Feature & Figur

Urusan Pemulasaraan Jenazah, Jangan Angkat Tangan / Menyerah

Jangan pernah angkat tangan atau menyerah untuk urusan pemulasaraan jenazah.  Pentingnya praktik pemulasaraan jenazah di kalangan warga nahdliyin (NU), disadari oleh pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdltul Ulama (MWCNU) Kawunganten dengan menggelar kegiatan bimbingan teknis pemulasaraan jenazah, Sabtu (3/04/21).

Dalam pandangan masarakat secara umum, saat dihadapkan dengan persoalan pemulasaraan jenazah banyak yang angkat tangan. Ada beberapa faktor penyeabnya, di antaranya karena dilatar belakangi rasa takut saat berhadapan dengan jenazah.

Ada juga yang dilatar belakangi oleh kekurangpahaman tentang praktik pemulasaraan jenazah. Karena itu orang-orang takut salah. Ada juga Sebagian bahkan mengangggap bahwa urusan ini adalah mutlak menjadi tugas kayim. Padahal tidaklah begitu.

Kita tahu bahwa hukum memulasari jenazah adalah fardlu kifayah. Artinya, bila ada salah satu orang sudah melakukan, maka gugurlah kewajiban umat Islam yang lain. Namun bila tidak ada seorang pun dari umat tersebut melakukan, maka seluruh kaum di wilayah tersebut akan terkena dosa.

Baca Juga : Pemulasaraan Jenazah Covid-19, Bagaimana dan Seperti Apa?

4 kewajiban orang hidup terhadap orang mati.

Ada empat kewajiban orang hidup terhadap orang mati, yang pertama memandikan, kedua mengkafani, ketiga menyolatkan, dan keempat menguburkan. Hukum wajib ini berlaku bagi seluruh umat Islam di wilayah di mana orang tersebut meninggal. Jadi tidak menyebut secara khusus yang berwenang menangani jenazah.

Berangkat dari masalah tersebut, pengurus MWCNU Kawunganten merasa perlu untuk memberikan perhatian secara khusus. Untuk itulah bimbingan tehnik pemulasaran jenazah dilaksanakan. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Al-Hidayah Kauman Lama Kawunganten Lor Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap.

Kepada NU Cilacap Online , Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap KH Maslahudin. yang juga tuan rumah sekaligus pengasuh Masjid Kauman Kawunganten menyampaikan apresiasinya.

“Banyak orang takut untuk dekat dengan jenzah. Banyak juga dari mereka tidak paham tentang tatacara dalam mengurus jenazah. Mulai dari memandikan, mengkafani, menshalati, dan mengkuburkan. Begitu juga dengan bacaan-bacaan talqin mereka pun tak paham. Mungkin alasan kedua yang menjadi kendala utama oleh sebagian masyarakat yang enggan bahkan angkat tangan dalam pengurusan jenazah. Mungkin alasan kedua yang menjadi kendala utama oleh sebagian masyarakat muslimat,”terang belaiu.

Lebih lanjut beliau menegaskan, “Maka dari itu, tidak sia-sia MWCNU Kawunganten telah mencurahkan segala upaya dan usahanya untuk memberikan solusi terbaik dalam pengurusan jenazah di kalangan warga Nahdliyin”.

Berlaku sebagai pemateri adalah Rais Syuriyah MWCNU Kawunganten KH Suhud Mawardi. Materi yang disampaikan oleh beliau adalah Bimbingan Tenis Pemulasaraan Jenazah An-Nahdliyah, yaitu Panduan dan Hujjah Amaliah Seputar Merawat Jenazah. Dalam hal ini beliau mengulas secara rinci terkait pengurusan jenazah berikut dengan dalil-dalilnya. Bahkan, bukan hanya untuk mengurus jenazah saja, tapi pra-jenazah saat naza’ (sakaratul maut). Tatacaranya pun disuguhkan tanpa ketinggalan.

“Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh sanak keluarga, tetangga, atau masyarakat umum yang peduli kepada saudaranya sendiri ketika sedang menghadapi sakaratul maut. Salah satunya yaitu dengan menuntun untuk membacakan kalimat tauhid, atau dua kalimat syahadat. Tujuannya agar orang yang akan meninggal tersebut berpeluang meninggal dalam keadaan husnul khatimah,” terangnya.

Baca Juga : Susunan Pengurus MWCNU Kawunganten 2018-2023

Masalah Talqin Jenazah

KH Suhud Mawardi melanjutkan, orang yang meninggal dalam keadan baik maka jaminannya adalah syurga. Hal yang seperti ini memang bukan urusan manusia, tetapi hanya Tuhan yang menentukannya. Namun, manusia bisa berusaha. Salah satunya adalah dengan melakukan talqin.

Talqin adalah mengajarkan atau menuntun eseorang yang tengah naza’ atau menghadapi sakaraotul maut untuk membaca “La ilaa ha illalloh”. Talqin juga dibacakan terhadap orang yang baru saja dikubur dengan kalimat tertentu. Selain itu juga bisa dengan membacakan surah Yasin agar jiwanya menjadi tenang dan damai menghadapi kematian

Kegiatan yang diikuti oleh kader Ansor, Fatayat dan Muslimat ranting Kawunganten lor ini berjalan dengan lancar. Tampak peserta mengikuti jalannya bimtek dengan antusias sampai acara berakhir.

Konributor: Sochibul Faih (Info Media NU Kawunganten)
Penyunting: Naeli Rokhmah

One Comment

  1. Terimakasih mbak Nelly atas artikelnya, semoga kedepan PCNU dapat menyelenggarakan pelatihan pemulasaraan jenazah agar semua mwc dapat mengikuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

twelve + 11 =

Pilih Artiikel Menarik Lainnya
Close
Back to top button