Feature & Figur
Trending

Hijrah dari LDII, Wakafkan Masjid & Kajian Kitab Arba’in Nawawiyah

Hijrah dari LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), lalu melaksanakan niat mulia wakafkan masjid, dan secara rutin dilaksanakan kajian Kitab Arba’in Nawawiyah di Majenang Cilacap. Siapa beliau? Adalah Komjend Pol Purn. Dr. H. Nurfaizi Soewandi, MM. juga menegaskan kembali bahwa dirinya telah Hijrah dari LDII beberapa tahun yang lalu dan kini dirinya aktif berdakwah.

Kota Majenang dibulan suci Ramadhan 1442 H ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, terutama bagi takmir dan jamaah Masjid Syaifurrahman Sindangsari dalam sejarah pertama kali membuka kajian kitab kuning yang memuat puluhan hadist. Kitab yang dimaksud ialah kitab Arba’in Nawawiyah.

Masjid Syaifurahman yang beralamat di Jl. Tanjung Desa Sindangsari Majenang Cilacap merupakan wakaf Komisaris Jendral Polisi Purnawirawan (Komjend Pol Purn.) Dr. H. Nurfaizi Soewandi, MM yang selama ini dikelola oleh Jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang terkesan tertutup oleh publik.

Penggagas kegitan kajian kitab hadits yakni Komisaris Jendral Polisi Purnawirawan (Komjend Pol Purn.) Dr. H. Nurfaizi Soewandi, MM. yang pernah menjabat sebagai Kapolda Jateng, Kapolda Metro Jaya, Kabareskrim Mabes Polri, Ka. BNN dan pernah menjabat sebagai Duta Besar LB dan BP RI untuk Mesir menyatakan bahwa dirinya berinisiasi gelar kajian kitab sebagai upaya membuka wawasan baru bagi jamaah masjid Syaifurahman bahwa Islam itu rahmatal lil’alamin, memberi rahmat bagi semua, terbuka dan toleran pada semua.

“Masjid Syaifurahman ini wakaf saya dan saya ada hak untuk mengarahkan guna menjadikan masjid ini sebagai majlis, tempat untuk ta’lim, ngaji, bertukar kaweruh dan perekat solidaritas antar umat terutama Islam.” tegasnya saat dirinya membuka kegiatan kajian kitab arba’in nawawiyah, pada Sabtu, 17 April 2021 lalu.

Hijrah dari LDII dan Tetap Berdakwah

Mantan duta besar Mesir, Komjend Pol Purn. Dr. H. Nurfaizi Soewandi, MM. juga menegaskan kembali bahwa dirinya telah Hijrah dari LDII beberapa tahun yang lalu dan kini dirinya aktif berdakwah.

Jenderal Nur Faizi Hijrah dari LDII, Wakafkan Masjid & Kajian Kitab Arba'in Nawawiyah
Komjend Pol Purn. Dr. H. Nurfaizi Soewandi, MM. (duduk, nomor 3 dari kanan), setelah Hijrah dari LDII beberapa tahun yang lalu kini aktif berdakwah melalui serangkaian kegiatan di Masjid Syaifurrohman yang diwakafkannya

Hijrah dari LDII tak lantas menyurutkan dakwahnya. Dia memilih melanjutkan melalui kegiatan-kegiatan yang menitik beratkan kepada penguatan ukhuwah Islamiyah, silaturahmi dengan aparat pemerintah, tokoh agama dan masyarakat.

“Maka perlu hadirkan sosok dan kitab yang dikaji. Kajian kitab arba’in Nawawi dipilih dan diampu oleh KH. Achmad Shoim El Amin Bin KH Mustolih Amin, Atau akrab disapa Gus Shoim, sosok Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cilacap ini akan menjelaskan detail dan iapun merupakan salah satu Pengasuh Pesantren Al Ihya’ Ulumuddin Kesugihan Cilacap,” terang Nur Faizi putra pimpinan pasukan Hizbullah Majenang yakni Soewandi.

Perlu diketahui Soewandi nama yang melekat pada dirinya (Nur Faizi) ialah santrinya mbah Sofyan Tsauri yang diijasahi untuk memimpin hisbullloh di jaman berperang meraih kemerdekaan RI.

Baca Juga : Syekh Sufyan Tsauri Cigaru Majenang, Biografi Singkat

“Kegiatan kajian ta’lim tetap di Masjid Syaifurahman, Sindangsari ini, dikandung maksud tidak lain bertujuan merangkul kepada semua ormas dan lembaga keagamaan untuk bersinergi dalam kegiatan dakwah Islamiyyah, saling terbuka, lebih terbuka dan tidak ekslusif untuk kemaslahatan umat.” terang Komjend Pur. Dr. Nur Faizi yang juga Pendiri dan Pembina Yayasan Minhajurrasyidin.

“Kita telah agendakan adanya tindak lanjut, yakni berdasarkan kesepakatan kita bersama untuk masjid syaifurahman dan Pesantren Minhajurrosyidin ini yakni akan diadakan secara rutin kegiatan Majelis Ta’lim, Istighosah Asmaul Husna, dan acara Haul Akbar dikomplek ini.” pungkas Komjend pol Nur Faizi Suwandi, Ketua penyelenggara sekaligus juga Pembina Yayasan Almujahidin Majenang.

Mengutip laman bukamata.media, Masjid Baitul Muiz, Kebayoran Baru, Jaksel, Sabtu (10 April 2021); Masjid itu biasanya hanya digunakan oleh umat Islam dari organisasi LDII. Namun, berkat ikhtiyar Komjen Pol (Purn) Nurfaizi Suwandi, Masjid Baitul Muiz kini bisa digunakan untuk pengajian kaum muslimin non-LDII.

Baca Juga : Tukar Guling Masjid NU – LDII Untuk Kemaslahatan Umat

Nurfaizi mengaku terinspirasi oleh pidato Presiden RI Bapak Joko Widodo pada pembukaan Munas LDII IX 2021. Pak Jokowi secara tegas mengajak warga LDII tak lagi tertutup dan eksklusif. Pak Nurfaizi ingin Masjid Baitul Muiz menjadi pionir impelentasi pidato Pak Jokowi.

KH Amin Jakfar Majenang
KH Amin Jakfar Imam Masjid Mujahidin Kecamatan Majenang (tengah bersorban) turut hadir dalam Kajian Kitab Arbain Nawaiyah di Masjid Wakaf Syaifurrohman Sidangsari Majenang

KH Amin Ja’far selaku Imam besar masjid Mujahidin alun-alun Majenang membekali kegiatan yang digagas oleh Komjen Pol Dr. Nur Faizi tersebut dengan munajat dan doa untuk kemaslahatan bersama. Dalam kesempatan tersebut, hadir sekaligus saksi para pejabat dari unsur pemerintahan Desa maupun Pemda Kab. Cilacap, pengurus LDII, NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, dan juga teman-teman Gusdurian Majenang.

Kajian Kitab Arba’in Nawawiyah

Perlu diketahui bahwa Kajian kitab Arba’in Nawawiyah dihelat disetiap hari sabtu mulai jam 13.00 – selesai. Kegiatan ngaji bareng kitab Hadits Arbain Nawawiyah ini diampu oleh beliau KH Ahmed Shoim El-Amin, LC, MH atau yang lebih Mashur dikenal dengan sapaan Gus Shoim, ulama muda yang genius.

Dalam suatu kesempatan KH Achmad Shoim El-Amin atau Gus Shoim mengatakan kitab Arbaîn Nawawiyah dipilih sebagai kajian lantaran menurutnya kitab tersebut memuat pilar-pilar pokok dalam agama Islam baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), serta hadits-hadits yang berkaitan dengan jihad, zuhud, nasihat, adab, niat-niat yang baik dan semacamnya.

“Kitab bernama Arba’în yang berarti 40, kitab ini tak berarti memuat hadits dengan jumlah persis 40, melainkan 42 hadits.

Hadits-hadits dalam Arbaîn Nawawiyah merupakan landasan atau fondasi dalam beragama Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa ajaran Islam, atau setengahnya, atau sepertiganya berlandaskan pada hadits-hadits dalam kitab ini.” terangnya.

Dia menjelaskan sebagaimana disebutkan dalam mukadimah kitab, Imam Nawawi termotivasi dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Abu Darda, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah, dan Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhum, dari banyak jalur riwayat yang berbeda-beda:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من حفظ على أمتي أربعين حديثاً من أمر دينهابعثه الله يوم القيامة في زمرة الفقهاء والعلماء” وفي رواية: “بعثه الله فقيها عالما،” وفي رواية أبي الدرداء: “وكنت له يوم القيامة شافعا وشهيدا”. وفي رواية ابن مسعود: قيل له: “ادخل من أي أبوب الجنة شئت” وفي رواية ابن عمر “كُتِب في زمرة العلماء وحشر في زمرة الشهداء

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa pun di antara umatku yang menghafal empat puluh hadits terkait perkara agamanya, maka Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat bersama golongan fuqaha dan ulama.”

Dalam riwayat lain: “Allah akan membangkitkannya sebagai seorang yang faqih dan ‘alim.” Dalam riwayat Abu ad-Dardâ: “Maka aku menjadi penolong dan saksi baginya pada hari kiamat nanti.” Dalam riwayat Ibnu Mas’ud: “Dikatakan kepadanya: masuklah kau ke surga melalui pintu mana saja yang kamu kehendaki.” Dalam riwayat Ibnu Umar: “Dia dicatat sebagai golongan ulama dan dikumpulkan pada golongan orang-orang yang syahid.”

Berangkat dari ihwal itu, adapun kita bertanya-tanya, apa sebenarnya motivasi atau maksud Imam an-Nawawi memilih jumlah 40?

Ibnu Daqîq menjelaskan dalam kitabnya, Syarh al-Arba’în an-Nawawiyah, “Hikmah pengkhususan bilangan 40 adalah, karena bilangan 40 merupakan bilang pertama (dalam hadits) yang mempunyai ¼ (seperempat) dari 10 (sepuluh), sebagaimana disebutkan dalam hadits zakat yang harus dizakatkan adalah ¼ (seperempat) dari10, yaitu 2,5%. Demikian juga mengamalkan ¼ seperempat dari 40 hadits akan menjadi perwakilan pengamalan hadits lainnya.” Bisyr al-Hâfi rahimahullah pernah berkata: “Wahai ahlul hadits, amalkanlah setiap satu dari 40 hadits yang ada,” sebagaimana diterangkan Ibn Daqîq, dalam Syarh al-Arba’în an-Nawawiyah, Muassasah ar-Rayyân, cetakan ke-6, 2003, h. 17.

“Kiranya dapat dipahami dalam proses penghimpunannya Imam an-Nawawi berkomitmen untuk menyantumkan hadits-hadits yang shahih saja. Sebagian besar hadits-hadits dalam Arba’în an-Nawawi terdapat dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim.” terang Gus Shoim.

“Walau musonef kitab ini, Imam Nawawi tidak menampilkan sanad secara lengkap, tapi beliau menyebut Sahabat. Hal tersebut dilakukan supaya mudah dihafal dan itu lebih banyak digunakan di tengah-tengah umat.”

“Seperti diketahui kitab ini dimulai dengan mukadimah (pengantar) dari Imam an-Nawawi, selanjutnya adalah hadits-hadits dari awal hingga akhir. Beliau tidak menyebut judul khusus pada hadits-hadits dalam kitab ini, hanya saja disebut hadits pertama, hadits kedua hingga seterusnya. Bagi para pembaca yang langsung merujuk ke kitab aslinya maka akan mendapati demikian, sehingga untuk mengetahui isi pembahasan suatu hadits maka perlu muthola’ah dengan membacanya terlebih dahulu.

Beda halnya jika membaca kitab yang sudah ditahqiq atau syarah kitab ini yang tiap haditsnya sudah diberi tema oleh penerbit.” tambahnya.

Perlu diketahui banyak para ulama yang mensyarah kitab Arba’în Nawawi, di antaranya adalah Syarh al-Arba’în an-Nawawiyah karya Syekh Ibn Daqîd al-‘Aid, al-Wâfi fî Syarh al-Arba’în an-Nawawiyah karya Dr Mustafa Dieb al-Bughâ dan Dr Muhyiddin Mistu, al-Anwâr al-Muhammadiyah Syarh al-Arba’în an-Nawawiyah karya Syekh Hisyam al-Kamil, dan masih banyak lagi.

“Kitab Arba’în Nawawi ini sangat cocok dipelajari bagi semua kalangan, terkhusus bagi yang belum mendalami ilmu hadits dirâyah sehingga tidak perlu repot menelusuri kualitas hadits-haditsnya. Sebab kebanyakan hadits di dalam Arba’în Nawawi dinukil dari Shahîh al-Bukhâri dan Muslim, serta sanad yang tidak disertakan secara lengkap akan memudahkan orang-orang yang hendak menghafalnya.” pungkasnya.

Kajian kitab Arba’in Nawawiyah secara istiqomah bertempat di masjid Syaifurahman Sindangsari Majenang, disetiap akhir pekan, hari sabtu siang jam 13-selesai, kajian kitab ini akan berlanjut hingga khatam. Bahkan kajian kitab ini dipublikasikan melalui live streeming baik siaran langsung Facebook maupun Youtube oleh Pengurus GP Ansor Sindangsari Majenang.

kajian kitab Arbain Nawaiyah
Kajian kitab Arbain Nawaiyah dipublikasikan melalui live streeming baik siaran langsung Facebook maupun Youtube oleh Pengurus GP Ansor Sindangsari Majenang

“Hal ini dilakukan guna merespon kebutuhan masyarakat akan pendalaman ilmu tentang kitab hadits dan mentaati himbauan pemerintah di masa pandemi hindari berkerumun.” terang gus Ashif selalu pimpinan GP Ansor Sindangsari.

Saat berita ini dipublikasikan NUCOM NU Cilacap Official Sites pada Ahad (9/5) kajian kitab Arba’in Nawawiyah baru sampai pada pembahasan hadits ke 4 dari 4 pertemuan. Sekali pertemuan satu hadits, Kitab hadits ini 42 hadits, maka kiranya butuh waktu 42 pertemuan.

Maka silakan bagi saudara saudari kaum mislimin dan mislimatin untuk menambah wawasan keilmuan dan keagamaan bisa menyempatkan waktu turut serta ikuti kajian kitab hadits Arba’in Nawawi bisa datang langsung ke lokasi atau via daring siaran langsung. Semoga bermanfaat bekal hidup dunia dan akherat.

Wallahu A’lam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

13 + two =

Back to top button