Esai Opini Wawasan

Mengukur Umur, Ilmu dan Rizki Yang Berkah Atau Barakah

Dalam kajian tasawuf Imam Ghazali mengatakan berkah lebih disandarkan kata  manfaat dan bertambah kebaikan. Dalam realitas kita sering mengatakan bahwa ilmu yang berkah, rizki yang berkah dan umur usia yang berkah. Maka konsep dalam al Qur’an sendiri tidak disebutkan secara eksplisit namun mempunyai terminologi atau kata yang eksplisit. Secara harfiah term berkah mempunyai panduan usaha, proses dan hasil kemudian pemanfaatan. Dalam konteks ini akan membahas rizki dalam arti bukan hanya bersifat materi semata, namun konsep rizki yang dimaksud disini adalah segala hal yang terkait pemberian Allah Swt.

Ada tiga konsep yang akan dibahas dalam ulasan  tulisan ini, bagaimana memaknai Rizki yang berkah dalam tiga aspek kehidupan. Yang meliputi umur atau usia, ilmu dan rizki yang berkah :

1. Umur atau usia.

Umur Usia Yang Berkah Barakah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh at Tirmizi Rasululluah bersabda “umur yang yang berkah adalah orang yang panjang umurnya dan baik pekertinya atau perilakunya” dalam hadis tersebut memberikan isyarah bahwa umur yang panjang bukan berarti diukur dari kuantitas atau jumlahnya,  karena  umur yang panjang adalah diukur dari seorang manusia hidup sampai ajal menjemput. Maka  Dalam hal ini  panjangnya umur seorang  manusia diukur secara kualitatif atau kualitatas yang diperoleh dirinya dalam merajut waktu hidup menjadi kemanfaatan dan kebaikan untuk diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar.

Sehingga konsep berkah ini merupakan bagian dari perpanjangan tangan untuk menggapai kehidupan yang diliputi rasa kemanfaatan. Dalam hal ini Allah telah memeberikan pilihan kepada manusia untuk memilih kebaikan dan kemudaharatan dalam kehidupan, pilihan tersebut terletak kepada akal manusia sebagai media utama.

Untuk menyempurnakan akal tersebut kemudian Allah memberikan anjuran untuk terus belajar dan mengejar prestasi sebagaimana disebutkan dalam Q.s al Mujadalah ayat 11 yang mengandung pesan  “ Allah akan mengangkat derajat atau tingkatan manusia berdasarkan ilmu yang diperolehnya” artinya ukuran atau measurable yang dijadikan patokan adalah pengembangan diri dalam hidup dengan sebuah proses belajar yang berkesinambungan atau disebutkan dengan “ fastabiqul khairat” berlomba – lomba dalam kebaikan. Di sini umur usia yang berkah bisa terukur.

2.Ilmu

Ilmu Yang Berkah Barakah. Ilmu dikatakan berkah jika mampu membawa kualitas diri menjadi lebih baik, berperilaku baik, dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Kemudian indicator untuk ilmu yang berkah adalah keberadaanya mampu dirasakan oleh orang lain dari gagasan, ajaran dan perilaku yang dilakukan oleh dirinya dalam mengembangkan keilmuan. Dalam sebuah hadis ukuran ilmu yang berkah atau bermanfaat disebutkan “ Khoirun nas anfa’uhum lil nas” sebaiknya – baiknya kamu adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Keberkahan Ilmu dilihat dari perangai diri sebagaimana  disebutkan dalam Q.s al Qalam ayat  4 tugas utama “Rasulullah diutus untuk manusia sebagai  pembawa akhlak yang mulia “ maka dari itu ilmu yang berkah banyak mengandung kebajikan dan kebijaksanaan dalam hidup. Membewa perubahan diri secara individu kemudian mampu mnegajarkan kebaikan kepada orang lain serta menjauhi rasa merendahkan orang lain dan rasa sombong. Karena ilmu yang berkah diibaratkan sebuah cahaya yang mampu menyinari diri sendiri dan memberi penerangan serta keindahan, kemudahan kepada orag lain sehingga keluar dari kebodohan dan kegelapan ketidaktahuan. Maka dari itu Rasulullah menganjurkan untuk menyampaikan ilmu kepada orang lain walaupun satu ayat.

Baca Juga : Tawadhu dan Adab, Kunci Berkahnya Ilmu

Selain itu ilmu yang berkah juga harus dicari dengan cara yang baik, sebagaimana kosep menutut ilmu menurut Burhanudin azZarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’alim yang meliputu: Niat menghilangkan kebodohan  (Dzukain), rasa ingin tahu  yang mendorong untuk terus semnagat belajar(Khirsin), melakukan proses belajar dan susahnya mengalami proses tersebut (Istibarin), menyediakan anggaran atau biaya untuk keperluan belajar (Bulghatin). Dan ketaatan terhadap perintah kebaikan dari guru  (Irsyadu ustadzin) dan Waktu yang lama tanpa batas selama kita hidup ( Tuluz Zaman).

3.Rizki yang berkah

Rizki Yang Berkah Barakah. Rizki yang berkah menurut teori ekonomi Islam adalah rizki yang diperoleh dari cara yang halal., dimanfaatkan untuk kebaikan. Lalu bagaimana cara mengukur rizki yang diberikan Allah adalah Rizki yang halal dan berkah? Daam islam setidaknya ada tiga ukuran untuk mempereoleh kebaikan dalam keberkahan rizki yang diberikan oleh Allah kepada kita yang meliputi:

  1. Ketaqwaan ; Rizki yang berkah mendekatkan diri kepada Allah, ketika bekerja selalu melibatkan Allah, tidak melupakan atau meninggalkan ibadah ketika bekerja, ketika bekerja beriorientasi hasil dalam kedisplinan serta tidak memanfaatkan waktu bekerja untuk membolos dan bermalas – malasan.
  2. Tasaruf ; pemanfaatan untuk kebaikan dengan pola manajemen diri dan keuangan yang tettata dan sistematis, megutamakan kebutuhan primer sesuai kadar dan kebutuhan misalnya: Sandang, papan, pangan dan pendidikan diukur dan dipalnning sebaik mungkin sehingga rasa kebutuhan pokok yang terpenuhis esuai dengan kadar kebutuhan dan kemampuan yang seimbang akan menjadikan hidup tentram. dan jika hal ini tercapai maka ketentaraman dan kedamaian hati akan jauh dari sifat iri, dengki dan hasud yang kemudian mendorong kepada sifat keserakahan ayau mengambil hak orang lain seperti korupsi.
  3. Syukur ; Dalam al Qur’an disebutkan dalam q.s Ibrahim ayat 7 “ Barang siapa yang bersyukur kepadaKU (Allah) niscaya aku akan menambah nikmatKU”. Rasa Syukur adaah rasa merima kasih kepada Allah atas anugerah yang telah diberikan kepada kita. Perwujudan rasa syukur tersebut antara lain adalah menggunakan rizki kita berupa misal Uang gajian, hasil panen dibagikan untuk meningkatkan taraf hidup orang lain melalui infak dan sodaqoh. Rasa syukur dalam rizki yang dimiliki mempunyai orientasi atau tujuan nilai “Ta’awanu” tolong menolong dengan sesama.

Akhirnya , Allah memberikan anugerah rizki umur digunakan untuk kebaikan dan kebaikan tersebut diperoleh hanya dengan ilmu, sementara ilmu harus diperoleh dengan rizki atau biaya. Maka ketiga hal ini akan menjadi daur keberkahan hidup jika kita mampu mengatur, mengelola dan mendistribusikan rizki Allah dalam kehidupan.

Dan ingat bahwa, setiap rizki yang Allah berikan memopunyai kadar atau ukuran sesuai dengan kebutuhan, maka untuk menuntut maka perlu mengelola kesadaran diri agar mejauhi sifat serakah yang akan menimbulkan perilaku Madzmumah, sebagaimana pesan al Qu’an dalam Q.s al Baqarah ayat 286 “ La Yukalifullahu nafsan Illa wus’aha laha makasabat wa’alaiha maktasabat ” dan Allah tidak akan memberikan rizki sesuai dengan kemampuan kerja dan kebutuhan kita.

Semoga senantiasa kita mampu memperoleh keberkahan hidup dunia akhirat.

Penulis: Mafoel Pratama, Wakil Ketua PC GP Ansor Cilacap
Editor: Mungalim-Media Bantarsari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

5 × 2 =

Pilih Artiikel Menarik Lainnya
Close
Back to top button