Taushiyah

KH Chaudil ‘Ulum: Tawadu’ dan Adab, Kunci Barokahnya Ilmu

KH Chaudil ‘Ulum menyatakan bahwa Tawadu’ dan Adab adalah Kunci Barokahnya Ilmu. Ilmu yang bermanfaat, mendatangkan berkah, bergantung pada sikap tawadu’ dan adab si pembawa ilmu, tak terkecuali para Santri.

Kunci daripada barokahnya  ilmu agama yakni tawadu’ dan adab. Seorang santri yang menimba ilmu harus memiliki kedua sifat tersebut kepada gurunya atau kiainya di pondok pesantren. Sebanyak apapun ilmu yang ia miliki akan tetapi tidak memiliki adab terhadap gurunya, maka tak berarti apapun. Sebab kepintaran tidak menjadikannya barokah. Pentingnya memiliki kunci tersebut menjadi tolak ukur barokahnya ilmu yang didapat.

Lalu bagaimana membentuk santri yang tawadu’ serta beradab? Ulama salaf jaman dulu ketika menerima santri baru, menetralkan hati calon santrinya akan memberikan ujian tertentu sebelum mengaji bersama santri lainnya. Seperti dalam sebuah kisah, ada seorang santri yang ingin mendaftar ngaji di sebuah pondok pesantren salaf, setelah sowan ke pak kiai bukannya disuruh mengaji daftar madrasah, tapi diberi tugas mengisi air bak dengan menimba air.

Setiap hari santri baru ini pekerjaannya hanya mengisi bak air, ketika santri lainnya mengaji namun ia tidak boleh, memang sistemnya harus lewat khidmah dahulu. Pada suatu hari, santri ini menimba air seperti biasanya. Ia melemparkan timbanya ke dalam sumur. Anehnya bukan ember penuh air yang ia dapati, tetapi ember yang penuh dengan emas. Namun ia buang ke dalam sumur, ia tarik kembali timbanya kembali yang ia dapati ember penuh emas, lalu ia buang kembali. Hal itu terus terjadi berulang kali.

Kemudian ia sowan kepada pak kiai “Ya syaikh tadi saya menimba air, tapi ember timba yang saya angkat penuh dengan emas” ucap santri tersebut. Romo kiai kaget dan bertanya “Apa yang kamu lakukan dengan emas itu?”. “Emasnya sudah saya buang, saya tidak butuh emas, yang saya butuhkan air” jawabnya. Lalu Romo kiai langsung tersenyum “Alhamdulillah, sudah bersih santriku, sekarang waktunya mengisi ilmu”.

Bedanya ulama salaf seperti itu, ketika akan memberikan ilmu kepada santrinya harus memastikan hati si santri bersih dari keduniawian. Memastikan ilmu jangan sampai terkontaminasi. Hati santri ibarat wadah yang harus steril. Kalau jaman sekarang ada orang yang mau nyantri diterima saja tidak melihat wadahnya, hatinya. Maka setelah lulus dari pondok tidak semua jadi orang benar. Sebab ilmu yang masuk wadahnya belum siap, belum steril.

Baca Juga: Haul Virtual PP Al Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap

Alloh SWT berfirman, “Niscaya Alloh akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. Seseorang yang derajatnya akan dinaikan oleh Alloh SWT harus bermodal iman, dipoles dengan ilmu, kemudian akan disiapkan derajatnya bagi orang mukmin yang punya ilmu.

Seperti kisah pendiri Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin Kesugihan, beliau KH Badawi Hanafi sewaktu nyantri di Pondok Pesantren Bendo Kediri pekerjaannya hanya mengisi bak air milik kiainya. Beliau mengaji dengan tekun, selalu merasa kurang dalam menuntut ilmu. Keyakinan bahwa ilmu Allah itu tidak akan ada habis-habisnya. Semangat dan tekad beliau yang kuat inilah yang menjadi penyebab Allah menganugerahinya sebagai sosok yang `alim.

Selama 20 tahun beliau mengaji di Bendo, beliau tidak pernah meminta bekal pada kedua orang tuanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama mengaji, beliau hanya bermodalkan sekop semen. Dengan bermodal sekop semen, Mbah Badawi  bekerja sebagai tukang bangunan. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan sampingan di sela-sela beliau menuntut ilmu di pesantren. Dari sinilah beliau mendapatkan upah untuk bekal saat mengaji di pesantren.

Mbah Badawi termasuk santri kesayangan Syekh Khozin. Hingga tiba  saatnya, Syekh Khozin  memerintahkan beliau untuk pulang berdakwah di masyarakat. Untuk ini,  Syekh Khozin mengantarkannya sendiri sampai ke stasiun. Hal ini tidak lain karena beliau adalah santri kesayangannya.

Orang terdahulu memang tidak bisa ditandingi dari segi ilmu maupun ibadah, Tapi  kita jangan berkecil hati. Ibarat gerbong kereta api yang penting terus nyambung tidak pernah putus dengan gerbong depannya. Ketika lokomotif masuk ke stasiun maka gerbong terakhir pun akan masuk ke stasiun. Ketika kita tawadu kepada Ulama maupun Kyai, insyaalloh ketika sang kiai masuk surga dan mendapat ridho Alloh, kita pun sebagai santri akan mendapatkannya.

Artikel ini dirangkum dari video ceramah KH Chaudil ‘Ulum qobla ziaroh haul PP Al Ihya Ulumaddin Kesugihan (12/02/21)

Penulis: Shevilla Dewi Pramudita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

fourteen − 11 =

Back to top button