Seni Budaya

Larung Jolen, Tradisi Warga Ujungmanik Cilacap Di Sasi Suro

Larung Jolen adalah tradisi turun temurun yang dilaksanakan oleh warga desa Ujungmanik, Kawunganten, Cilacap, sebagai cara untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dilaksanakan pada sasi suro (bulan Muharram, red).

Tradisi Larung Jolen yang dilaksanakan oleh Masyarakat Desa Ujungmanik adalah satu dari sekian banyak tradisi di negara ini yang menjadi perwujudan rasa syukur kepada Tuhan. Artinya, tradisi sejenis, di daerah lain, juga dilaksanakan. Ada yang menamakannya dengan larung sesaji. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada Sasi Suro atau Muharam. Tepatnya pada hari Kamis sore jelang malam Jumat Kliwon di bulan Suro.

Adat istiadat yang dimiliki oleh masing-masing daerah yang ada di negara ini bukan semata untuk kepentingan adat atau keseharian. Namun adat istiadat tersebut juga sering kali digunakan cara untuk menunjukkan rasa syukur kepada sang pencipta yang sudah memberikan hidup kepada seluruh penghuni dunia ini.

Ritual Larung Jolen

Ritual Larung Jolen warga Desa Ujungmanik tahun ini dilaksanakan pada Kamis (26/06) sore. Acara tahunan ini dimulai sejak pukul 14.00 WIB hingga Jelang Magrib,  Malam Jum’at Kliwon. Warga Desa Ujungmanik Kecamatan Kawunganten misalnya. Sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan, mereka melakukan tradisi Larung Jolen pada Jumat (26/08).

Sekretaris Desa Ujungmanik Priyo Utomo kepada NU Cilacap Online, menuturkan acara Larung Jolen biasanya dilaksanakan dengan meriah. Namun tahun 2021 ini terpaksa dilaksanakan dengan sederhana.

“Ritual Larung Jolen tahun ini diadakan sangat sederhana mengingat masih suasana pandemi. Tentunya dengan tetap patuh pada protokol kesehatan,” kata Priyo.

Acara pelepasan sesaji di mulai dari Balai Desa Ujungmanik-Kawunganten, kemudian di arak menggunakan tandu dan di bawa menggunakan perahu menuju titik pusat Kawasan Cikaret, Sapuregel (wiayah Segara Anakan), Cilacap. Daerah ini sebagai titik paling ujung selatan Desa Ujungmaik Kawunganten Cilacap.

“Inti dari upacara Larung Jolen ini sendiri adalah untuk melarungkan atau menghanyutkan sesaji yang terbuat dari berbagai hasil bumi masyarakat sekitar,” terang Priyo.

Sesaji yang dilarungkan berupa tumpeng berukuran besar yang mencapai tinggi 1 meter. Tumpeng ini terbuat dari beras putih dan beras merah yang dihias dengan aneka jenis buah dan sayuran hasil bumi masyarakat sekitar. Seperti pisang, pepaya, kacang panjang, ketela, dan berbagai hasil bumi yang lainnya.

Berbagai elemen masyarakat terlibat acara ini dari Pemerintah Desa Ujungmanik dan kelompok nelayan. Tidak kurang dari 4 kelompok nelayan. Ritual larung jolen dipimpin oleh kesepuhan setempat Mbah Sardi, dan tahun ini diikuti oleh 100 orang dengan armada perahu yang digunakan sejumlah 20 unit.

Tradisi Larung Jolen
Ritual Larung Jolen warga desa Ujungmanik, Kawunganten, Cilacap, sebagai cara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia nikmat dalam segala aspek kehidupan

Priyo mengungkap, tradisi Larung Jolen ini hingga saat ini masih bertahan karena kesadaran masyarakat setempat yang ingin nguri-uri budaya.

“Di samping nguri-uri budaya, tradisi Larung Jolen juga wujud syukur kepada Tuhan. Selain itu juga sebagai bentuk selamatan untuk bumi dan laut. Sebagai rasa terima kasih kepada alam yang telah melimpahkan hasil bumi dan laut sehingga manusia tidak kekurangan bahan makanan,” tandas Priyo.

Apa itu Larung Saji? Upacara atau ritual Larung Saji merupakan bentuk sedekah alam yang dilakukan sebagian perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta yakni Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rejeki terutama dalam bentuk hasil bumi bagi petani dan ikan bagi masyarakat nelayan Desa Ujungmanik.

Upacara Larung Saji ini sendiri banyak kita temukan di berbagai daerah di pulau Jawa terutama yang berdekatan dengan pantai, sebut saja seperti daerah pesisir laut Cilacap, seperti Desa Ujungmanik yang notabene berbagai elemen masyarakat dari agamis kejawen dan juga dari mata pencaharian keseharianya ada petani pedagang dan nelayan.

Sedekah Laut dan Bumi

Di Kabupaten Cilacap sendiri ada istilah Sedekah Laut. Ritual sedekah laut pada dasarnya sama, yaitu pelaksanaan larung saji. Inti dari upacara Larung Saji ini sendiri adalah untuk melarungkan atau menghanyutkan sesaji yang terbuat dari berbagai hasil bumi masyarakat sekitar.

Berbicara tentang Sedekah laut, maka tidak terlepas dengan sedekah bumi. Bila Sedekah Laut adalah syukuran untuk mensyukuri tangkapan ikan laut bagi para nelayan. Maka Sedekah Bumi atau Selamatan Bumi adalah tradisi syukuran untuk bumi. Syukuran ini untuk mensyukuri hasil bumi (sedekah hasil bumi) yang telah dinikmati oleh warga desa. Biasanya sedekah bumi dilaksanakan di Balai kampung atau Balai Desa.

Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap KH Maslahudin dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa sedekah laut dan sedekah bumi adalah syukuran (ungkapan rasa syukur, red.) atas terciptanya langit dan bumi yang konon tercipta pada bula Suro.

“Sebenarnya yang diciptakan pada bulan Sura itu bukan hanya bumi dan laut, tetapi gunung dan langitpun juga dicipta pada bulan Sura,” kata KH Maslahudin.

Oleh karenanya saat melaksanakan selamatan atau sedekah bumi & sedekah laut, oleh kiai dikrenah (dicipta-ulang) agar dalam pelaksanannya diniati sebagai sedekah gabungan; sedekah (atas) bumi, laut, gunung dan langit sekaligus. Ini ditempuh karena kita sebagai manusia butuh langit, butuh gunung dan butuh yang lainnya.

Menurut KH Maslahudin, upacara dan ritual serta selametan semua itu bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT, agar mendapat ketenteraman, kesejahteraan, dan kedamaian.

“Selain itu, selametan juga untuk menciptakan dan memelihara keselarasan di dalam masyarakat atau di dalam kehidupan sosial sehingga senantiasa tercipta dan terjaga keadaan seimbang dan harmonis di antara unsur unsur yang ada di alam raya ini,” pungkas KH Maslahudin.

Penulis: Shohibul Faih
Penyunting: Naeli Rokhmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

3 × two =

Baca Artiikel Terbaru Lainnya
Close
Back to top button