MWCNU

Profil Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Patimuan

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Patimuan, Cilacap merupakan bagian tak terpisahkan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama / NU Cilacap. Berikut ini sejarah dan profil singkat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Patimuan.

Patimuan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Cilacap yang terletak di bagian barat, kurang lebih 93 km dari pusat kota. Secara geografis Patimuan terletak di pinggir Sungai Citanduy yang merupakan garis pembatas antara wilayah Provinsi Jawa Tengah dengan Jawa Barat, sehingga penduduk setempat terdiri dari dua suku yang berbeda yaitu Suku Jawa dan Sunda serta mampu berkomunikasi dalam dua bahasa daerah, yaitu Sunda dan Jawa (Banyumasan).

Nahdlatul Ulama (NU) Patimuan sudah ada sejak tahun 1963. Pada masa itu NU menjadi musuh terbesar PKI di Cilacap. Sehingga suatu ketika pernah terjadi bentrok antara warga NU dengan PKI. Untungnya, bisa diselesaikan oleh Ansor. Tokoh yang berpengaruh pada saat itu antara lain; Kiai Yusuf (Cinyawang), Kiai Miftahudin (Bulupayung), Kiai Raden (Patimuan) serta Kiai Fakhrudin (Cinyawang), Kiai Syamsudin Solehan, Kiai Husein (Bulupayung) dan Kiai Dimyati.  Kiai Fakhrudin bercerita pada tahun 1964, daging di tubuhnya pernah ditawar seharga 3.500 (tiga ribu lima ratus) rupiah perkilogramnya oleh orang PKI saat itu. Namun, beliau enggan dan tetap teguh pendiriannya pada NU.

Jalan Kaki Patimuan-Cilacap

Setiap ada Musyawarah NU di Cilacap beliau-beliau ini selalu aktif hadir. Jarak puluhan kilometer dari Patimuan ke Cilacap Kota ditempuh dengan berjalan kaki dan naik kereta api. Musyawarah setengah hari dapat memakan waktu tiga hingga empat hari di perjalanan. Saat itu musyawarah diadakan di Masjid Agung Cilacap yang masih berlantai kayu.

Kiai Yusuf, Kiai Miftahudin dan Kiai Fakhrudin memulai perjalanan setelah waktu sholat dhuhur, berjalan kaki dari Patimuan ke Stasiun Sidareja, sambil menunggu kereta datang mereka singgah istirahat di kediaman Mbah Mustofa. Pukul 17.00 WIB kereta datang, kereta api saat itu masih menggunakan bahan bakar kayu yang membuat bekas hitam apabila mengenakan baju putih.

Dari Stasiun Sidareja kemudian mereka naik kereta sampai Stasiun Lebeng, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai Pasar Sangkalputung Cilacap dan menuju ke lokasi musyawarah di Masjid Agung. Kiai Fakhrudin bercerita, pakaian yang akan dikenakan saat musyawarah hanya dibungkus dengan klaras (pelepah pohon pisang) atau daun pisang. Dan mereka hanya mengenakan celana pendek saat di perjalanan.

Setelah musyawarah selesai, beliau pulang dengan kereta di Stasiun Cilacap, naik kereta seadanya, saat itu kereta pemintalan, sampai di Kesugihan beliau menginap dahulu di Pondok Kesugihan. Dan lanjut berjalan kaki ke Stasiun Lebeng menuju Sidareja. Perjalanan yang menguras banyak tenaga ini tidak terasa sebab bersama-sama dengan rekan seperjuangan di NU, bersama H Sulton (Penisihan), H Surur (Tambaksari) dan Bau Marjo (Kedungreja).

Berpisah dari Kecamatan Kedungreja

Pada tahun 1990, Patimuan masih menyatu dengan Kedungreja, setelah tahun 1993, Patimuan mengalami pemekaran wilayah, yang awalnya hanya sebagai Desa Patimuan menjadi Kecamatan Patimuan yang membawahi tujuh desa. Setelah pemekaran ini, kemudian Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Patimuan juga ikut berubah menjadi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Patimuan.

Setelah rezim PKI luntur banyak masyarakat yang masuk Islam dan ikut kegiatan di masjid dan mushola. Karena Patimuan termasuk di wilayah Segara Anakan dengan akses yang susah, maka pengajian hanya dilakukan di lingkup lokal, di masjid atau musholla masing-masing desa.

Namun, pada masa orde baru NU kembali menghadapi berbagai tantangan diantaranya, setiap kegiatan yang berbau keagamaan sangat sulit untuk dijalankan karena diawasi ketat oleh pemerintah saat itu. Tak jarang terjadi kucing-kucingan antara Ulama NU dengan Aparat Desa.  Untungnya di Patimuan tidak ada organisasi lain selain NU pada saat itu, bisa dikatakan semua penduduk Islamnya orang NU.

Suatu ketika, pernah terjadi perebutan masjid NU dengan kaum “minhum” di wilayah perbatasan. Kemudian NU mengatasi masalah ini dengan mengadakan istighosah bersama dengan warga setempat, Ansor dan Pengurus NU di masjid tersebut dan mengikrarkan bahwa masjid tersebut milik warga NU. Hal ini yang kemudian harus menjadi perhatian dalam penguatan akidah bagi warga NU.

Baca Juga : Susunan Pengurus MWCNU Patimuan 2015-2020

Pada tahun 2015, MWCNU Patimuan melakukan gerakan wakaf bersama untuk pembangunan Gedung Sekretariat Bersama. Sejumlah 400 juta rupiah digunakan untuk membeli rumah yang kemudian di renovasi menjadi Gedung MWCNU yang rampung di tahun 2016.

Pada kepengurusan ini kegiatan rutin yang dilakukan antara lain, kajian Kitab Fathul Qorib dan Kitab Al Hikam setiap Malam Sabtu; Pembacaan Maulid Al Barzanji oleh Fatayat NU setiap Minggu Pon; Jam’iyah Quro wal Hufadz setiap Minggu Wage; Bahtsul Masail; Pengajian Minggu Manis dan masih banyak lagi.

Pengurus MWCNU Patimuan Cilacap

Periodesasi MWCNU Patimuan

Periodisasi atau Masa Khidmat dalam sejarah MWCNU Patimuan Cilacap secara berturut-turut adalah sebagai berikut;

  1. (1995-2000) Rois Syuriah, KH Sarif Hidayatulloh; Ketua Tanfidziyah, KH Fakhrudin;
  2. (2000-2005) Rois Syuriah, KH Fakhrudin; Ketua Tanfidziyah, KH Adib Yusuf Zuhdi;
  3. (2005-2010) Rois Syuriah, KH Fakhrudin; Ketua Tanfidziyah, KH Adib Yusuf Zuhdi;
  4. (2010-2015) Rois Syuriah, KH Muadibus Sibyan; Ketua Tanfidziyah, KH Gunadi;
  5. (2015-2020) Rois Syuriah, KH Muadibus Sibyan; Ketua Tanfidziyah, KH Gunadi;
  6. (2020-2025) Rois Syuriah, KH Muadibus Sibyan; Ketua Tanfidziyah, KH Gunadi.

Program unggulan di MWCNU Patimuan saat ini meningkatkan perekonomian warga NU salah satunya dengan memproduksi air mineral kemasan “QOHA” dan galon dengan memanfaatkan mata air pegunungan yang ada di wilayah tersebut dengan dibacakan Al Qur’an sebelum dikemas. Selain itu juga mengadakan kelompok usaha bersama (KUB) di didang peternakan dan perikanan di setiap ranting. Dalam setiap kegiatan keagamaan NU selalu bersinergi dengan aparat pemerintahan untuk  mewujudkan terciptanya keamanan dan ketertiban di masyarakat.

Baca Juga : Pengurus MWCNU Patimuan Masa Khidmat 2020-2025

Pada tahun 2016 lalu, MWCNU Patimuan bahkan mendapat predikat sebagai Pengurus MWCNU terlengkap sampai tingkatan Pengurus Anak Ranting. Aspek yang akan terus dipertahankan di NU Patimuan khususnya, ada tiga, antara lain, penguatan ideologi ahlusunnah wal jamaah dengan militan; selanjutnya mengembangkan potensi dari segi ekonomi yang kemudian NU tidak hanya sebagai objek tapi juga menjadi subyek; selain itu mengokohkan budaya lokal yang dirintis oleh Walisongo.

7 Ranting NU

MWCNU Patimuan membawahi 7 Pengurus Ranting NU, masing-masing sebagai berikut;

  1. Ranting NU Cinyawang, Rois Syuriah KH Syukur Abdulloh, Ketua Tanfidziyah Kiai Muntasir
  2. Ranting NU Patimuan, Rois Syuriah Kiai Nur Kholis, Ketua Tanfidziyah Kiai Misbahul Munir
  3. Ranting NU Rawaapu, Rois Syuriah Kiai Nurudin Efendi, Ketua Tanfidziyah Kiai Mustolih
  4. Ranting NU Purwodadi, Rois Syuriah Kiai Abdulloh, Ketua Tanfidziyah Kiai Salamun, S. Ah.
  5. Ranting NU Bulupayung, Rois Syuriah Kiai Komarudin, Ketua Tanfidziyah Kiai Taslim Ansori
  6. Ranting NU Sidamukti, Rois Syuriah KH Achmad Toharun, Ketua Tanfidziyah Em Chasan
  7. Ranting NU Cimrutu, Rois Syuriah Kiai Faizun, Ketua TanfidziyahKiai Saikhul Qodim

Ke 7 Ranting NU di wilayah MWCNU Patimuan Cilacap di atas, semuanya dalam Masa Khidmah aktif dan ber-SK dengan program dan kegiatan masing-masing. Baik MWCNU Patimuan maupun Ranting NU nya, didukung dengan keberadaan Badan Otonom NU seperti Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU dan IPPNU.

***

Disclaimer: Profil MWCNU Patimuan ini adalah versi pertama yang dimuat di Situs Islam Aswaja NU Cilacap Online, terbit pertama kali tanggal 4  Bulan April tahun 2021, dan diolah dari Hasil wawancara Mahasiswa IAIN Purwokerto dengan Pengurus MWCNU Patimuan. Tulisan ini hasil kerjasama PCNU Cilacap dengan IAIN Purwokerto melalui Program Praktek Lapangan (PPL) Mahasiswa Fakultas Dakwah jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) yang terdiri dari Shevilla Dewi Pramudita, Novia Nurfadilla dan Zulia Adzkiyati.

Ditulis Oleh : Shevilla Dewi Pramudita
Editor: Achmad Nur Wahidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

five + ten =

Pilih Artiikel Menarik Lainnya
Close
Back to top button