Antologi NU

Menjaga Tradisi Rutinan Selapanan Kegiatan Organisasi NU

Selapanan atau lapanan menjadi patokan tradisi kapan pelaksanaan rutinan progam dan kegiatan di organisasi NU dan juga Badan Otonom NU; penggunaan selapanan masih tetap terlihat, terjaga dan menjadi tradisi sampai sekarang.

Selapanan itu berhubungan dengan waktu, yang menunjukkan siklus 35-an hari dengan menggunakan hitungan hari pasaran dalam tradisi Jawa. Hari pasaran tersebut melekat pada 7 hari dalam sepekan. [Baca Selapanan dan Pasaran]

Entah sejak kapan penggunaan hari pasaran dalam siklus selapanan untuk pelaksanaan kegiatan organisasi NU itu berlaku; hingga menjadi tradisi sampai saat ini. Juga siapa yang memulainya, belum ada referensi tentang hal itu.

Namun, siapapun yang sudah memrakarsasi dan memulainya; dia lah yang telah ikut andil dalam melestarikan tradisi berorganisasi di Nahdlatul Ulama (NU). Dia pula yang telah meletakkan dasar penghormatan organisasi NU atas tradisi Jawa dalam siklus pasaran dan selapanan itu sendiri.

Selapanan dan Rutinan

Antara selapanan dan rutinan ada hubungan yang saling memengaruhi saat mana sebuah tradisi terbentuk. Dalam hal ini, tradisi pertemuan di lingkungan organisasi NU yang pelaksanaannya menganut sistim siklus selapanan sekaligus pasaran.

Mengambil contoh; Ahad Kliwonan. Bagi pengurus NU, Lembaga dan Badan Otonom NU, istilah “Ahad Kliwonan” sudah sangat melekat. Ahad Kliwonan, yang pertama menunjukkan waktu, dan yang kedua mengingatkan sebuah pelaksanaan sebuah kegiatan.

Ahad Kliwonan menunjukkan sebuah rutinitas kegiatan (kegiatan yang bersifat rutin) yang pelaksanaannya pada setiap hari Ahad dengan pasaran Kliwon. Pada prakteknya, masing-masing tingkatan pengurus NU memiliki perbedaan sekaligus persamaan dalam penggunaan siklus selapanan. Ada Sabtu Kliwon, Sabtu Legi, juga Ahad Legi.

Baca Juga:

Satu pengurus Ranting NU mungkin saja menggunakan Ahad Kliwon sebagai hari pelaksanaan rutinan. Pengurus Ranting NU lainnya atau bahkan di tingkat Pengurus Anak Ranting NU; bisa saja menggunakan hari dan pasaran yang sama; bisa juga berbeda. Pun demikian penggunaan hari-harinya.

Atas dasar pengalaman dan praktik di lapangan, bisa dipastikan bahwa seluruh hari dalam sepekan dan 5 pasaran (pancawara) juga bisa terpakai semuanya. Tidak terfokus ke hari Ahad. JUga tidak terfokus ke satu pasaran misalnya Kliwon. Sehingga bisa jadi ada Ahad Wage-an, Selasa Pon-an, atau Sabtu Pahing-an.

Karena menggunakan siklus selapanan, maka pelaksanaan sebuah kegiatan terjadi satu kali dalam siklus 35 hari. Bagi warga dan pengurus NU dan Badan Otonom, penggunaan siklus selapanan ini sudah sangat familier. Ia berfungsi sebagai penanda sekaligus pengingat pelaksanaan kegiatan rutin. Selapanan juga sangat membantu bagaimana kontinyuitas sebuah kegiatan bisa terjaga, bisa terlaksana secara rutin dan ajeg (istiqomah).

Menjaga Tradisi Kegiatan Rutin

Apakah di tempat di mana anda berdomisili ada selapanan rutinan Organisasi NU dan Badan Otonomnya? Jika ada, kegiatan rutin (rutinan) harus terjaga dari waktu ke waktu. Mengapa?

Siklus kegiatan 35 harian ini merupakan manifestasi pelaksanaan sebuah kegiatan. Ia bisa menjadi penanda bahwa selama satu kali siklus tersebut, organisasi NU memiliki dan menjalankan kegiatannya. Ia juga bisa menjadi parameter aktifitas struktur organisasi NU dalam melaksanakan programnya.

Pelaksanaan kegiatan organisasi NU bisa menggunakan rentang waktu harian, siklus sepekan, atau bahkan sebulan (bulanan). Nah, dalam hal selapanan, katakanlah bahwa ia merupakan ukuran parameter waktu bagi organisasi NU yang kegiatannya memerlukan rentang waktu 35 hari.

Apakah ada tingkatan organisasi NU yang dalam kurun waktu 35 hari tidak melaksanakan kegiatan?; yang berarti bahwa hari ke 1 sampai dengan hari ke 35 tidak melaksanakan kegiatan sama sekali? Bisa jadi, ada.

Menjaga tradisi kegiatan rutin bagi organisasi NU merupakan ikhtiar menghidupkan organisasi NU itu sendiri. Juga menjaga kelestarian misi organisasi NU beserta tujuannya. Kegiatan rutin, semestinya bisa menjadi bagian dari kerangka besar program organisasi NU, di luar yang bersifat insidental dan instruktif.

Selapanan sebagai Alternatif

Siklus selapanan sangat tepat menjadi alternatif waktu pelaksanaan kegiatan organisasi NU, juga badan otonom NU. Putaran 35 harian ini secara tinjauan waktu, sangat longgar, dari pada siklus bulanan atau mingguan, atau siklus lain yang ditetapkan di bawah 35 hari.

Siklus selapanan juga sangat tepat menjadi parameter pelaksanaan kegiatan organisasi NU. Dengan ungkapan itu, hendak disampaikan bahwa seyogyanya dalam kurun waktu 35 hari, jangan tidak ada kegiatan sama sekali. Itu sebabnya mengapa rutinan (kegiatan rutin) baik sekali menjadi bagian dari kegiatan yang ditetapkan oleh organisasi NU pada tingkatan yang ada.

Selapanan rutinan Organisasi NU sebagai pilihan alternatif bagi struktur organisasi NU yang sama sekali belum menggunakannya. Lalu apa format kegiatan yang bisa dilaksanakan? Banyak sekali tentunya. Semua dikembalikan kepada inisiatif pengurus organisasi NU.

Demikian, semoga menambah wawasan untuk kita semuanya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button