Trending

Saat Mbah Abdul Hamid Kajoran Tafsirkan Pancasila

NU CILACAP ONLINE – Pancasila adalah produk pemikiran (ijtihad) dari para ulama Nusantara sebagai menifestasi atas ajaran dan nilai-nilai Islam. Mbah Abdul Hamid Kajoran adalah salah satu dari ulama itu. Bagaimana tafsir Pancasila menurut Mbah Abdul Hamid Kajoran ?

Mbah Abdul Hamid merupakan salah satu murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan; Ulama kharismatik yang Pancasilais. Bahkan menurut keterangan beberapa Kiai sepuh, Bung Karno sempat beberapa kali diskusi soal Pancasila dan Islam dengan Mbah Abdul Hamid dan Mbah Wahab (Wahab Chasbullah).

Tidak banyak publikasi yang meriwayatkan atau sebauah biografi dari Mbah Abdul Hamid. Untuk menambah referensi; Makam Mbah Abdul Hamid Kajoran terletak di Tuguran, Banjaragung, Kajoran, Magelang, Jawa Tengah. Berikut tulisan yang berkaitan dengan mbah Abdul Hamid Kajoran.

Mbah Abdul Hamid dan Pancasila

Ada proses dialog yang intens di kalangan ulama dan tokoh NU sebelum menerima Pancasila sebagai azas tunggal dalam berbangsa dan bernegara.

Dialog tidak hanya dilakukan di forum-forum formal ilmiah akademik yang mengeksplorasi argumen dan gagasan rasional. Tetapi juga di forum non formal seperti silaturrahim dan anjangsana. Juga forum mujahadah dan riyadloh yang mengeksplorasi aspek batiniah spiritual.

Salah satu forum tabayyun dan dialog informal mengenai kajian terhadap azas tunggal Pancasila berasal dari Gus Amin Hamid Kajoran, putra Kiai Hamid Kajoran (alm). Yang menjadi saksi sejarah atas peristiwa yang monumental ini.

Diceritakan oleh Gus Amin, pada suatu hari ada beberapa Kiai yang sowan menghadap Kiai Hamid Kajoran. Di antaranya Kiai Ali Maksum Krapyak Yogyakarta; Kiai Mujib Ridwan Surabaya dan Kiai Imron Hamzah Surabaya. Ada juga waktu itu Kiai Fauzi Bandung yang datang berkendara dan disopiri oleh Kiai Saeful Mujab Yogyakarta.

Kiai Ali Maksum adalah salah satu anggota tim bentukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang bertugas untuk melakukan kajian mengenai azas tunggal Pancasila. Tim ini diketuai KH Ahmad Shiddiq dengan anggota Kiai Mahrus Aly Lirboyo, Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Kiai Masykur Malang dan Kiai Ali Maksum Krapyak.

Para Kiai ini menyampaikan kepada Mbah Abdul Hamid Kajoran. Bahwa ada upaya pemaksaan dari pemerintahan Soeharto untuk menerapkan Pancasila sebagai azas tunggal.

Mendengar pernyataan ini Mbah Abdul Hamid Kajoran langsung menjawab:, “Lho, koq pemaksaan? Pancasila itu kan milik kita, hasil ijtihad-nya para ulama dan Kiai kita, terutama Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Lha, kalo sekarang mau dijadikan azas tunggal ya Alhamdulillah. Itu artinya dikembalikan ke kita, koq malah kita merasa dipaksa.”

Ketuhanan dan Kemanusiaan

Mendengar jawaban Mbah Abdul Hamid ini, semua tertegun. Kemudian Kiai Ali bertanya, “Ini tafsirnya bagaimana?”

Atas pertanyaan ini kemudian Mbah Abdul Hamid Kajoran menjelaskan soal sejarah dan tafsir Pancasila menurut ulama NU.

Dijelaskan banwa Pancasila merupakan penjelmaan (sublimasi) ajaran Islam yang mentautkan syariah, aqidah dan tasawuf.

“Oleh karenanya kita bisa menjalankan dua sila saja dari Pancasila secara konsisten dan benar, Insya Allah kita bisa menjadi wali,” demikian Kiai Hamid Kajoran menjelaskan dua sila tersebut adalah sila Ketuhanan dan Kemanusiaan.

Mengamalkan sila Ketuhanan artinya kita memahami dan mengerti Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya, perintah dan laranganNya. Sedangkan mengamalkan sila kemanusiaan artinya kita harus “mengerti manusia”, “memanusiakan manusia” dan “merasa sebagai manusia”.

Kemudian Mbah Abdul Hamid menjelaskan tafsirnya secara detail dengan perspektif syariah dan tasawuf. Ketika penafsiran sampai pada pengertian “merasa manusia”, Kiai Ali Maksum menangis.

Baca juga NU Ditekan Tapi Tetap Menjalankan Pancasila

Alasan NU Menerima Pancasila

Dari penggalan kisah ini dapat terlihat bahwa:

Pertama, Pancasila merupakan produk pemikiran (ijtihad) dari para ulama Nusantara sebagai menivestasi atas ajaran dan nilai-nilai Islam.

Kedua, sikap NU menerima Pancasila sebagai azas bukan merupakan sikap keterpaksaan karena adanya tekanan politik. Atau sekedar langkah taktis politik menghadapi tekanan, tetapi merupakan langkah ideologis.

Ketiga, sebagai bagian dari kelompok yang ikut merumuskan Pancasila, NU mengerti sejarah yang menjadi “asbabul wurud” dari Pancasila. Dengan segenap spirit dan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Oleh karenanya NU memiliki tafsir terhadap sila-sila Pancasila yang sesuai dengan syariat dan tasawuf Islam.

Keempat, penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal oleh NU dilakukan setelah melalui berbagai kajian dan upaya riyadloh lahir batin. Sebagaimana yang dilakukan para masayikh NU saat menerima Pancasila sebagai Dasar Negara. Jadi sama sekali bukan keterpaksaan.

Kelima, NU adalah ormas Islam pertama yang menerima azas tunggal Pancasila. Ini artinya NU menjadi pelopor penerimaan azas tunggal. Secara nalar sikap kepeloporan seperti tidak akan muncul karena terpaksa tapi karena kajian yang matang dan hujjah yang kuat.

Dan para Kiai yang ikhlas dan alim tak akan mungkin mau dipaksa menerima atau menolak sesuatu. Apalagi yang terkait dengan masalah agama. Simak Pidato Presiden Soekarno 1 Juni 1945.

Untuk memperkuat argumen ini bisa dilihat dalam risalah Kiai Ahmad Shiddiq setebal 34 halaman yang dipresentasikan di hadapan Munas Alim Ulama di Situbondo tahun 1983. Di sini disebutkan banwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, secara substansial Pancasila sangat islami.

Bahkan butir-butir dari Pancasila adalah wujud dari nilai-nilai Islam. Sila pertamanya mencerminkan tauhid, sedangkan sila-sila lainnya representasi dari syariat. Dalam naskah ini tak ada satupun argumen politis yang mencerminkan keterpaksaan NU menerima azas tunggal Pancasila. (Naeli Rokhmah)

Baca juga Agama dan Pancasila Bukanlah Sesuatu yang Bertentangan

Sumber : Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button