Islam Aswaja

Program Mabadi Khaira Ummah Sebagai Sumber Kegiatan NU

Program Mabadi Khaira Ummah dari 5 butir nilai nilai yang sudah ditetapkan menjadi sumber ide program dan kegiatan organisasi NU di seluruh tingkatan pengurus NU yang ada

Keinginan untuk membangkitkan kembali gerakan dan Program Mabadi Khaira Ummah bukan sekedar romantisme sejarah atau demam khittah. Pembangkitan kembali gerakan ini didorong oleh berbagai kebutuhan dan tantangan-tantangan nyata yang dihadapi oleh Nahdlatul Ulama khususnya, serta bangsa dan negara pada umumnya.

Kemiskinan, kelangkaan sumber daya manusia yang handal, kemerosotan budaya dan mencairnya solidaritas sosial, adalah keprihatinan umum masyarakat Indonesia.

Dalam konteks yang lebih sempit, konteks jam’iyyah NU sendiri, lemahnya posisi ekonomi sebagian warga, merosotnya solidaritas internal; juga dan urang berfungsinya tertib organisasi, telah lama menjadi problem serius yang hampir kronis.

Sebagai nilai-nilai universal, butir-butir Mabadi Khaira Ummah memang dapat menjadi jawaban langsung bagi problem sosial masyarakat umum seperti yang di atas. Tetapi, sosialisasi nilai-nilai tersebut harus berawal dari diri sendiri. Dalam hal ini, dari warga NU sendiri.

Lebih jauh, Mabadi Khaira Ummah sebagai seruan moral, tidak akan mencapai sasarannya tanpa dukungan proses politik yang efektif. NU bukan partai politik, tapi tetap mengemban fungsi sebagai kelompok penekan (moral force).

Dalam fungsi ini, NU bertanggung jawab untuk mengemban nilai-nilai Mabadi Khaira Ummah itu sebagai aspirasi moralnya. Tetapi membawa aspirasi kelompok ke dalam proses politik pun menuntut dukungan kekuatan tawar (power bargain) yang memadai. Untuk ini, memerlukan kualitas organisasi yang memadai, karena besarnya kekuatan massa secara kuantitaif saja belum cukup.

Arah Gerakan Mabadi Khaira Ummah

Oleh karenanya, gerakan Mabadi Khaira Ummah ini pertama-tama harus diarahkan kepada konsolidasi internal NU sendiri, dengan mengutamakan dua aspek. Yaitu: pembinaan tata organisasi dan pengembangan kekuatan.

Pembinaan tata organisasi akan mendorong warga untuk tidak sekedar berjamaah, tapi benar-benar berjam’iyyah. Artinya, warga harus menjaga kesatuan gerak dengan nizhâm yang benar-benar menjadi perhatian serius.

Adapun pembinaan kekuatan sosial-ekonomi, di samping bertujuan langsung meningkatkan kesejahteraan warga; berarti pula peningkatan kualitas peran sosial politik NU di tengah masyarakat.

Agar tercapai hasil yang diharapkan, gerakan Mabadi Khaira Ummah ini harus diwujudkan ke dalam pola sosialisasi yang sistemis, disertai media-media aktualisasi yang kongkrit.

Dengan kata lain, hal itu harus menempuh dan melalui rekayasa sosial yang terencana dengan baik dan utuh. Bentuk-bentuk perwujudannya bisa berupa sistem pengkaderan formal, termasuk mekanisme rekruitmen kadernya, proyek-proyek pilot sebagai batu ujian, pelatihan-pelatihan; juga pengembangan jaringan bisnis dan usaha bersama di kalangan warga, dan sebagainya.

Dengan organisasi yang lebih terkonsolidasi, potensi-potensi yang lebih teraktualisasi dan kemampuan sosial yang prima, akan lebih mudah bagi NU dan warganya untuk mendekati citra Mabadi Khaira Ummah dengan melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya secara lebih konsisten dan efektif, da’wah dan amar ma’ruf nahi munkar.

Demikianlah, Program Mabadi Khaira Ummah sangat kaya menjadi sumber kegiatan kegiatan organisasi NU, Lembaga NU bahkan Badan Otonom NU.[ ]

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 × four =

Back to top button