KH Taufick Hidayatulloh: Inilah 4 Landasan Nilai Puasa: Teologis, Historis, Sosiologis, dan Fisiologis

NU Cilacap Online — Mengapa seorang muslim wajib menunaikan ibadah puasa? Tausiyah Ramadhan KH Taufik Hidayatullah kali ini mengemukakan hikmah puasa secara komprehensif, yang mengandung landasan nilai puasa meliputi aspek teologis, historis spiritual, sosial, dan Fisiologi atau kesehatan. Inilah 4 Landasan Nilai Utama Berpuasa.

Mengawali tausiyahnya KH Taufick Hidayatulloh membeberkan makna puasa dalam pengertian asal-usulnya.

Dijelaskan dalam bahasa Sansekerta, “puasa” dapat diartikan sebagai “upavāsa” (उपवास), yang berarti “diam” atau “menahan diri”. Kata ini serapan yang terdiri dari dua bagian: “upa” (उप) yang berarti “dekat” atau “menuju”, dan “vāsa” (वास) yang berarti “diam” atau “menetap”.

Jauh sebelum kebudayaan Islam, hingga dalam konteks kebudayaan Hindu-Buddha, upavāsa merujuk pada praktik ritual khusus untuk menahan diri dari makanan, minuman, atau aktivitas lainnya untuk tujuan spiritual, seperti meditasi atau laku moksa guna penebusan dosa.

Lalu kemudian kata “puasa” jamak di-Indonesiakan untuk mengartikan kalimat arab yakni “ṣaum” (صوم) atau siam, yang berarti “menahan diri” atau “berpuasa”.

Puasa itu imsak yakni menahan diri dari makan, minum dan jima’ dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari (magrib). Maka untuk apa berpuasa? Apa sih hikmah berpuasa? Ada 4 landasan yakni nilai keagamaan atau teologis, historis spiritual, sosial, dan Fisiologi atau kesehatan.

Sebagaimana dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman;

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah: 183)

أَيَّامًۭا مَّعْدُودَٰتٍۢ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌۭ طَعَامُ مِسْكِينٍۢ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًۭا فَهُوَ خَيْرٌۭ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ١٨٤

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya,1 wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan,2 maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al Baqarah: 184)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang ba-til). Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu; dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur”. (QS. Al Baqarah: 185)

Adapun empat landasan nilai seorang muslim berpuasa berdasarkan surat Al-Baqarah 183-184 sebagai berikut:
1. Landasan Teologis atau nilai keagamaan yakni Iman dan Takwa
Berpuasa diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Berpuasa guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dan mendekatkan diri kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 183)

“Puasa ini diperuntukkan kepasa mereka yang beriman, yakin, percaya, akan adanya kehidupan. Beriman kepada Allah, Iman kepada Malaikat-malaikat, Iman Kepada Kitab-kitab terdahulu, Iman kepada Rasul, Iman kepada Hari Akhir, dan beriman kepada Qada’ dan Qadar.
Maka puasa ini tentu perintah bagi orang yang beriman.” Terangnya.

2. Landasan Historis (Sebelum Islam)
Berpuasa sebagai pengulangan dari apa yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita, “Kama Kutiba”, demikian menunjukkan bahwa puasa bukanlah hal baru dalam sejarah peradaban Islam. (QS. Al-Baqarah: 183)

“Bahwanya sejarah umat manusia terdahulu sebelum Islam datang diwajibkan untuk berpuasa, dalam hal ini, hanya syariatnya yang berbeda.”

Pada orang dahulu ada puasa “mbisu”, pada jaman Nabi Isa AS pun ada puasa 40 hari, orang yahudi juga puasa disetiap yaumu ‘asyuro (10 Muharram), atau ayamilbith (puasa pada hari setiap tengah bulan).

Bahkan pada agama samawi, puasa dalam tradisi orang Jawa juga mengurat akar, seperti puasa mutih (hanya makan nasi), puasa ngerowot (puasa dengan tidak makan nasi), puasa tidak tidur di malam hari “ngalong”, puasa “patigeni” (tidak makan dan minum selama beberapa hari tertentu),

Demikian itu landasan historis puasa tidak hanya wajib bagi umat Islam tapi juga umat terdahulu, namun dalam syariat kita puasa di bolehkan makan, minum, bahkan jima di malam hari ini bukti bahwa Islam menjadi agama yang manusiawi.

3. Nilai Sosiologis (Keseimbangan Sosial)
Berpuasa untuk meningkatkan kesadaran sosial, dan kepedulian terhadap orang lain, terutama mereka yang kurang beruntung. (QS. Al-Baqarah: 184)

Seperti disebutkan “Famankanaminkum Maridon..” jika sakit, maupun dalam bepergian jauh dapat qodo’ (menggantinya diwaktu lain) atau jika tidak mampu, maka bayar fidyah (1 mud: 7 ons),

4. Nilai Fisiologis atau Kesehatan
Berpuasa memiliki manfaat kesehatan dan dapat meningkatkan kualitas hidup (QS. Al-Baqarah: 184-185,)

وَصُومُوا تَصِحُّوا

Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” (HR Ath-Tabrani)

Bahwasannya puasa tidak hanya berfungsi sebagai ibadah spiritual, hadits tersebut mengisyaratkan puasa memiliki manfaat kesehatan secara fisik lahir maupun batin kita.

Secara fisik, berpuasa sangat membantu menjaga kesehatan organ tubuh kita dengan memberikan waktu istirahat bagi pencernaan, pembaruan reproduksi, membuang racun, dan memperkuat metabolisme daya tahan tubuh.
Sedangkan secara batin, berpuasa melatih jiwa menahan hawa nafsu, membersihkan hati, dan memperkuat rohani. Kesehatan batin ini muncul dari kemampuan puasa dalam menundukkan nafsu, melatih kesabaran, dan meningkatkan ketakwaan.

Orang yang berpuasa dengan penuh keikhlasan akan merasakan ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan kekuatan ruhani yang memancarkan cahaya iman.

Maka Puasa tidak hanya menyehatkan tubuh secara lahiriah, tetapi juga memperkuat hubungan spiritual dengan Allah, hingga menjadikan hati bersih dan jiwa semakin dekat kepada-Nya.

Dengan demikian, puasa memiliki nilai yang komprehensif, meliputi aspek teologis, historis spiritual, sosial, dan kesehatan.

Semoga Allah SWT menerima puasa kita, dan segala amaliyah ibadah kita selama bulan ramadhan. Aaamiin. (IHA)

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button