Badan Otonom NU

Fatayat NU Kedungreja Gelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kedungreja mengadakan pelatihan pemulasaraan jenazah di Gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kedungreja, dengan peserta semua kader Fatayat NU Se Kecamatan Kedungreja, Ahad (7/11).

Ketua PAC Fatayat NU Kedungreja Siti Ruqoyah mengatakan bahwa pelatihan pemulasaraan jenazah ini bertujuan untuk menambah ilmu khususnya untuk para kader Fatayat NU. Pembekalan ini, lanjutnya, penting sebagai pengetahuan agar masalah jenazah, khususnya jenazah perempuan, menjadi perhatian kader Fatayat NU Kedungreja.

“Ada tuntutan agar masalah perawatan jenazah perempuan menjadi hal yang harus diperhatikan oleh kaum perempuan. Fatayat NU harus hadir dalam hal tersebut; sebab, bukan tidak mungkin suatu saat dibutuhkan untuk menangani jenazah secara langsung,” ungkap Ruqoyah. 

Mafhum diketahui bahwa kewajiban seorang muslim kepada sesama umat islam yang telah meninggal dunia adalah merawat jenazahnya. Cara merawat jenazah yang disyaritkan Islam adalah memandikan, mengkafani, mensholati dan kemudian mengkuburkan.

Menurut Siti Ruqoyah, kader Fatayat NU penting untuk memperhatikan aspek terpenuhinya syariat Islam dalam pemulasaraan dan perawatan jenazah secara khusus.

“Ada hal-hal khusus yang memang membutuhkan kehadiran kaum perempuan, khususnya dalam pemulasaraan jenazah perempuan. Terutama dalam hal proses mengkafani dan memandikan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Ketua MWCNU Kedungreja, Kiai Samsul Mungin mengatakan, hukum fardu kifayah dalam pemlasaraan jenazah tidak boleh menjadi penghalang untuk setiap orang mau memepaljari dan memahami ilmunya.

“Meski hukumnya fardu kifayah, masing-masing dari kita justeru dituntut untuk mau dan mampu memahami. Ini sebagai antisipasi. Mempelajari dan memahaminya dengan benar, sekaligus mampu melakukannya secara benar sesuai syariat, menjadi tuntutan di masyarakat,” ungkapnya. 

Kiai Samsul Mungin menyambut positif pelatihan pemulasaraan jenazah oleh Fatayat NU Kedungreja. Menurutnya kegiatan tersebut merupakan upaya dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dari kalangan warga Nahdliyin dalam hal pemulasan jenazah.

“Melalui kegiatan inilah kader Fatayat NU Kedungreja diharapkan mempunyai pengetahun serta ilmu yang mumpuni, terutama dalam hal pemlasaraan jenazah,” pungkasnya

Baca Juga

Jenazah Perempuan 

Narasumber Pelatihan Pemulasaraan Jenazah Fatayat NU Kedungreja adalah Wahib Baehaqi. Salah satu kader GP Ansor NU Kedungreja sekaligus penggerak Media Nahdliyin Kedungreja (MNK).

Dalam pemaparannya Wahib Baehaqi menjelaskan bagaimana cara pemulasan jenazah antara laki laki dan perempuan. Menurut Baehaqi, mengafani jenazah laki laki adalah dengan membungkusnya menggunakan kain yang dapat menutupi seluruh angggota badan dan menutup kepala bila si mayit bukan orang yang sedang ihram.

“Sedangkan cara mengafani mayit secara sempurna yaitu jika mayit laki laki ia mengafani dengan mennggunakan tiga lembar kain putih; masing masing kain tersebut berukuran cukup lebar dengan panjang sesuai panjang mayit dan lebar sekiranya bisa untuk membungkus jenazah. Dimakruhkan mengafani mayat dengan menggunakan kain selain warna putih,” katanya.

Tentang mengafani jenazah perempuan, menurut Baehaqi, disunahkan mengafani dangan menggunakan lima kain putih. Kelima kain itu berupa satu helai sarung yang menutupi bagian pusar hingga anggota paling bawah, khimar atau tudung yang menutupi bagian kepala, gamis yang menutupi bagaian kepala, gamis yang menutupi bagain atas hingga dibawahnya sarung, dan lembar kain yang bisa membungkus seluruh jasad mayit.

Cara mengafani mayit sebagaimana diatas, lanjut Baehaqi diperuntukan bagi mayit yang meninggal dalam keadaan tidak sedang berihram.

“Jika si mayit dalam keadaan berihram maka wajiib dibuka bagian kepala ketika itu laki laki dan apabila perempuan maka wajib dibuka bagian wajahnya. Seyogyanya pula pada bagian bagian yang berlubanng pada anggota sujud diberi kapas yang diberi kapur barus dan diikatakan tali dari potongan kain yang nantinya akan dilepas di kuburan,” katanya.

Pelatihan Pemulasaraan Jenazah oleh Fatayat NU Kedungreja diikuti oleh 30 an peserta. Pelaksanaan pelatihan juga dibarengi dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button