Baca Juga >> Struktur Organisasi NU, Dari PBNU Sampai Anak Ranting NU

*) Ditulis: Toto Priyono, Aktivis GP. Ansor PAC Maos

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 × two =

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button